
“Ma… jangan lagi menyusahkan Chiara. Sudah cukup Ma. Kita yang harus mencari cara menyelesaikan masalah kita, bukan sibuk menyalahkan orang lain.” Revina berkata dengan tatapan memohon kepada Mona, agar dia menghentikan bicaranya.
Setelah apa yang sudah dilakukan keluarganya kepada Chiara, bagi Revina perkataan mamanya sangatlah tidak pantas untuk diucapkan.
“Tumben sekali kamu bicara seperti itu Revina? Apa bayi penipu itu yang sudah mengajarimu untuk bersikap dewasa sekarang? Mana bisa keturunan seorang penjahat menjadi anak yang baik? Kamu pasti sedang bermimpi.” Perkataan Mona membuat hati Revina sangat sakit, tanpa dia bisa mengucapkan sepatah katapun untuk membela anak dalam kandungannya.
Revina tahu bagaimana keras kepala dan sikap seenaknya sendiri dari mamanya yang selama ini memang fokus pada kesenangan dan kemewahan, membuat Revina tidak heran mamanya mampu mengeluarkan kata-kata menyakitkan seperti itu padanya yang anak kandungnya sendiri, apalagi pada Chiara yang lahir dari seorang wanita yang sudah dianggapnya merebut laki-laki yang dicintai oleh Mona.
Dan Revina sadar, mamanya sekarang pasti dalam kondisi sangant stress, karena seperti yang dikatakannya sebelumnya, keluarga mereka terancam untuk menjadi gelandangan dalam waktu dekat karena terbelit hutang, membuat tidak aneh jika Mona menunjukkan sikap kasar dan ketus.
“Mama cuma memberikan saran terbaik yang mama bisa jika Chiara tidak ingin kehilangan rumah itu.” Lagi-lagi, dengan sikap santai dan tanpa beban, Mona berkata, membuat hati Revina semakin nelangsa dan juga merasa begitu malu terhadap Chiara dan Aaron.
“Dan jangan bersikap naif! Pikirkan juga tentang acara perikahanmu beberapa hari lagi. Meskipun semua biaya sudah dibayar, apa kamu akan menikah tanpa kehadiran pengantin pria? Mau berapa kali dalam hidupmu kamu menjadi bahan tertawaan dan gunjingan banyak orang?” Mona kembali mengomel, tidak lagi perduli bahwa itu adalah urusan intern keluarganya, dan masih ada Aaron dan Chiara di ruangan itu.
“Chiara… tolong ajak suamimu pulang… banyak masalah dalam keluargaku yang harus diselesaikan oleh kami bertiga, kamu tidak perlu terlibat dalam masalah ini, karena semua murni kesalahn keluarga kami….” Revina berkata dengan suara pelan kepada Chiara yang masih dnegan setia berdiri di samping tempat tidurnya.
“Tapi Revina….” Chiara tampak keberatan Revina menyuruhnya pulang, sedangkan dia masih merasa penasaran dengan apa yang sudah terjadi apda rumahnya, kenapa Mona berkata seperti tadi tentang rumah peninggalan orangtuanya.
“Aku akan berusaha keras memikirkan bagaimana cara untuk menyelamatkan rumahmu. Hanya saja… tolong beri aku waktu. Biarkan kami memikirkan jalan keluarnya.” Revina langsung memotong perkataan Chiara.
“Bukan itu Revina, aku tidak berniat untuk membuatmu memikirkan itu sekarang. Yang penting adalah kesehatanmu dan bayimu. Aku hanya ingin tahu apa yang sudah terjadi dengan rumah itu, hanya itu.” Chiara langsung menanggapi perkataan Revina.
“Aku tahu kamu tidak akan setega itu padaku. Tapi ini masalah pribadi dalam keluargaku, biarkan kami bertiga yang menyelesaikannya. Kamu tahu mama akan semakin menjadi kalau kalian berdua tetap di sini.” Revina berkata dengan suara pelan dan tatapan memohon, menatap lurus ke arah Chiara.
Akan tetapi, kali ini dengan sigap Raksa langsung mencegah Mona untuk mendekati Revina, dengan menarik lengannya hingga tubuh Mona mundur ke belakang.
“Mona! Hentikan! Jangan berusaha untuk menyakiti anak kita lagi!” Kali ini Raksa dengan suara cukup keras menegur Mona yang langsung terbeliak dan memalingkan wajah ke belakang, menatap ke arah Raksa dengan padnangan tidak percaya.
Sejak mereka menikah,seorang Raksa tidak pernah sekalipun menentang apa yang dia lakukan, sehingga peringatan Raksa barusan benar-benar membuat Mona kaget.
"Chiara, sebaiknya kamu pulan dulu bersama suamimu. Aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada rumah milik kak Cakra. Om berjanji akan membereskannya bersama tantemu dan Revina." Raksa yang masih mencekal lengan atas Mona, langsung berkata kepada Chiara.
Dengan gerakan cepat namun lembut, Aaron segera menarik pergelangan tangan Chiara.
"Kalau begitu kami permisi dulu." Tanpa basa basi, Aaron langsung mengajak Chiara keluar dari kamari itu, dan tidak memberikan kesempatan pada Chiara untuk berpamitan kepada mereka.
"Om Aaron...." Chiara berkata dengan suara pelan sambil mendongakkan kepalanya, memandang ke arah Aaron yang dengan wajah datarnya, berjalan menyusuri lorong rumah sakit, pergi menjauh dari kamar Revina dirawat.
"Biarkan mereka membicarakan masalah itu tanpa kehadiran kita." Aaron berkata sambil berjalan ke arah halaman parkir rumah sakit, menuju mobilnya.
"Tapi Om Aaron, apa yang sudah terjadi pada rumahku? Bagaimanapun itu peninggalan papa, aku tidak mau kehilangan rumah itu, meskipun aku tidak lagi tinggal di sana. Paling tidak, kalau aku merindukan suasana rumah itu, aku bisa berkunjung ke sana kalau keluarga om Raksa yang menempati rumah itu." Chiara yang sudah duduk di samping Aaron di dalam mobil kembali mengungkapkan pikirannya.
"Aku tahu. Tapi untuk sekarang, lebih baik kita biarkan mereka menyelesaikan masalah keluarga mereka. Aku janji, aku akan memastikan semuanya baik-baik saja, termasuk rumah peninggalan orangtuamu." Setelah mendengar janji dari Aaron, Chiara merasa sedikit lebih tenang dan akhirnya diam, tidak lagi mempertanyakan apapun.