
"Tapi... aku tidak punya hak apapun atas bisnis keluarga Malverich. Tidak berhak memutuskan apapun. Apalagi bisnis Grayson tidak ada hubungannya dengan bisnis om Aaron. Grayson memiliki bisnis sendiri diluar bisnis milik keluarga Malverich. Dia mendirikan perusahaannya sendiri." Perkataan Chiara langsung membuat Revina berusaha untuk tetap tersenyum ramah.
Sebelum tujuannya tercapai, Revina berusaha untuk bersikap tenang dan tidak menunjukkan emosinya pada Chiara sedapat mungkin.
"Tidak perlu seheboh itu Chiara. Tentu saja kami tidak meminta kamu yang memutuskan. Kami hanya minta tolong kamu meminta Grayson untuk mempelajari proposal kerjasama yang mau kami ajukan untuknya." Revina berkata sambil menggerakkan tubuhnya ke samping, mengambil sebuah map dari tas yang dibawanya tadi dan disodorkannya kepada Chiara.
"Kami hanya butuh kamu menyampaikan proposal ini kepada Grayson, dan memastikannya dia mau menerima dan mempelajarinya, selanjutnya biar kami yang mengurusnya.
"Oke, aku akan mengirimkannya kepada Grayson langsung." Chiara berkata sambil menerima map berisi proposal kerjasama yang diberikan oleh Revina padanya.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya." Chiara langsung mengernyitkan dahinya saat Revina mengatakan bahwa dia berpamitan untuk pulang dan langsung bangkit berdiri dari duduknya, disusul oleh Mona yang meskipun tidak tahu kenapa Revina tiba-tiba langsung berpamitan, tapi dia tetap mengikuti tindakan Revina.
"Lho... kenapa buru-buru?" Chiara bertanya sambil ikut bangkit dari duduknya.
"Nanti malam aku ada janji dengan seseorang, aku harus pulang sekarang." Revina segera mencari alasan yang paling tepat, meskipun janji kencan butanya masih lama, dan dia masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri.
"O, begitu? Kalau begitu hati-hati, semoga semuanya berjalan lancar." Akhirnya Chiara yang juga sebentar lagi akan mendapatkan pelajaran dari Zachary seperti biasanya langsung menanggapi perkataan Revina.
"Jangan lupa untuk memberikan itu pada Grayson." Sebelum melangkah pergi, Revina mengingatkan Chiara dan menunjuk ke arah proposal yang dia serahkan tadi.
"Tenang saja, aku pasti akan memberikannya kepada Grayson." Chiara berkata dengan sikap percaya diri, karena selama beberapa bulan ini memang hubungannya dengan Grayson cukup dekat, sehingga akan mudah baginya untuk sekedar memberikan itu pada Grayson.
Begitu Revina keluar dari pintu apartemen Chiara, dia langsung menghembuskan nafasnya dengan cukup keras, setelah itu menggeretakkan giginya dengan wajah kesal.
"Ma! Kalau tidak ingat kalau sekarang kita membutuhkan Chiara, rasanya aku tadi ingin segera keluar dari tempat itu! Aaron dan Chiara! Aku benar-benar tidak tahan dengan mereka. Sepertinya mereka berdua ingin memamerkan harta kekayaan mereka kepada kita!" Jika saja Revina tidak ingat kalau dia sedang berada di lingkungan apartemen termewah di kota itu, Revina ingin berteriak kencang untuk meluapkan emosinya.
"Tenanglah Revina, jaga dirimu agar tidak terihat menyedihkan atau memalukan." Mona berkata sambil menepuk pelan bahu Revina yang sedang memegang dadanya dan mendongakkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Sudah, kita fokus saja ke acara kencan butamu nanti malam. Meskipun laki-laki yang akan berkenalan denganmu nanti malam tidak bisa menyaingin kekayaan kelaurga Malverich, paling tidak dia berada jauh di atas kita." Mona kembali mengingatkan rencana kencan buta Revina nanti malam.
Mengingat itu, emosi Revina sedikit mereda. Bukan karena rencana kencan buta itu, tapi ada rasa merasa bersalah dalam hatinya kepada Dani.
Dani, kekasih Revina yang keberadaannya disembunyikan oleh Revina dari keluarganya itu, siang tadi mengatakan kalau hari ini dia mendapatkan bonus tahunan dari perusahaannya dan ingin mentraktir Revina makan malam.
Akan tapi Revina menolaknya, karena selain alasan janji kencan buta yang harus dihadirinya, Revina tahu bahwa bonus tahunan karena kinerja Dani yang baik, nilainya tidaklah besar, hanya ratusan ribu rupiah, yang bagi Revina adalah jumlah uang yang sangat kecil.
Dengan langkah percaya diri, Revina memasuki restauran tempat janji temu dengan pasangan kencan butanya diadakan.
Malam ini Revina mengenakan gaun tanpa lengan berwarna pastel yang terlihat sangat cocok dengan kulit putihnya, membuatnya tampak cantik dan menawan, dengan rambut panjangnya yang menggunakan cat rambut berwarna brunette.
(Brunette adalah warna coklat tua klasik yang cocok untuk semua jenis kulit. Selain memberikan warna cerah pada wajah, brunette juga memberikan kesan eksotis).
Revina membiarkan rambutnya digerai dengan model keriting gantung, yang membuatnya tampil feminim malam ini.
(Rambut keriting merupakan salah satu model rambut yang disukai orang karena membuat rambut terlihat tebal dan bervolume. Salah satu andalan yang termasuk dalam kategori ini adalah model rambut keriting gantung. Keriting gantung ini hanya fokus di bagian bawah (melewati bahu). Gaya keriting ini memiliki kesan elegan tanpa terkesan terlalu formal. Cocok juga untuk wajah bulat.
Rambut keriting gantung banyak dipilih wanita untuk menghadiri acara-acara penting, misalnya pesta atau event-event tertentu. Model rambut keriting gantung juga bisa diandalkan untuk menjadikan rambut tipismu terlihat lebih lebat. Secara umum, istilah keriting gantung merujuk pada gaya penataan yang memadukan rambut lurus dengan keriting atau bergelombang. Bagian pangkal hingga setengah bagian rambut dibiarkan lurus, sementara bagian tengah hingga bawah rambut dibuat bergelombang dan memiliki aksen spiral. Demi menciptakan gaya keriting gantung yang cantik dan tahan lama, banyak wanita terkadang rela melakukan styling di salon).
Begitu Revina melangkah masuk beberpa meter, tampak seorang pelayan berjalan mendekat ke arahnya, dan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyapanya.
"Selamat malam, apa benar Anda adalah Nona Revina Indarto?" Mendengar sapaan dari pelayan itu Revina langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, mohon Nona mengikuti saya. Pak Richard sudah menunggu Anda." Pelayan itu berkata sambil merentangkan tangannya ke samping tubuhnya, mempersilahkan Revina untuk berjalan menuju ruangan yang akan ditunjukkan padanya.
Beberapa langkah kemudaian, Revina berdiri di sebuah ruangan dengan tulisan VIP di atasnya, membuat Revina tersenyum kembali.
Meski Revina belum tahu sosok Richard, tapi bagaimana Richard yang sengaja menemuinya di ruangan VIP restauran ini di hari pertama pertemuan mereka, cukup membuat Revina merasa senang dan bersemangat, merasa penasaran dengan sosok Richard.
"Silahkan Nona, Pak Richard sudah menungu Anda di dalam." Pelayan itu berkata sambil membukakan pintu ruangan itu, dimana hembusan dingin dari AC yang terasa lebih dingin dari ruangan restauran yang bukan ruang VIP langsung menerpa tubuh Revina.
Begitu Revina masuk ke dalam ruangan itu, Revina bisa melihat sosok seorang pria sedang menerima panggilan telepon dengan posisi membelakanginya, sehingga Revina tidak bisa melihat wajahnya, hanya bagian punggungnya saja.
Meskipun begitu, Revina bisa menebak dari setelan jas rapi dan mahal yang dikenakannya, laki-laki bertubuh cukup atletis itu pasti merupakan seorang laki-laki kaya seperti kata mamanya.
"Jangan khawatir, investasi itu bukan investas bernilaii besar untukku, hanya senilai puluhan miliar saja. Kalau begitu, kita akan lanjutkan pembicaraan tentang kerjasama kita besok. Sekarang aku sedang ada janji dengan seseorang. Sampai bertemu besok." Laki-laki itu terdengar mengakhiri kata-katanya dengan yang diajaknya bicara melalui telepon.
Revina sendiri memilih tetap berdiri di dekat pintu masuk ruangan VIP, menunggu sampai laki-laki itu menyelesaikan panggilan teleponnya, dan berbalik ke arahnya, agar mereka bisa memulai pertemuan pertama mereka hari ini.