
Selama ini, Aaron memang banyak menghabiskan waktunya dengan Zachary sebagai asistennya, tapi tidak pernah Zachary melihat untuk sesuatu yang bukan urusan pekerjaan atau hal penting, Aaron akan membiarkan dirinya terlibat terlalu lama dengan orang lain, termasuk keluarganya, ataupun Angelina, yang dikenal Zachary sebagai satu-satunya teman perempuan Aaron, yang menurut pandangan pribadi Zachary, merupakan salah satu orang yang sangat dipercaya oleh Aaron, seperti Aaron mempercayainya.
Nona Chiara ini, sikapnya benar-benar menunjukkan bahwa memang dia adalah seorang gadis yang usianya masih begitu muda dan labil. Apa yang dialaminya, dalam hitungan detik, bisa membuat aura wajahnya berubah dengan cepat. Tapi kepolosan dan sikapnya yang tidak dibuat-buat itu, sungguh membuat orang merasa nyaman berada di dekatnya. Dan sepertinya pak Aaron juga terlihat begitu menikmati waktu yang dia habiskan bersama nona Chiara.
Zachary berkata dalam hati sambil ikut fokus mendengarkan pembicaraan mereka berdua yang pasti akan mengikut sertakan dia, yang akan mendapatkan tugas dari Aaron selama Aaron pergi.
"Kalau begitu, mungkin kita bisa mengobrol santai di ruang tengah Pak Aaron?" Zachary langsung menyampaikan usulnya, yang disambut oleh anggukan kepala oleh Aaron.
"Kita kesana sekarang, sekalian kamu minta Bu Ida dan Tia menyiapkan makanan ringan untuk kita Zachary." Aaron kembali memberikan perintah pada Zachary.
"Baik Pak Aaron." Zachary langsung menjawab perintah dari Aaron, membiarkan Aaron dan Chiara berjalan menuju ruang tengah, sedang dia sendiri, berjalan ke arah dapur.
Tidak butuh waktu lama, Zachary dan dua orang asisten rumah tangga itu sudah muncul kembali di ruang tengah dengan membawa nampan berisi makanan ringan dan juga minuman dingin.
Mata Chiara langsung terbeliak melihat banyaknya suguhan, terutama beberapa snack yang merupakan snack favoritnya selama ini, yang seringkali dia makan sambil belajar atau menonton di kamarnya.
"Wah Om Aaron benar-benar hebat, bahkan bisa tahu makanan ringan favoritku." Chiara berkata sambil meraih salah satu bungkus makanan ringan berasa gurih yang ukurannya cukup besar.
"Boleh kan Om?" Chiara langsung bertanya sambil mengangkatnya di depan wajahnya, menunjukkan pada Aaron.
"Tentu saja boleh." Aaron menjawab cepat sambil melirik ke arah Zachary yang langsung tanggap bahwa Zachary diminta untuk menjawab pertanyaan Chiara sebelumnya.
"Pak Aaron tentu saja tahu makanan ringan yang disukai gadis remaja seumuran Nona Chiara. Apalagi, siapa sih yang tidak suka dengan makanan ringan jenis itu?" Chiara meringis mendengar perkataan dari Zachary.
"Begitu ya Pak Zac? Padahal teman-temanku mengatakan kalau selera snack kesukaanku agak aneh, karena aku suka yang asin dan keras." Chiara berkata sambil tertawa, tidak menyadari Zachary sedikit salah tingkah mendengar perkataan Chiara.
Tentu saja hanya itu yang bisa aku katakan agar nona tidak curiga bagaimana pak Aaron bahkan mengetahui banyak hal apapun tentang nona, meskipun itu hanya suatu kebiasaan kecil nona, sekecil apapun itu. Kalau mengingat tentang hal itu, aku tidak percaya pak Aaron tidak memiliki perasaan khusus pada nona Chaira. Bagi pak Aaron, nona Chiara pasti orang yang spesial.
Setelah itu beberapa waktu selanjutnya, mereka bertiga sibuk saling bertukar pendapat, membicarakan tentang mana yang terbaik untuk kuliah Chiara ke depannya.
Beberapa kali mereka saling bertukar pikiran, sampai akhirnya, Chiara setuju dengan usul Aaron agar dia mengambil jurusan perhotelan, agar dia bisa mengerti dengan baik seluk beluk dunia perhotelan, sedangkan untuk menagemen dan juga akuntansi Zacahary yang akan mengajarkannya pada Chiara sedikit demi sedikit.
Bahkan Aaron sudah mengaturkan jadwal dimana setelah Chiara berusia 17 tahun, dia harus mulai terjun ke bisnis perhotelan milik keluarganya, agar di masa depan, Chiara bisa menguasai bisnis perhotelan dengan baik saat dia sudah lulus dari kuliahnya.
Sehingga ke depannya, Chiara bisa menjadi pengusaha yang hebat dan bisa mengembangkan bisnis peninggalan orangtuanya itu.
“Kalau begitu, sudah waktunya aku untuk pulang, sudah malam….” Aaron berkata sambil melirik jam di pergelangan tangannya, dan beralih ke jam dinding yang ada di ruangan itu, membuat mau tidak mau Chiara ikut memandang ke arah jam dinding itu, sambil menahan nafasnya.
"Om... Om Aaron harus pulang sekarang ya?" Dengan nada terdengar lemas, Chiara bertanya kepada Aaron yang langsung tersenyum kecil ke arah Chiara, yang tampak menggemaskan dengan sikapnya itu.
"Kalau begitu… mau sampai jam berapa kamu ingin aku menemanimu disini?" Tanpa disangka-sangka oleh Aaron maupun Zachary, pertanyaan Aaron membuat mata Chiara langsung berbinar cerah.
“Terserah Om Aaron saja… Mau sampai tengah malam? Atau Om mau menginap di sini malam ini? Kan Om dan aku punya kamar sendiri-sendiri juga? Pak Zachary mungkin bisa menginap di sini juga untuk memastikan semuanya baik-baik saja.” Perkataan Chiara yang meskipun terdengar polos, tapi bagi Aaron, kata-kata Chiara itu hampir saja membuat dirinya tersedak oleh ludahnya sendiri karena saking kagetnya.
Zachary pun tidak kalah kaget, dengan mata melotot dan bibir ternganga mendengar perkataan dari Chiara barusan.
Baik Aaron dan Zachary tahu pasti bahwa Chiara mengatakan itu tanpa ada niatan apa-apa, apalagi berusaha menggoda Aaron.
Chiara hanyalah seorang anak remaja yang masih merasa belum nyaman karena di usianya yang sekarang harus keluar dari rumah, tinggal di tempat yang baru, sendirian, hanya ditemani oleh asisten rumah tangga, tanpa ada saudara atau teman dekat yang menemaninya.
Akan tetapi bagi Aaron yang bayangan tentang apa saja yang sudah dialaminya bersama Chiara yang masih saja membuat dadanya berdebar hanya dengan membayangkan kembali kejadian itu, permintaan Chiara barusan sungguh membuatnya kehilangan kata-kata untuk menjawabnya.