
“Bibir mungkin bisa berbohong, tapi tatapan mata dan tingkah laku akan sulit untuk berbohong. Tidak usah menyangkalnya, aku bisa melihatnya dengan jelas sejak dua tahun lalu. Tapi aku memilih untuk diam karena kamu juga hanya menyukainya dalam diam, hanya melalui tatapan matamu yang selalu terpaku pada Chiara saat dia di dekatmu. Tapi tadi di depan tante Sarah, kamu mulai menunjukkan tanda-tanda itu. Dan bagiku, itu akan sangat berbahaya. Itu akan menyakiti tante Sarah jika tahu kamu begitu menyukai kakak iparmu sendiri. Dan sebagai keponakan yang tahu baiknya tante Sarah, aku tidak rela jika karena hal ini kamu menyakitinya.” Diego berkata sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana pendeknya, mencoba bersikap santai, agar Grayson tidak merasa terpojok dengan kata-katanya.
“Aku tahu, sangat sulit bagi pria normal untuk tidak tertarik dengan pesona Chiara. Tapi kita berdua harus ingat, kalau gadis itu sudah menjadi milik Aaron, kita tidak boleh mengusiknya.” Diego kembali memberikan nasehat kepada Grayson.
“Jujur saja aku juga pernah begitu tertarik dengan Chiara, dari pertama kali aku melihat sosoknya yang cantik dan imut. Dan aku sempat berpikir kalau Aaron menikahinya hanya karena kasihan, terkait urusannya dengan Romi. Tapi aku melihat, sedari awal, ternyata Aaron sangat menyukai Chiara, dan itu terlihat jelas dari cara dia melindungi dan memberikan semua yang terbaik untuk Chiara selama ini. Bagi Aaron, Chiara benar-benar istrinya, bukan sekedar gadis yang sekedar lewat sambil lalu di kehidupannya.” Diego berkata panjang lebar untuk membuat pikiran Grayson terbuka.
“Jangan menasehatiku dan bersikap sok dewasa seperti Aaron. Kamu jadi bukan seperti Diego yang biasanya.” Grayson berkata sambil menjauhkan wajahnya dari jangkauan tatapan mata Diego, seolah takut Diego semakin bisa membaca pikiran dan melihat isi hatinya lewat wajahnya.
Diego yang biasanya memang jarang sekali bersikap serius, hanya bisa menyungingkan senyumnya mendengar kata-kata ejekan dari Grayson.
“Semua keputusan ada di tanganmu. Aku hanya bisa memberikan masukan padamu. Dan sebaiknya kamu segera berbaikan dengan Aaron. Karena masalah Jasmine, aku yakin, semua itu bukan kesalahan Aaron. Jangan terlalu keras padanya, dia benar-benar menyayangimu seperti adik kandungnya sendiri. Percayalah padaku, Aaron adalah laki-laki baik yang bertanggung jawab, dan menyayangi keluarganya, meskipun dari luar, sikapnya terlihat dingin dan datar.” Diego berkata sambil menepuk-nepuk pelan bahu Grayson.
“Tolong pikirkan baik-baik, jangan sampai kamu menyesal dengan apapun yang akan kamu putuskan ke depannya. Jangan menyakiti orang-orang di sekitarmu, baik Aaron, Tante Sarah, termasuk juga Chiara.” Diego berkata pelan, lalu berlalu pergi dari hadapan Grayson yang terlihat merenung.
Mau tidak mau, kata-kata Diego membuat Grayson mulai berpikir tentang itu, dan membuatnya menarik nafas dalam-dalam, untuk menenangkan pikirannya.
Dia memang wanita milik Aaron. Sejak awal aku sudah tahu tentang itu, tapi kenapa aku tetap tidak bisa merelakannya, dan tetap begitu menyukainya? Dia satu-satunya gadis yang bisa membuat hatiku terasa hangat dan ceria, bisa sedikit melupakan rasa sakit di hatiku setiap mengingat tentang Jasmine.
Grayson berkata dalam hati sambil menutup kedua matanya, berharap rasa sakit setiap mengenang tentang Jasmine bisa sedikit berkurang, meskipun rasa bencinya pada Aaron terus mengendap dalam hatinya.
# # # # # # # #
“Pak Zac, sebenarnya kenapa Pak Zac mengajakku pergi? Apa untuk menghindari kemarahan mama Sarah?” Chiara yang berjalan di samping Zachary, dengan Aaron yang mengiringinya bertanya kepada Zachary yang sejak keluar dari bangunan villa utama tempat mereka baru bertemu dengan yang lain memilih untuk diam.
"Mama Sarah ini ternyata tidak mudah untuk dikelabui." Chiara berkata sambil menghela nafasnya, karena tidak menyangka tindakannya dengan Aaron yang pura-pura tidur sekamar akhirnya ketahuan juga oleh Sarah kalau itu hanya sandiwara sementara saja.
“Hah… aku juga tidak ingin membuat mama Sarah marah. Padahal waktu itu aku dan Om Aaron sudah berusaha membuat mereka tidak tahu kami tidur terpisah.” Dengan polosnya Chiara berkata, membuat Aaron berdehem pelan karena kata-kata Chiara, yang dianggapnya terlalu polos itu, sehingga tidak sadar mengucapkan kata-kata seperti itu di depan Zachary.
"Kak Chiara...." Suara ceria Lila yang tadinya sedang asyik menikmati snack di ruang tamu bangunan villa yang lain langsung terdengar menyapa Chiara yang segera tersenyum lebar mendengar sapaan dari gadis kecil, putri dari Zachary itu.
"Hallo Lila." Chiara langung membalas sapaan hangat dari Lila, sambil membungkukkan tubuhnya, lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut Lila yang langsung tertawa senang mendapatkan perlakuan hangat dari Lila.
"Akhirnya Kak Chiara datang juga. Lila sudah menunggu lama lho. Lihat itu, Lila sampai sudah menghabiskan dua bungkus snack, dan satu botol susu segar." Aaron yang mendengar dua kali Lila menyebutkan nama Chiara dengan sebutan kakak, sedikit mengernyitkan dahinya.
Dan tindakan Aaron itu sempat dilihat oleh Zachary yang langsung mendekat ke arah Aaron.
"Maaf Pak Aaron, anak saya memanggil nona dengan sebutan kakak. Itu, nona Chiara sendiri yang memintanya." Zachary berkata dengan nada pelan.
Mendengar penjelasan dari Zachary, Aaron langsung mengangukkan kepalanya.
Jika itu adalah permintaan dari Chiara sendiri, bagaimana Aaron bisa mempertanyakan, apalagi keberatan dengan hal itu lagi?
"Iya... padahal Om Aaron sudah menyetir dengan kecepatan tinggi lho." Chiara berkata sambil terkikik, membuat Lila ikut tertawa.
Aaron sendiri tampak mengernyitkan dahinya kembali begitu di depan Lila, Aaron mendengar Chiara yang menyebutkan dengan sebutan om untuknya, sedang untuk Chiara sendiri, disebutkan dengan sebutan kak Anna.