
Cukup lama Aaron terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari Chiara, membuat Chiara jadi ikut termenung.
Pikiran Aaron justru kembali ke bagaimana dia yang berusaha memenangkan permainan tadi.
Melihat wajah kecewa Chiara yang gagal mencapai poin tertinggi setelah mengambil 2 kali kesempatan untuk bermain, akhirnya Aaron memastikan bahwa dia harus memenangkan permainan itu meskipun karena itu, pada akhirnya dia harus menggunakan sedikit kekuatannya.
Sebenarnya hanya sebagian kecil kekuatan yagn digunakan oleh Aaron, hanya sepersekian dari kekuatannya yang memang jauh melebihi kekuatan manusia normal yang sudah terlatih sekalipun.
Namun sedikit kekuatan itu sudah membuatnya dapat mencapai poin tertinggi sehingga lampu menyala dan alarm berbunyi nyaring, membuat banyak orang yang sedang menonton langsung bersorak-sorai, ikut menambah meriahnya suasana.
Mata Chiara langsung melotot dengan tidak percaya melihat bagaimana Aaron yang benar-benar berhasil memenangkan permainan itu.
Aaron ingat dengan jelas bagaimana melihat kemenangannya itu, Chiara langsung tertawa, melompat-lompat, bahkan langsung memeluk Aaron dengan erat, dengan kedua lengannya tanpa ragu melingkar di leher Aaron, membuat Aaron cukup tesentak kaget, tapi pada akhirnya laki-laki tampan itu tersenyum tipis, sambil membalas pelukan Chiara dan dengan cukup erat, sambil berusaha keras untuk fokus mengendalikan kekuatannya agar tidak menyakiti gadis tercintanya.
Belum lagi saat Chiara menerima uluran dari tangan Aaron, hadiah boneka yang besarnya bahkan menutupi tubuh mungil Chiara, bibir Chiara terus tersenyum, sambi sesekali tetawa-tawa kecil dengan wajah begitu bahagia.
Saat petugas timezone meminta mereka berdua untuk berfoto, tanpa ragu, salah satu tangan Chiara langsung memeluk lengan Aaron, dengan kepala bersender di lengan Aaron, sedang tangannya yang lain memeluk erat bonek besarnya, membuat Aaron harus menahan nafasnya untuk ke sekian kalinya.
Melihatmu begitu bahagia seperti itu, seolah tidak adalagi yang aku inginkan di dunia ini selain melihatmu terus tersenyum bahagia. Bagaimana aku bisa meninggalkanmu jika kamu selalu menjadi pusat duniaku?
Aaron yang masih begitu mengingat hangat dan nyamannya pelukan Chiara ke tubuhnya, berkata dalam hati sambil tersenyum ke arah Chiara yang masih menunggu jawaban dari Aaron.
Chiara sendiri merasa sedikit canggung setelah menyakan hal seperti itu kepada Aaron, takut dianggap tidak sopan, karena dia ingin mengusir Aaron dan berpisah kembali dari Aaron, apalagi Aaron tidak langsung menjawabnya, justru terdiam dan terlihat sedikit melamun.
Padahal sejujurnya, Chiara menanyakan hal itu karena dirinya yang merasa takut dan dadanya selalu terasa nyeri saat membayangkan bagaimana dia harus berpisah kembali dengan Aaron.
Rasanya, saat mengingat bagaimana selama setahun ini Chiara sudah begitu menahan rindunya pada Aaron, dia merasa sangat tidak rela jika Aaron kembali ke Amerika dalam waktu dekat.
"Om Aaron...." Akhirnya Chiara menyebutkan nama Aaron dengan begitu lirih, setelah cukup lama Aaron terdiam dan tidak menjawab petanyaannya, sedangkan sekarang dada Chiara sudah berdegup kencang karena rasa khawatir dan takut mengingat saat Aaron pergi meninggalkannya dulu.
"Kenapa kamu menanyakan tentang itu? Apa kamu sudah bosan melihatku di sini? Apa aku perlu menghubungi Zachary sekarang untuk mengaturkan penerbanganku kembali ke Amerika malam ini juga?" Perkataan Aaron yang berniat menggoda Chiara, meski diucapkan dengan tersenyum, membuat tiba-tiba saja Chiara meneteskan airmatanya sambil menahan nafasnya.
"Om Aaron... tega sekali Om Aaron mengatakan hal seperti itu padaku?" Chiara berkata sambil salah satu tangannya memukul lengan Aaron dengan kesal.
Awalnya hanya sebuah pukulan kecil dan pelan, namun bertambah lama Chiara terus memukul Aaron dengan cukup keras dan terus menerus, dengan wajah yang terlihat semakin lama semakin memerah karena menahan emosi dan tangisnya
"Eh.... Chiara...." Aaron jadi salah tingkah melihat reaksi Chiara terhadap kata-katanya.
"Om Aaron jahat sekali padaku!" Chiara berkata dengan terus memukul lengan Aaron yang akhirnya menggerakkan tangannya yang lain untuk menangkap tangan Chiara dan membawanya dalam genggaman tangannya.
"Aku hanya bercanda Chiara." Dengan suara terdengar menyesal, Aaron berkata, mencoba untuk menenangkan Chiara yang terlihat begitu emosi.
"Om Aaron benar-benar tega padaku! Bisa-bisanya Om Aaron mengatakan hal seperti itu padaku! Padahal jelas-jelas setiap hari aku mengirimkan pesan pada Om Aaron! Aku terus mengirimkannya, padahal aku tahu Om tidak perduli pada pesan-pesan itu!" Emosi Chiara akhirnya meledak juga, setelah sekian lama berusaha menahan diri, dan hanya diam melihat bagaimana selama setahun ini Aaron selalu mengabaikan pesan-pesan yang dikirimkannya, seolah dirinya tidak memiliki arti sama sekali di hati Aaron.
"Chiara... bukan begitu... bukan seperti yang kamu pikirkan...." Aaron berkata sambil memandang ke wajah Chiara yang terlihat penuh dengan airmata sekarang.
"Bukan begitu bagaimana Om? Apa Om Aaron tahu beberapa kali aku ingin menghentikannya. Aku ingin berhenti untuk mengirimkan pesan-pesan dan semua foto-foto itu. Tapi rasanya sangat sulit Om. Sangat sulit.... Setiap kali aku mengirimkan itu, aku selalu berpikir, mungkin kali ini Om Aaron akan membalasnya. Aku hanya ingin mengetahui kabar Om disana, hanya itu saja...." Chiara berkata dengan suara sesenggukan, berusaha menahan tangisnya agar tidak semakin menjadi, karena luapan emosinya