
"Tidak mau! Kalau aku melepas sepatuku, berarti aku harus bertelanjang kaki dan menginjakkan kakiku di atas paving block. Apa Pak Zachary tidak melihat kalau paving ini kotor? Banyak pasir dan debu? Aku tidak mau kakiku kotor." Revina berkata sambil kembali menggerakkan kakinya untuk mencoba kembali untuk menarik heelsnya yang tersangkut di paving block.
Ist! Dalam situasi seperti ini, bisa-bisanya nona yang satu ini berpikir tentang kakinya yang takut kotor terkena pasir. Benar-benar seorang nona besar yang tidak mau mengerti keadaan dirinya sendiri.
Zachary berkata dalam hati dengan sedikit menahan nafasnya karena perkataan Revina yang masih saja terkesan sombong dan terlalu menjaga image.
"Kalau begitu terserah Nona saja." Zachary berkata dengan nada datar, dan akhirnya kembali berdiri dari berjongkoknya, dan membiarkan Revina tetap sibuk dengan kaki dan sepatunya, berusaha menarik-narik kakinya agar bisa sepatunya bisa lepas dari tersangkutnya.
Cukup lama Zachary berdiam diri di dekat Revina, sampai akhirnya dia menoleh ke restauran dimana melalui dinding kaca, Zachary bisa melihat Aaron dan Chiara sudah duduk di dalam sana dan sedang membuka-buka buku menu, dengan posisi Aaron yang lebih dekat ke arah dinding kaca, sehingga tubuh Chiara yang mungil tertutup oleh tubuh Aaron, dan tidak bisa melihat ke arah Revina yang sedang sibuk dengan sepatu mahalnya.
Selanjutnya, Zachary melihat ke sekeliling, dimana beberapa pengunjung yang baru datang atau yang berniat pulang, melihat ke arah mereka saling dengan berbisik dan beberapa terlihat menunjukkan senyum, atau bahkan tawa geli.
Nona Revina ini benar-benar merepotkan.... Sudah salah kostum, sepatunya tersangkut di paving block. Masih memikirkan bagaimana kalau kakinya kotor jika dia melepas sepatunya. Padahal kalau dia mau melepas sepatunya, aku bisa membantunya mengeluarkan sepatunya yang tersangkut. Kalau tanpa dia melepaskan sepatunya, aku harus menarik kakinya, bukannya itu akan lebih berbahaya dan bisa membuatnya terjatuh? Benar-benar wanita aneh! Lagian siapa juga yang mau memegang-megang kakinya? Bisa-bisa istriku minta dipulangkan ke rumah orangtuanya karena salah paham.
Zachary mengomel dalam hati dengan sikap terlihat mulai kesal dan terlihat tidak sabar.
Apalagi dengan kondisinya sekarang, Zachary hanya bisa menahan nafasnya melihat bagaimana mereka menjadi tontonan gratis hari ini, membuatnya merasa ikut malu dan tidak nyaman.
Haist! Semoga tidak ada satupun dari pengunjung itu yang aku kenal. Kalau tidak aku pasti akan sangat malu. Kenapa sih, Nona Revina ngotot ingin ikut acara makan malam ini? Apa dia ini tidak mengerti kalau nona Chiara itu calon istri pak Aaron. Suka-suka dialah lah mau mengajak makan malam calon suaminya. Lha dia? Memang dia siapa? Harusnya tadi aku biarkan saja dia terkunci di dalam mobil
Zachary terus mengomel dalam hati, sambil menatap ke arah sepatu Revina dengan tatapan kesal.
Kalau tidak ingat dengan sopan santun, rasanya ingin sekali Zachary membiarkan Revina di tempat itu sendirian.
"Nona, mau sampai kapan Nona di sini? Saya harus segera menyusul pak Aaron dan membantunya memesan makanan. Atau saya pergi lebih dahulu untuk menyusul pak Aaron dan nona Chiara?" Akhirnya dengan nada terdengar tidak sabar, Zachary berkata kepada Revina yang mulai berkeringat dingin karena usahanya yang tidak berhasil sedari tadi, meskipun dia sudah berusaha mengeluajkan tenaganya dengan ekstra.
"Sebentar Pak, sepertinya sudah hampir berhasil." Revina langsung berkata dengan nada gugup, karena jika Zachary meninggalkannya sendirian di tengah-tengah tempat parkir itu, dia pasti akan semakin terlihat memalukan dan menjadi tontonan gratis.
Bahkan di jaman info serba cepat ini karena keberadaan koneksi internet yang semakin mudah didapat, mungkin jika ada yang mengambil gambarnya dan menguploadnya ke internet, Revina yakin, dia akan bisa menjadi bahan tertawaan oleh orang di berbagai tempat.
Sehingga yang terjadi justru heels dari sepatunya patah dan terlepas dari tempatnya, dan hampir saja membuat Revina terjatuh kalau saja Zachary tidak membantu memegang tangannya, meskipun setelah itu dengan buru-buru Zachary melepaskan pegangan tangannya pada Revina, dengan gerakan tubuh yang hampir saja bergidik.
"Sepatu mahalku...." Dengan kaget dan suara yang terdengar sangat kecewa, juga wajah terlihat sedih dan memelas, Revina membungkuk dan menarik heels sepatunya yang patah, dan sudah lepas dari tersangkutnya.
Bagaimana Revina tidak sayang, karena sebelumnya, Revina harus menghabiskan sebagian besar tabungannya untuk membeli sepatu mahal itu, dan sekarang nasibnya, hanya akan menjadi barang tidak berharga karena sudah cacat.
Zachary hampir saja tidak bisa menahan tawanya melihat bagaimana akhir dari nasib sepatu Revina, yang bahkan justru membuat Zachary merasa begitu puas, setelah tindakan Revina sebelumnya membuatnya merasa cukup kesal.
"Sepatu Nona Revina sudah berhasil keluar dari lubang paving block. Kalau begitu, saya menyusul mereka sekarang Nona Revina." Zachary berkata sambil melangkah pergi, berniat menyusul Aaron dan Chiara.
"Eh, Pak Zachary...." Revina segera mencegah Zachary untuk pergi.
"Ada apalagi Nona? Bukannya sepatu Nona sudah bisa keluar dari paving?" Zachary bertanya kepada Revina yang mencoba melangkah mendekat ke arah Zachary dengan cara berjalannya yang aneh, karena satu kakinya mengenakan sepatu dengan heels lebih dari 10 cm, sedang yang satu heelsnya sudah lepas sehingga menjadikannya sepatu yang alasnya rata.
"Anu Pak Zac... tolong lepaskan heels sepatuku yang satunya, agar tingginya sama." Akhirnya dengan berat hati Revina meminta Zachary justru melepaskan heels sepatunya yang lain, agar sepatunya jadi sama tinggi, kalau dia tidak ingin berjalan seperti orang timpang nantinya.
Sambil menahan keras agar dia tidak benar-benar tertawa tergelak, mau tidak mau akhirnya Zachary mengabulkan permintaan Revina yang matanya menatap tidak rela ketika Zachary mulai memukul-mukulkan heels sepatunya ke paving block agar bisa terlepas seperti pasangannya.
# # # # # # # #
Dengan wajah cemberut, akhirnya Revina duduk tepat di depan Aaron dan Chiara yang sebelum kedatangannya sedangĀ sibuk melihat-lihat buku menu di depan mereka, dan mulai memilih menu apa yang ingin mereka nikmati malam ini.
Dan tepat seperti yang dikhawatirkan Revina, hampir semua orang dalam restauran itu, yang melihat kehadirannya dengan gaun mewah dan terlihat berkilau itu saling berbisik dan membicarakannya, bahkan beberapa orang tampak menertawakan cara berpakaian Revina, yang bagi mereka seperti orang aneh dengan pakaian yang tidak seharusnya, memaksakan diri datang ke tempat itu.
Pada akhirnya, sepanjang makan malam itu, Revina sibuk sendiri dengan pikirannya yang harus menjaga image dan cara makannya karena menyesuaikan dengan cara berpakaian mewahnya, karena sejak awal dia masuk ke restauran itu, memang dia menjadi pusat perhatian banyak orang karena dianggap aneh karena pakaian yang dikenakannya.