
Meskipun Aaron tahu Chiara tidak bersalah sama sekali dalam hal ini, tapi rasanya ingin sekali Aaron memarahi Chiara untuk melepaskan emosinya.
Jika saja itu Diego, Aaron tahu pasti kalau Diego hanya sekedar bercanda, dan tidak akan berani bertindak lebih jauh karena Diego tahu kalau Chiara adalah istri Aaron.
Jika itu Romi, Aaron tahu pasti Chiara sangat tidak menyukai Romi, bahkan cerita masa lalu diantara mereka, membuat Chiara merasa sedikit trauma jika berada di dekat Romi, dan pasti akan memilih untuk segera menghindar dari Romi.
Lagipula Aaron tahu pasti kedua laki-laki itu tidak banyak memilii kesempatan untuk bertemu dengan Chiara di tengah-tengah kesibukan mereka, dan juga Chiara yang juga sibuk dengan pendidikannya.
Tapi Brandon... seorang senior Chiara, dengan jurusan yang sama, fakultas yang sama, disempurnakan dengan universitas yang sama... pasti akan ada begitu banyak kesempatan, dan akan ada seribu satu alasan untuk mereka berdua bertemu dan menjalin komunikasi.
Membayangkan itu membuat detakan di jantung Aaron semakin cepat, dan tanpa sadar, Aaron mengeratkan gerahamnya, sehingga terdengar suara gemeretak gigi dari dalam mulutnya.
Hal itu membuat Aaron duduk di dalam suasana gelap ruang tamu apartemennya, sambil berusaha mendinginkan otaknya yang begitu panas malam ini.
Aaron tahu semua karena Brandon yang memang sengaja melakukan pdkt pada Chiara, tapi darah Aaron yang rasanya masih meletup-letup melihat adanya seorang laki-laki yang begitu kerasnya berusaha mendekati istrinya, membuat Aaron ingin sekali mengomeli istri kecilnya itu.
Tapi pada akhirnya, Aaron memutuskan untuk membatalkan niatnya, dan kembali melakukan teleportasi ke Amerika.
Aaron sadar jika dia tetap nekat untuk menemui Chiara tadi, pasti akan menjadi pertanyaan besar untuk orang-orang yang tahu kedatangannya yang secara tiba-tiba itu merupakan hal yang sangat aneh dan tidak masuk akal.
Apalagi jika Chiara mengetahui kedatangannya yang begitu tiba-tiba di apartemen selarut ini, Aaron tahu pasti, Chiara yang cerdas pasti tidak akan mudah untuk dibohongi.
Dan dengan kondisi emosinya yang sekarang, Aaron tahu dia tidak akan bisa berpikir jernih untuk sekedar mencari alasan yang tepat yang bisa menjelaskan tentang kehadirannya yang tiba-tiba.
Kerena itu Aaron berusaha keras untuk bisa menahan emosinya dan mencoba menenangkan diri dengan kembali ke Amerika secepatnya dengan kemampuan teleportasinya.
Begitu tiba di kantornya, Aaron hampir saja langsung menggebrak meja, dan memukul dinding ruangannya jika saja dia tidak ingat bahwa kekuatan supernya bisa membuat ruangannya hancur berantakan tanpa ampun dalam hitungan detik.
Dengan perlahan, Aaron menggerakkan tangannya yang terkepal di atas meja, dan mulai memijat keningnya yang terasa pening setelah melihat kejadian antara Chiara dan Brandon tadi.
Tidak ada kata-kata atau tindakan mesra diantara mereka berdua. Dengan jelas Aaron juga melihat dan mendengar bagaimana Chiara yang terlihat terus berusaha menghindari Brandon, dengan sikap tidak nyamannya.
Tapi sikap Brandon, pandangan mata Brandon kepada Chiara, benar-benar membuat dada Aaron terasa sesak dan panas, sehingga sejak dia hadir di dekat mereka, kedua tangan Aaron terkepal erat, dengan tatapan mata ambernya yang biasanya terlihat tenang dan dingin, saat itu berubah menjadi tatapan sinis.
Aaron menghela nafas panjang menyadari bahwa hari ini dia hampir saja lepas kendali karena merasa cemburu dengan keberadaan laki-laki lain di dekat Chiara.
Aku benar-benar tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut. Aku harus segera mencari jalan keluar agar hal seperti ini tidak terjadi lagi.
Aaron berkata dalam hati sambil menahan nafasnya cukup lama, lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar.
Beberapa saat Aaron tampak termenung di tempatnya, mencoba memikirkan tindakan apa yang paling tepat, yang bisa dia lakukan saat ini.
Zachary yang sedang tertidur nyenyak dengan satu tangannya yang memeluk tubuh istrinya, dengan ogah-ogahan membuka matanya dan sambil mengupa lebar, melihat ke arah handphonenya yang berada di atas nakas yang ada di samping tempat tidurnya.
Dengan gerakan pelan, Zachary mengulurkan tangannya ke atas nakas dan meraba-raba ke atas nakas, untuk meraih handphonenya yang terus berbunyi tanpa henti, dan langsung menggeser tanda menerima panggilan telepon.
"Hal... looo... hoahemmmm." Sambil menguap Zachary menerima panggilan telepon dari Aaron tanpa melihat siapa yang sudah menelponnya karena dia berada di tengah-tengah mimpi indahnya ketika handphonenya berbunyi, dan rasa kantuk masih menguasainya.
"Zachary...." Begitu Zachary mendengar suara Aaron yang menyapanya di telepon, dengan gerakan cepat, Zachary yang awalnya tadi menerima panggilan telepon sambil berbaring, langsung melompat dari tempat tidur, dengan posisi langsung duduk di tepian tempat tidur.
"Eh. Ya... Selamat malam Pak Aaron...." Dengan gugup Zachary menjawab sapaan Aaron.
Istri Zachary yang awalnya merasa terganggu tidurnya, dan sempat terbangun karena gerakan Zacahary yang membuat tubuhnya ikut sedikit terguncang, akhirnya hanya bisa menghela nafasnya, dan memutuskan untuk kembali tidur begitu mendengar Zachary menyebutkan nama Aaron.
Dan suara Aaron, spontan membuat mata Zachary terbuka lebar, dan rasa kantuknya hilang seketika itu juga.
"Maaf Pak Aaron, saya benar-benar tidak tahu kalau Pak Aaron yang menelpon saya. Maaf Pak, tadi saya sudah tertidur.... Apa ada hal penting yang harus saya kerjakan Pak Aaron?" Zachary berkata dengan nada menyesal, karena merasa sudah bersikap kurang sopan saat menerima panggilan telepon dari Aaron barusan.
"Tidak masalah. Aku sengaja menghubungimu karena ada hal yang sangat penting yang mau aku sampaikan dan harus kamu kerjakan sekarang juga!" Kata-kata tegas dari Aaron, Zachary sudah terbiasa mendengarnya, tapi jika itu dibarengi dengan emosi, baru kali ini Zachary mendengarnya dan mengalaminya.
Apa yang sudah terjadi pada pak Aaron? Apa ada suatu hal buruk yang terjadi pada nona Chiara? Karena sejak aku mengenal pak Aaron, hanya nona Chiara yang bisa membuat pak Aaron menunjukkan emosinya.
"Zachary! Aku mau kamu mengaturkan sesuatu untukku malam ini juga! Dan aku mau semuanya siap dalam waktu kurang dari 24 jam dari sekarang!" Suara Aaron yang tampak terlihat emosi, membuat Zachary mengernyitkan dahinya, merasa heran bahwa bosnya yang selalu terlihat tanpa emosi itu, ternyata bisa terdengar marah juga.
"Ya Pak Aaron... apa yang harus saya lakukan untuk pak Aaron?" Dengan sigap Zachary menjawab perkataan Aaron.
"Aku mau kamu mengaturkan sesuatu yang penting dan cepat untukku." Aaron menghentikan kata-katanya sejenak.
Setelah itu, Aaron memberikan puluhan perintah kepada Zachary yang membuat laki-laki yang menjadi asisten pribadi Aaron itu melongo.
Antara bingung, merasa aneh dan tidak percaya, bercampur jadi satu di hati Zachary yang tangannya sibuk mencatat semua tugas yang diberikan oleh Aaron padanya.
"Zachary! Apa kamu dengar semua yang aku katakan tadi?" Aaron yang menyadari tidak adanya respon dari Zachary, bahkan hanya sekedar dehemen kecil, langsung menegur Zachary.
"Ah, ya Pak Aaron. Jangan khawatir, saya sudah mencatat semuanya perintah Pak Aaron dengan baik." Zachary berkata sambil menyungingkan senyum, meski Aaron tidak bisa melihatnya.
"Pastikan semuanya beres besok, dan siap sebelum besok malam." Aaron kembali mempertegas perintahnya kepada Zachary.
"Baik Pak. Saya akan pastikan semuanya akan segera dikerjakan malam ini juga." Dengan nada suara terdengar optimis, Zachary segera menjawab perkataan Aaron yang di seberang sana, terlihat menghembuskan nafasnya dengan wajah terlihat tidak tenang.