
Dan itu ternyata cukup membuat rasa cemburu Aaron tersulut. Hal yang sebenarnya tidak masuk akal untuk dicemburui, tapi bagi seorang Aaron yang bukan merupakan manusia biasa dan begitu cinta pada istrinya, merasa umum jika dia tidak suka bagaimana Chiara yang menunjukkan kekagumannya pada sosok Superman, meski tokoh hebat itu hanyalah sebuah tokoh fiksi belaka.
"Ist... Om Aaron salah deh sepertinya. Aku bilang aku jadi bisa merasakan bagaimana rasanya dicium di atas awan. Kalau masalah yang mencium sih... pastinya harus Om Aaron saja yang boleh menciumku." Chiara berkata sambil memandang ke arah Aaron dengan wajah malu-malu, membuat dengan mau tidak mau, Aaron meraih kepala Chiara, dan mengacak pelan rambutnya karena merasa gemas.
Cantik, selalu ceria, tulus dan polos sekaligus menggemaskan bagi Aaron, itulah gambaran sosok Chiara bagi Aaron, yang membuatnya begitu cinta mati pada istri kecilnya itu.
"Sudah malam, sebaiknya kamu kembali ke kamarmu dan tidur." Aaron berkata lembut sambil menarik handle pintu, dan membuka pintu kamarnya untuk Chiara, yang langsung melangkah kelaur dari kamar Aaron, lalu berbalik memandang Aaron yang masih berdiri di ambang pintu, belum menutup pintunya.
"Iya. Aku juga sudah lelah dan mengantuk Om. Sepertinya dengan memeluk guling, aku akan langsung tertidur lelap." Chiara berkata dengan nada ceria dan senyum lebar di wajahnya, membuat Aaron tersenyum meskipun tanpa sadar, dia tiba-tiba berasa iri dengan keberadaan guling Chiara yang selalu dipeluknya dengan erat.
Sebuah kebiasaan dari Chiara, kalau tidur memang mengharuskan harus memeluk gulingnya untuk bisa tertidur nyenyak, dan itu juga terjadi saat mereke berdua sempat tidur bersama dalam satu kamar.
Setiap pagi Aaron akan menemukan dirinya dipeluk oleh Chiara, baik oleh tangan atau kaki Chiara yang naik ke tas tubuhnya, dan menjadikannya seperti guling.
"Segera tidur saja kalau begitu. Selamat beristirahat." Aaron berkata sambil berniat menutup pintu kamarnya, tapi tiba-tiba kedua telapak tangan Chiara menempel ke pintu kamar Aaron, menahan pintu itu agar tetap terbuka.
Dan seperti biasa, tanpa diduga oleh Aaron, Chiara maju dua langkah ke depan, mendekat ke arah Aaron.
"Selamat malam Om Aaron...." Chiara berkata lirih sambil mengecup pipi Aaron yang tubuhnya sedikit tersentak karena tidak menyangka akan mendapatkan kecupan selamat malam seperti kemarin dari Chiara.
"Aku mau, setiap malam memberikan kecupan selamat malam sebagai pengantar tidur untuk Om Aaron. Meskipun sekarang kita belum tidur dalam satu kamar yang sama, tapi aku mau mulai membiasakan diri dengan hal seperti itu." Dengan sikap polosnya, Chiara berkata sambil tertawa kecil.
Aaron hanya bisa diam terpaku mendapatkan ciuman sekilas di pipinya, dan juga mendengar ucapan Chiara yang berniat akan selalu memberinya kecupan sebelum tidur.
"Tidak boleh ya Om?" Chiara yang melihat bagaimana Aaron diam termenung setelah mendengar perkataannya, langsung bertanya dengan mata terlihat berharap.
Setelah sekian lama bisa mengungkapkan rasa cintanya pada Chiara melalui sentuhan fisik, tentu saja Aaron tidak akan keberatan dengan ide Chiara yang dengan membayangkannya saja sudah membuat jantungnya berdetak dengan keras.
"Terimakasih Om Aaron, semoga mimpi indah... dan ada aku di dalamnya." Chiara berkata dengan suara ceria, dan dengan gerakan lincah berjalan ke arah kamar yang biasa ditempatinya, meninggalkan Aaron yang masih berdiri di ambang pintu sambil tersenyum-senyum sendiri dengan wajah terlihat bahagia.
# # # # # # # #
"Ah, berlibur bersama Om Aaron, juga mama Sarah dan keluarga pak Zac. Pasti akan sangat menyenangkan. La la la la...." Di depan cermin yang ada di meja riasnya, Chiara bergumam pelan, sambil bernyanyi-nyanyi kecil, menunjukkan betapa bahagianya dia saat ini.
"Aku tidak sabar bisa bertemu dengan Lila, juga kak Anna." Chiara berkata sambil memasukkan sisir yang baru dipakainya ke dalam tas yang akan dibawanya.
Setelah itu, dengan bergegas, Chiara segera berjalan keluar, untuk menemui Aaron, yang pagi tadi sudah mengetuk kamarnya dan mengingatkannya untuk segera bersiap, karena perjalanan mereka cukup jauh hari ini.
Begitu keluar dari kamarnya, Chiara langsung melihat sosok Aaron yagn sedang berdiri menunggunya di dekat ruang keluarga, dengan posisi membelakanginya.
"Aku sudah siap Om Aaron...." Chiara berkata sambil menggandeng lengan Aaron tanpa canggung dari arah belakang.
Membuat Aaron yang awalnya merasa sedikit canggung, akhirnya mengikuti tindakan Chiara untuk bersikap santai dan menikmati apa yang terjadi diantara mereka berdua sekarang ini.
"Om Aaron, hari ini Om Aaron menyetir sendiri?" Chiara yang dibukakan pintu mobil oleh Aaron di posisi samping pengemudi langsung bertanya kepada Aaron yang menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala.
"Kan Zachary pergi juga bersama keluarganya." Aaron menjawab sambil menutup pintu mobil, dan berjalan ke arah pintu yang ada di samping kursi pengemudi.
"Wah... kalau begitu asyik dong, bisa berduaan dengan Om Aaron sepanjang jalan nanti." Chiara berkata sambil memeluk lengan Aaron, dan mengarahkannya ke dadanya, sehingga membuat Aaron secara tiba-tiba menahan nafasnya karena lagi-lagi, Chiara tanpa merasa canggung membuat lengan Aaron menyentuh sesuatu yang terasa kenyal dan lembut di tubuh Chiara, yang membuat dadanya langsung bereaksi dengan berdetak keras, dan membuatnya menelan air ludahnya dengan kasar.