
Aku tidak percaya, jika aku terus berusaha dengan keras dan sekuat tenagaku, aku tidak bisa menemukan jalan keluar. Dimana ada masalah, disana pasti ada jalan keluar yang sudah dipersiapkan Tuhan untuk kita, asal kita berusaha keras untuk mencari dan menyelesaikannya.. I love you my little girl. Maaf jika untuk saat ini aku hanya bisa mengatakan itu dalam hati. Tunggulah saat waktunya tiba.... Saat itu, di setiap kesempatan, aku akan selalu mengatakan bahwa aku mencintaimu... tanpa henti, tanpa bosan-bosannya....
Aaron melanjutkan kata-katanya dalam hati sambil menarik kembali rambut Chiara yang tadinya dia singkirkan ke depan, agar tengkuk Chiara yang hampir membuat Aaron kehilangan kendali untuk tidak mendaratkan bibirnya di sana, tidak lagi terlihat dengan jelas, karena tertutup rambut.
Dan aku berharap, aku bisa mengendalikan diriku dengan baik saat itu tiba. Karena hanya dengan membayangkan aku bisa saja mencelakaimu sudah membuat hatiku terasa sakit.
Aaron mengakhiri kata-katanya dalam hati sambil bergerak kembali untuk duduk di kursi yang ada di hadapan Chiara.
Sebuah senyum tersungging di bibir Aaron begitu dia melihat bagaimana bahagianya wajah Chiara yang sedang menundukkan kepalanya, dengan mata menatap ke arah kalungnya yang di bagian dadanya, berbentuk satu hati berukuran besar di bagian tengah, dan di samping kanan kiri hati berukuran besar itu, ada hati berukuran kecil, sehingga jika dilihat sekilas tanpa diamati dengan teliti, hati yang di bagian tengah itu seperti memiliki sayap kecil di samping kanan dan kirinya.
"Terimakasih Om... cantik sekali kalungnya." Chiara berkata sambil mendongakkan kepalanya kembali dan menatap ke arah Aaron tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.
Bukan kalung itu yang terlihat cantik bagiku, tapi kamu yang mengenakannya, adalah hal tercantik dan terindah bagiku.
Aaron kembali berkata dalam hati, sambil memandang ke arah gadis kecilnya dengan tatapan terpesona dan penuh cinta.
"Terimakasih ya Om." Chiara yang tidak mendengar jawaban apapun dari bibir Aaron, akhirnya kembali mengucapkan terimakasihnya kepada Aaron sambil tersenyum lebar ke arah laki-laki itu.
Akhirnya Aaron menjawab ucapan terimakasih Chiara dengan sebuah anggukan kepala dan senyum tipis di wajah tampannya.
Setelah itu, dengan bersemangat Chiara kembali menikmati semua makanan yang masih tersisa, membuat Aaron sesekali tersenyum geli melihat Chiara yang dengan lahap menikmati makanan itu, layaknya gadis remaja yang sedang menikmati kehidupan masa mudanya.
Chiara sendiri, sejak Aaron mengalungkan kalung itu di lehernya, merasakan sentuhan lembut dari jari-jari Aaron di kulit lehernya, ada sebuah perasaan damai dan tenang yang menjalar dan memenuhi hatinya.
Dan perasaan nyaman itu tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata, namun seketika itu juga membuatnya kembali ceria, dan tidak ada lagi rasa galau dan ketakutan dalam dirinya.
"Om... kenapa hanya diam saja? Tidak ikut makan? Apa Om takut gemuk? Kan sudah aku bilang kalau sekarang Om Aaron jauh lebih kurus dari setahun yang lalu?" Chiara yang mencerca Aaron dengan begitu banyak pertanyaan membuat Aaron tersenyum geli.
Bagi Aaron rasanya menggemaskan sekali saat bibir mungil Chiara itu terus mengeluarkan kata-katanya tanpa henti.
"Aku sudah kenyang Chiara. Lagipula bukannya yang memang sedang dalam masa pertumbuhan adalah kamu? Jadi makanlah sebanyak yang kamu mau." Aaron yang duduk sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi tanpa berniat menyentuh makanan di depannya berkata sambil menatap lurus ke arah Chiara, menikmati wajah cantik sekaligus ceria dari istri kecilnya itu.
"Ah, Om Aaron ada-ada saja. Kata-kata Om Aaron seolah-olah membuatku jadi seperti gadis rakus yang tidak pernah makan enak. He he he." Chiara mengakhiri kata-katanya dengan sebuah tawa kecil.
Sebenarnya Chiara bukan tipe gadis yang makannya banyak, tapi jika moodnya sedang bagus, atau dia justru dia sedang stress, memang salah satu pelariannya adalah makanan.
Dan untuk saat ini, mood Chiara benar-benar bagus, sehingga membuatnya begitu bersemangat untuk menikmati sajian makanan di depannya.
"Eh... tapi Om Aaron... serius... Om Aaron bertambah kurus lho." Kata-kata Chiara yang kembali membahas masalah berat tubuhnya membuat Aaron tersenyum tipis, dan juga terlihat sedikit kikuk.
Bagaimanapun kata-kata Chiara itu membuat Aaron teringat bagaimana cara Chiara tadi di apartemen untuk memastikan berat tubuhnya memang turun.
Dan ingatan itu hampir saja membuat wajah Aaron memerah dan dadanya kembali berdetak kencang.
Si..al! Kalau begini terus, sampai kapan kira-kira aku bisa bertahan di dekat Chiara? Kira-kira sampai kapan aku bisa menahan diriku untuk tidak menjadikan dia milikku seutuhnya?
Aaron melenguh dalam hati melihat bagaimana polos dan santainya Chiara dalam bertindak dan berkata-kata padanya, tanpa menyadari bahwa hati Aaron seringkali dibuatnya bergejolak dengan tindakan dan kata-kata gadis itu.
"Tapi berat tubuhku masih ideal kok." Aaron menanggapi perkataan Chiara dengan asal, untuk mengalihkan rasa kikuknya.
"Eh Om Aaron... boleh aku bertanya sesuatu?" Tiba-tiba Chiara kembali menyelutuk di tengah-tengah dia menikmati makanan yang masih ada di depannya.
"Tentang apa?" Aaron balik bertanya, disambut dengan Chiara yang langsung meringis sebelum mengucapkan pertanyaannya.
"Itu... aku ingin tahu, apa Om Aaron beanr-benar sibuk, sampai tidak sempat makan dan beristirahat selama di Amerika? Atau ada hal lain yang sudah terjadi pada Om Aaron disana, sampai Om Aaron menjadi kurus?" Pertanyaan Chiara hampir saja membuat Aaron tersedak ludahnya sendiri.