Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
TAMU TAK DIUNDANG



“Ehemmm…” Sebuah deheman pelan langsung terdengar dari bibir Aaron yang hampir tersedak oleh ludahnya sendiri.


Bagi Aaron, Chiara adalah satu-satunya gadis yang ucapannya seringkali membuat Aaron merasa kaget sekaligus salah tingkah, meskipun kata-kata Chiara hanya sederhana, dan hanya berusaha menyampaiakan apa yang ada di pikirannya dengan tanpa ragu.


Dan kata-kata sederhana itu justru membuat wajah Aaron menjadi merah, dan baginya, untuk sekedar menelan ludahnya terasa begoitu sulit setelah mendengar kata-kata Chiara yang bagi Aaron, berpadu antara kata-kata pujian dan rayuan.


Meskipun sebelum-sebelumnya setiap kata rayuan dan gerakan tubuh dari Angelina seringkali dia lihat dan dengar, tapi tidak sekalipun membuat tubuh Aaron memberikan respon.


Tapi kata-kata dari Chiara barusan, benar-benar membuat harinya bergetar hebat.


Dan jika saja saat ini dia sedang tidak di belakang setir mobil, rasanya Aaron ingin segera menarik tubuh Chiara ke arahnya, mendekapnya dengan erat, dan tentu saja menikmati manisnya bibir mungil istrinya yang selama beberapa hari ini selalu menemaninya, dan membuatnya tanpa bosan-bosannya menikmati bibir yang selalu menggoda baginya itu.


Bukan hanya itu saja, rasanya bagi Aaron, dia ingin sekali membawa Chiara kembali menikmati indahnya surga dunia kembali.


Dan itu membuat tanpa sadar, Aaron menambah kecepatan mobilnya, membuat Zachary dan Diego yang berada di belakang mobil Aaron menjadi bertanya-tanya apa yang sudah terjadi.


“Eh… Om Aaron… ! Terlalu cepat mobilnya…!” Chiara spontan berteriak kecil begitu menyadari kalau laju mobil yang sedang ditumpanginya tiba-tiba naik kecepatannya, dan diluar kecepatan normal yang biasa dia tahu.


“Ah… maaf….” Dengan buru-buru Aaron langsung mengurangi kembali kecepatan mobilnya begitu mendengar peringatan dari Chiara.


“Kenapa Om Aaron tiba-tiba mengebut? Apa ada hal penting yang harus segara Om Aaron lakukan?” Setelah kecepatan mobil kembali normal, Chiara langsung bertanya dengan wajah terlihat penasaran.


“Eh, itu… ya… ada sesuatu yang penting yang ingin aku lakukan.” Aaron berkata sambil menatap lurus ke arah depan, supaya Chiara tidak bisa melihat bagaimana kikuknya Aaron saat menjawab pertanyaan Chiara barusan.


“Apa itu Om Aaron?” Chiara kembali bertanya, membuat Aaron sedikit menahan nafasnya.


“Nanti saja, kalau sudah sampai di apartemen, aku katakan apa yang ingin aku lakukan.” Mendengar jawaban Aaron, Chiara bukannya menyerah, justru semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Aaron.


“Tidak ada hubungannya dengan Angelina kan Om?” Pertanyaan Chiara kali ini, membuat Aaron langsung menoleh, sehingga dia bisa melihat tatapan mata sendu dari Chiara.


“Kenapa bertanya seperti itu. Kamu belum yakin dengan perasaanku padamu? Bagiku Angelina adalah seorang sahabat dan karyawanku, bukan kekasih apalagi istriku. Hanya Chiara Indarto yang akan selalu menjadi istri dan kekasih hatiku. Jadi mulai sekarang, kamu dilarang mengkhawatirkan adanya wanita lain yang menurutmu bisa menggantikan posisimu. Tidak akan pernah ada. Aku bersumpah tentang hal itu.” Aaron mengakhiri kata-katanya dengan mengelus lembut kepala Chiara, membuat gadis cantik itu tersenyum dan menarik nafas lega.


Sesuatu yang hingga saat ini masih membuatnya terbayang-bayang dan terus menginginkannya lagi dan lagi.


# # # # # #


“Om Aaron….” Suara pelan Chiara yang memanggilnya membuat Aaron menoleh.


“Ada apa Chiara?”


“Om… kalau boleh, mampir dulu sebentar di toserba dekat apartemen ya.” Chiara berkata dengan suara cerianya.


“Ada sesuatu yang kamu perlukan?” Aaron kembali bertanya kepada Chiara.


“Ehmmm… anu Om… sepertinya… barusan aku kedatangan tamu bulananku. Aku harus membeli pembalut karena yang di apartemen hanya tinggal 2 biji.” Perkataan Chiara hampir saja membuat Aaron mengerem mobilnya dengan mendadak.


Astaga! Apa yang baru saja dikatakan oleh Chiara? Datang bulan? Chiara pasti sedang bercanda…. Bagaimana mungkin di saat-saat seperti ini dia datang bulan? Kenapa tidak bulan depan saja? Atau tahun depan? Bagaimana dengan nasibku hari ini?


Tanpa sadar, Aaron mengomel dalam hati, meskipun dia tahu pasti omelannya itu sungguh tidak masuk akal.


Namanya juga datang bulan, artinya itu sesuatu yang umum terjadi setiap bulan, bukan beberapa bulan atau bahkan tahunan.


Sikap Aaron, membuat Chiara menyipitkan matanya karena Aaron yang diam seribu bahasa tanpa menanggapi permintaannya untuk berhenti sebentar di toserba.


“Om… kenapa diam saja?” Suara Chiara membuat kesadaran Aaron kembali, dan menoleh lagi ke arah Chiara.


“Eh, ya…. Ehm… apa kamu yakin kamu benar-benar datang bulan?” Chiara sedikit mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Aaron.


Aaron berharap apa yang dikatakan oleh Chiara masihlah perkiraan saja, jadi dia belum benar-benar datang bulan.


“Ya iyalah Om. Sudah bertahun-tahun aku mengalami datang bulan, pasti hafal dengan ciri-ciri yang ditimbulkan saat datang bulan. Apalagi menurut tanggal yang selalu aku lingkari, ini memang tanggal-tanggal biasa aku datang bulan, sesuai dengan siklus datang bulanku biasanya.” Penjelasan dari Chiara benar-benar menghapuskan harapan Aaron, yang selama perjalanan tadi sudah tidak sabar untuk bisa segera sampai di apartemen, karena pikirannya sudah terbayang-bayang dengan rasa nikmat dan indahnya waktu yang akan dia habiskan bersama Chiara begitu mereka sampai di apartemen.