Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
KECEROBOHAN CHIARA (1)



Aduh om Aaron, begini saja sudah membuat aku jantungan, terus... bagaimana nasibku kalau harus tidur satu kamar dengan om Aaron? Tapi masa bodohlah, yang penting om Aaron tidak akan kembali ke Amerika. Itu artinya, aku akan memiliki banyak kesempatan untuk membuat om Aaron jatuh cinta padaku.


Chiara berkata dalam hati sambil menahan nafasnya sebentar sebelum menjawab perkataan Aaron.


"Eh, iya Om Aaron, tapi paling tidak aku harus mengambil pakaian gantiku dan mandi terlebih dahulu." Chiara berkata dengan suara tidak kalah pelannya dengan Aaron.


"Ambil saja satu pakaian ganti yang kamu butuhkan, setelah itu, mandi di kamarku saja." Aaron langsung berkata sambil bangkit dari duduknya, karena dia sendiripun ingin membersihkan tubuhnya.


"Kamu masih lama kan? Aku akan mandi duluan." Aaron berkata sambil berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan Chiara yang secepat mungkin berusaha mengendap-endap ke kamarnya, dan mengambil pakaiannya.


Begitu sampai di kamarnya, Chiara dengan cepat meraih tas ransel yang ada di dalam lemarinya, mengambil pakaian dan juga peralatan pribadinya, termasuk charger handphone di atas nakas yang ada di samping tempat tidurnya.


Setelah yakin tidak adalagi barang yang tertinggal, dengan gerakan cepat Chiara keluar dari kamarnya, dan dengan sedikit berlari, menuju ke kamar Aaron.


Dengan hati-hati, Chiara mengetuk pintu kamar Aaron, tapi tidak ada tanggapan, membuatnya dengan ragu membuka pintu kamar yang tidak dikunci itu.


Suara gemericik air dari arah kamar mandi, membuat Chiara langsung tersenyum, karena bisa menebak kalau Aaron sedang mandi, karena itu tidak menanggapi ketukan pintu darinya.


"Kamar om Aaron jadi benar-benar terlihat beda meskipun tidak banyak yang dirombak, hanya menambahkan beberapa lampu dan aksesoris di langit-langit ruangan, dan juga mengganti warna cat salah satu sisi tembok, tapi hasilnya membuat seolah-olah ini adalah kamari baru. Terlihat lebih cerah dan jauh dari kesan kaku dan dingin." Chiara berkata pelan sambil menatap ke sekeliling kamar Aaron, dan juga meletakkan tas ransel berisi pakaian ganti dan barang-barang pribadi miliknya.


"Chiara... Aaron...." Suara ketukan dari arah pintu kamar Aaron, dan juga suara Sarah yang memanggil namanya dan Aaron, langsung membuat Chiara melompat kaget.


Dengan buru-buru Chiara langsung mengambil pakaian gantinya dari tas ranselnya, dan dengan cepat menyembunyikan tas ranselnya di dalam laci nakas, untuk kemudian dia berlari kencang ke kamar mandi, berniat berpura-pura mandi agar Sarah tidak tahu kalau dia baru saja masuk ke kamar Aaron.


"Aduh, jangan sampai mama Sarah curiga pada kami." Dengan nada suara khawatir, Chiara berlari ke arah kamar mandi, agar bisa bersembunyi dengan alasan mandi, sekaligus meningatkan Aaron bahwa Sarah datang ke kamarnya.


Dengan langkah tergesa-gesa, Chiara yang sudah terlalu gugup berlari ke arah kamar mandi sambil membuka kancing pakaiannya tanpa sadar.


Sebuah kebiasaan yang biasa dilakukan oleh Chiara selama ini jika berada di kamarnya sendiri, melepas pakaiannya sambil berjalan ke arah kamar mandi.


"Om Aaron...." Begitu Chiara melihat sosok Aaron keluar dari kamar mandi dengan bathrobenya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, Chiara langsung memekik tertahan memanggil nama Aaron.


"Chiara...." Aaron sendiri langsung menyebutkan nama Chiara sambil memalingkan wajahnya, karena melihat bagaimana dua kancing bagian atas pakaian Chiara sudah terbuka, sehingga membuat sesuatu yang menonjol di dalamnya meski terbungkus rapi jadi terlihat oleh mata amber Aaron.


"Om, mama Sarah mengetuk pintu, aku mau ke kamar mandi sekalian, biar mama Sarah tidak bertanya macam-macam." Tanpa sadar, Chiara justru mengajak Aaron berbicara sambil mendekatkan wajahnya ke arah Aaron, yang artinya juga mendekatkan bagian dadanya yang sedikit terbuka ke arah tubuh Aaron.


Aist! Chiara! Kamu benar-benar bisa membuatku dalam masalah besar. Kenapa kamu ceroboh sekali my little girl?


Dan itu, bukan saja indah, tapi terlihat begitu menggoda bagi Aaron, membuat jiwa laki-lakinya bangkit dengan cepat, dan darah mudanya bergejolak hebat di dalam sana.


"Kamu masuk ke kamar mandi saja, biar aku yang mengurus mama." Aaron berkata sambil berlalu tanpa berani menoleh kembali ke arah Chiara.


Begitu terdengar suara langkah kaki Chiara memasuki kamar mandi, dan pintu kamar mandi ditutup, Aaron langsung menarik nafas lega sambil tangannya memegang dadanya yang sedang berdetak kencang, sedang punggung tangannya yang lain langsung menyeka dahinya yang terasa basah dengan tiba-tiba, tapi bukan oleh air bekas dia keramas tadi.


"Huft..."


Setelah itu Aaron berdiri sejenak di depan pintu kamarnya, sambil memaju mundurkan bagian depan bathrobe yang dikenakannya untuk mengusir hawa panas yang tiba-tiba menerjangnya.


"Aaron... Chiara... apa kalian di dalam?" Suara Sarah yang memanggil nama Aaron dan Chiara sambil mengetuk pintu kamar Aaron membuat Aaron mau tidak mau mengulurkan tangannya ke arah handle pintu kamarnya.


"Klek...."


Begitu pintu terbuka, Aaron bisa melihat wajah Sarah yang penuh dengan senyum langsung memandangnya.


"Kemana Chiara? Kok cuma ada kamu?" Sarah bertanya sambil melangkah masuk ke dalam kamar Aaron, tanpa menunggu Aaron menjawab pertanyaannya.


"Ooo, istrimu sedang mandi rupanya." Sarah langsung menjawab pertanyaannya sendiri yang menanyakan keberadaan Chiara tadi, begitu mendengar suara air dari kamar mandi.


"Apa kalian tadi mandi berdua? Wah... mesranya ya kalian berdua ini. Mama sudah mengganggu acara kalian ya?" Mendengar pertanyaan Sarah, mau tidak mau wajah Aaron tampak memerah karena canggung sekaligus malu.


Dengan kondisinya yang sekarang, memang bisa saja orang yang melihat berpikir kalau Aaron tadi sedang mandi bersama Chiara, dan terpaksa keluar lebih dahulu karena mendengar ketukan dari arah pintu.


"Sudah, tidak usah malu. Kalian juga sudah hampir dua tahun menikah. Justru mama senang kalau hubungan kalian semakin dekat dan mesra. Wah.... kalau tidak ingat Chiara masih begitu muda dan masih kuliah di semester awal, sepertinya mama ingin sekali segera menimang cucu dari kalian berdua. Padahal kamu sendiri sudah berusia hampir 30 tahun ya... Usia yang matang untuk mulai memiliki anak-anak lucu kalian." Dengan santainya Sarah berkata, padahal Aaron sudah diam mematung di tempatnya dengan wajah malu.


"Aku juga ingin seperti teman-temanku yang sesekali memamerkan foto-foto cucunya." Sarah menambahkan perkataan yang membuat Aaron semakin terdiam.


Mana berani aku menjanjikan cucu ke mama, proses pembuatannya saja belum pernah kami coba.


Aaron berkata dalam hati tanpa berani mengucapkannya dengan kata-kata.


"Eh... apa itu?" Sarah berkata sambil kakinya melangkah cepat ke arah nakas, dimana di dalam salah satu lacinya terdapat tas ransel milik Chiara, yng tadinya sengaja disimpan Chiara disana dengan terburu-buru agar tidak dilihat oleh Sarah.


Aaron yang melihat Sarah berjalan ke arah nakas, langsung ikut bergegas berjalan ke arah sana, sambil melihat ke arah Sarah yang wajahnya tampak kaget, dan matanya sedang fokus menatap sesuatu yang ada di dekat nakas.