
Sedang Aaron sendiri langsung melongo mendengar permintaan dari Chiara yang baginya terlihat aneh, sangat jauh berbeda dari apa yang tadi sempat dipikirkan.
Sebuah pikiran yang terus terang memang lebih mengarah ke hal yang diperuntukkan orang-orang dewasa, karena dengan usianya yang sekarang, sangat maklum jika pikirannya seabgai laki-laki normal dewasa mengarah ke sana.
Tapi mengingat bagaimana mudanya usia Chiara, Aaron jadi maklum kalau tiba-tiba saja Chiara meminta hal seperti itu.
Gadis remaja sesusia Chiara, sangat umum kalau jiwa kekanak-kanakannya tiba-tiba muncul, apalagi jika itu berkaitan dengan film ataupun drama romantis, yang kadang menceritakan tentang seorang dengan kemampuan diluar manusia pada umumnya.
Mau tidak mau, permintaan Chiara mengingatkan Aaron tentang sosok Jasmine, adik tirinya, yang begitu suka menonton film Superman dan juga Marvel, yang menceritakan tentang para superhero pembela kebenaran yang dielu-elukan oleh banyak orang.
Bahkan dulu ketika semasa hidupnya, Jasmine seringkali meminta Aaron menemaninya untuk menonton di bioskop jika ada film fiksi tentang superhero yang sedang tayang.
Meskipun Aaron bukan kakak kandung Jasmine, tapi bagi Jasmine, dia lebih senang jika ditemani oleh Aaron, dan hubungan mereka juga cukup dekat seperti saudara kandung.
Apalagi Sarah memang sejak kecil tidak pernah membeda-bedakan perlakuannya antara Aaron dan anak-anak kandungnya.
“Cerita tentang Om Aaron, mengingatkanku pada film Superman, yang sangat aku sukai sejak kecil. Meskipun sebenarnya…. Om Aaron jauh lebih tampan dari Christopher Reeves, tokoh Superman paling tampan menurut versiku.” Chiara berkata kepada Aaron dengan wajah memerah dan nada suara malu-malu karena permintaannya yang dia sadar mungkin terdengar sedikit kekanak-kanakan.
(Sosok Superman sudah sangat melekat dengan Christopher Reeve. Tidak semua pemeran tokoh Suoerman punya karisma seperti Christoper Reeve).
"Ehemn...." Perkataan Chiara membuat Aaron berdehem pelan, dan membuat wajah Aaron terasa sedikit memanas.
Sikap polos dan wajah berharap Chiara benar-benar membuat Aaron tidak bisa mengatakan tidak untuk pemintaan istri kecilnya itu.
Akhirnya tanpa menjawab permintaan Chiara, Aaron meraih pergelangan tangan Chiara, dan mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.
Dengan sikap ragu, Chiara hanya bisa mengikuti langkah Aaron yang masuk ke dalam kamarnya, dan langsung mengunci pintu itu, membuat dada Chiara berdetak dengan keras.
Eh, apa maksud om Aaron? Kenapa harus mengunci pintu segala? Apa om Aaron salah faham dengan apa yang aku minta barusan ya?
Chiara bertanya-tanya dalam hati, dengan pikirannya yang mulai berkelana, membayangkan bagaimana kalau tiba-tiba saja, Aaron meminta haknya sebagai suami, sedangkan dia belum siap melakukan hal seperti itu saat ini.
Dan bukan hanya belum siap, tapi Chiara jelas-jelas tidak tahu bagaimana cara melakukan hal semacam itu, meskipun saat itu Grace berusaha menjelaskan kepadanya secara gamblang.
"Mmmm.... Om Aaron...." Chiara yang melihat Aaron yang baru saja mengunci pintu kamarnya, langsung memanggil nama Aaron dengan sikap terlihat ragu.
(Cylinder, bagian ini lebih dikenal sebagai lubang untuk memasukkan kunci. Namun, bukan hanya sebagai lubang kunci saja, cylinder ini juga berpengaruh terhadap sistem penguncian pintu. Karena memiliki peran yang penting, maka komponen ini harus memiliki kualitas baik.
Bahan penyusun cylinder yang baik ini adalah material yang berasal dari kuningan. Dengan menggunakan material ini, cylinder tidak akan mudah berkarat sehingga lebih awet dan tahan lama. Kunci pun akan lebih mudah dimasukkan dan diputar ketika cylinder yang digunakan berkualitas.
Jika seseorang sudah merasa kunci sulit masuk dan sulit diputar, maka bisa saja terjadi kerusakan pada bagian cylinder).
"Kalau aku tidak mengunci pintu, bagaimana kalau ada yang tiba-tiba datang dan mengetuk, lalu membuka pintu pada saat aku mengeluarkan kekuatanku?" Seolah bisa membaca pikiran Chiara, Aaron langsung berkata sambil tersenyum, membuat wajah Chiara merah padam karena malu, ketahuan sedang memikirkan hal yang bukan-bukan, dan sudah seikit salah faham dengan tindakan Aaron barusan.
"Ayo, kemarilah...." Aaron langsung mengajak Chiara mendekat ke arah jendela kamarnya, untuk menghilangkan rasa canggung diantara mereka akibat pemikiran Chiara barusan.
Dengan gerakan cepat, Aaron langsung meraih remote untuk membuka jendela kamarnya yang langsung bergeser ke kanan dan ke kiri begitu Aaron memencet tombol bertuliskan open.
"Pemandangan dari jendela kamar Om Aaron memang benar-benar menakjubkan." Chiara berkata dengan mata menatap takjub ke arah pemandangan yang tersaji di luar jendela kamar Aaron.
Boleh dibilang sudah berkali-kali Chiara menikmati pemandangan lewat jendela itu saat Aaron ada di Amerika, tapi tetap saja itu membuatnya kagum.
"Aku suka sekali pemandangan dari tempat tinggi seperti ini." Chiara berkata sambil berdiri di tembok pembatas yang ada di balkon kamar Aaron.
"Tunggu disini sebentar. Aku akan berganti pakaian." Aaron berkata pelan kepada Chiara yang langsung menoleh ke arahnya.
"Eh... Om Aaron...." Chiara yang berniat menanyakan kenapa Aaron berencana berganti pakaian langsung menghentikan bicaranya, karena dilihatnya dengan kecepatan supernya, Aaron sudah masuk ke dalam walk in closet.
Bahkan hanya dalam hitungan detik, Aaron sudah kembali berdiri di samping Chiara.
Chiara tampak mengernyitkan dahinya melihat penampilan Aaron dengan pakaian yang bukan seperti pada umumnya.
Pakaian dengan bahan khusus yang diciptakan oleh George agar saat Aaron bergerak dengan kecepatan tinggi kulit tubuhnya tidak terluka karena gesekan dengan udara.
Melihat penampilan berbeda dari Aaron yang baru pertama kalinya dilihat oleh Chiara itu, membuat Chiara tersenyum lebar.
Apalagi topeng yang menutupi setengah dari wajah Aaron di bagian atas, membuat Chiara kembali teringat dengan sosok laki-laki muda yang sudah menyelamatkannya dari kecelakaan maut 7 tahun yang lalu, dan mendekapnya dengan begitu erat saat itu, seperti seorang pria yang sedang memeluk tubuh kekasih yang begitu dicintainya.