
Kalau begitu, kenapa juga aku harus buru-buru ingin segera sampai di apartemen, kalau ternyata ada tamu yang tiba-tiba datang dan tidak bisa dihalangi kedatangannya? Hah, tamu yang benar-benar tidak diundang dan datang di waktu yang kurang tepat.
Aaron melanjutkan omelannya dalam hati, meskipun pada akhirnya tangannya menggerakkan setir mobil Ferrari miliknya, untuk memasuki area parkir toserba yang ingin dikunjungi oleh Chiara.
Sedangkan Diego dan Zachary, sejak beberapa menit yang lalu mereka sudah berpisah jalan karena memiliki lokasi tempat tinggal mereka yang berbeda dengan apartemen Aaron.
"Om Aaron... Chiara masuk ke toserba lebih dulu ya. Nanti Om Aaron menyusul setelah memarkir mobilnya." Chiara berkata sambil bersiap membuka pintu mobil.
"Oke, pergilah lebih dahulu, nanti aku susul." Aaron menjawab Chiara, menatap kepergiannya dengan mata tidak berkedip.
Meskipun Chiara sudah berhasil menjadi miliknya sepenuhnya, bagi Aaron, rasa ketertarikan dan cintanya pada Chiara, tidak berkurang sedikitpun, justru semakin besar, membuatnya sulit untuk mengalihkan pandangan matanya dari sosok istrinya itu.
Setelah mendapatkan ijin dari Aaron, dengan langkah-langkah lebar, Chiara berjalan ke arah pintu masuk toserba, dengan senyum tersungging di bibirnya.
Hari ini, untuk pertama kalinya Chiara akan berbelanja barang diantar oleh Aaron setelah mereka benar-benar menjadi pasangan sumai istri sebenarnya.
Dan itu cukup membuat hati Chiara berdebar-debar dan berbunga-bunga, merasa sangat bahagia dengan itu.
Begitu memasuki area toserba, yang dituju pertama kali oleh Chiara tentu saja rak berisi jajaran pembalut dengan berbagai merk yang tertata rapi di rak.
Untuk menuju rak berisi pembalut itu, Chiara harus melewati rak berisi jajaran snack dan minuman dalam kemasan, karena rak berisi pembalut berada di paling ujung toko itu.
"Chiara...." Sebuah suara terdengar menyapa Chiara dengan suara cukup keras.
Chiara yang karena fokus pada rak di ujung toserba itu untuk mencari yang dia butuhkan, tidak menyadari kalau ada seseorang yang dikenalnya sedang berada di dekat rak daerah minuman kemasan, dan sedang memilih beberapa minuman untuk dia beli.
"Eh?" Mendengar namanya dipanggil, Chiara segera menoleh dan mencari sumber suara.
"Apa kabar? Sepertinya sudah beberapa hari ini kita tidak pernah bertemu atau sekedar berpapasan." Brandon berkata sambil berjalan mendekat ke arah Chiara, meninggalkan begitu saja keranjang dorong berisi belanjaannya di dekat rak mibuman kemasan.
"Ah, ya... apa kabar Kak Brandon?" Dengan sikap canggung, Chiara membalas sapaan dari Brandon yang membuatnya merasa tidak nyaman, karena sebentar lagi pasti Aaron datang menyusulnya.
Dan Chiara, tidak ingin terlihat akrab dengan Brandon, yang bisa saja menimbulkan kesalahpahaman antara dia dan Aaron.
"Maaf Kak... aku sedang buru-buru...." Chiara berkata sambil bergegas pergi kembali menuju rak berisi pembalut untuk mencari keperluannya.
"Eh... Chiara, mau aku bantu temani berbelanja?"
"Tidak perlu kak, sebentar lagi omku akan menyusulku." Tanpa menoleh ke arah Brandon, Chiara tetap berjalan dengan Brandon yang tetap mengikuti Chiara dari belakang.
"Chiara...." Brandon langsung menghentikan bicaranya begitu matanya yang tanpa sengaja melirik ke arah tangan Chiara, melihat ada sebuah cincin berlian melingkar di jari manis tangan kanan Chiara.
Sebuah cincin yang baru pertama kalinya ini, Brandon melihat di jari manis Chiara.
Meski dari bentuknya Brandon merasa itu adalah sebuah cincin pernikahan, tetap saja Brandon merasa penasaran dan berharap pemikirannya barusan tentang cincin itu tidak sesuai dengan kenyataan.
"Chiara, itu cincin baru ya?" Dengan sikap ingin tahu, Brandon langsung bertanya kepada Chiara yang tubuhnya sedikit tersentak karena pertanyaan tidak terduga dari Brandon.
"Eh, ini?" Karena pertanyaan Brandon, mau tidak mau Chiara jadi menggerakkan tubuhnya, agar berbalik, memandang ke arah Brandon sambil jari-jari tangan kirinya memegang dan memutar-mutar cincin yang ada di jari tangan kanannya.
Sebuah cincin pernikahan yang sempat dilepaskan oleh Chiara selama dua tahun ini, dan dia hanya menyimpannya dalam kota kotak perhiasan bersama perhiasan lain yang diberikan Aaron waktu itu untuknya.
Tapi sejak Aaron menyatakan perasaan cintanya pada Chiara yang membalasnya, Aaron meminta agar Chiara memakai cincin itu di jari manisnya dan tidak lagi melepaskannya dengan alasan apapun.
Aaron sendiri, sejak menikah dengan Chiara, dia selalu memakai cincin pernikahannya, sehingga banyak orang, terutama para karyawannya yang diam-diam membuat itu menjadi bahan pembicaraan dan mereka mencoba mencari info tentang apakah benar Aaron sudah menikah dan siapa gadis beruntung yang bisa membuat Aaron menjadikannya seorang istri.
"Iya, cincin baru? Dari siapa?" Chiara sedikit meringis mendengar pertanyaan dari Brandon, apalagi di ujung sana, Chiara bisa melihat bagaimana sosok suaminya yang begitu tampan baginya, sedang berjalan dengan sikap bergegas ke arahnya, seolah takut terjadi apa-apa pada istri kecilnya.
"Tentu saja dari suamiku Kak. Ini cincin pernikahan kami." Chiara berkata dengan suara tenang dan senyum manis tersungging di wajahnya.
Perkataan Chiara tanpa sadar membuat tubuh Brandon tersentak keget, dan kakinya mundur selangkah karena benar-benar tidak menyangka dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Chiara padanya.
"Ka... mu sedang bercanda kan Chiara?" Dengan suara ragu Brandon bertanya, masih saja berharap apa yang didengarnya barusan itu tidak benar.