Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
RENCANA PENGARAHAN



Karena mereka bertiga tahu, setelah ini akan ada pengarahan dari wali kelas mereka yang dikenal sebagai salah satu guru killer di sekolah itu.


(Guru Killer biasanya diartikan sebagai guru yang galak. Kehadirannya tak jarang membuat siswa deg-degan, lemas, dan berkeringat dingin.


Guru tipe ini pasti ada di tiap sekolah dan reputasinya dikenal di seluruh tingkat. Ketika guru ini masuk, kelas pasti hening. Pembawaannya tegas ketika mengajar dan ketika murid merespons tidak sesuai harapannya, baik itu karena berisik di kelas atau tidak bisa menjawab pertanyaan, siap-siap saja mendengar omelannya.


Ketika guru tipe ini memberikan soal ujian, hampir selalu ada yang remedial (ujian ulangan karena nilai ujian berada di bawah rata-rata. Mungkin karena tekanan yang diberikan oleh guru, siswa-siswa jadi tidak optimal dalam menyerap materi dan tidak mampu menjawab pertanyaan di ujian).


Hari ini pihak sekolah Chiara akan melakukan pengarahan pada anak-anak kelas 2 SMA, untuk membantu mereka memilih universitas, dengan jurusan yang tepat, sesuai dengan minat dan bakat murid.


Chiara yang kebetulan ketika SD dulu masuk sekolah lebih awal dibanding usia yang seharusnya, membuat di usianya yang ke 16, dia sudah berada di kelas dua SMA, dan dua bulan lagi akan naik di kelas 3 SMA.


Baik Chiara, Jaka dan Grace langsung menghembuskan nafas lega begitu mereka berhasil duduk di bangku mereka, dan wali kelas mereka tampak baru saja berjalan untuk masuk ke dalam kelas.


“Selamat siang.” Sebuah suara yang terdengar berat dari wali kelas Chiara langsung terdengar begitu dia sudah berdiri di depan kelas.


“Selamat siang Pak Guru.” Dengan sikap hormat, para murid segera bangkit berdiri dan membalas salam dari wali kelas mereka.


"Hari ini untuk kelas 2, akan berkumpul di aula sekolah. Akan ada beberapa alumni dari universitas terkenal yang akan datang dan memberikan penjelasan tentang bagaimana proses pembelajaran kuliah di kampus itu, dan benefit apa saja yang bisa kalian dapat jika kuliah di kampus itu." Wali kelas Chiara berkata sambil menatap tajam ke arah dua tiga teman perempuan Chiara yang terlihat heboh di bangku belakang.


Mereka yang sedang berbisik-bisik itu, terlihat senang karena sebelum kembali ke kelas, kebetulan mereka sempat bertemu dengan beberapa alumni kampus yang sedang dibicarakan oleh wali kelas Chiara barusan.


Dan mereka sudah melihat bahwa beberapa alumni kampus itu merupakan orang yang terlihat sukses, dan beberapa dari alumni pria yang datang, juga terlihat tampan, membuat mereka saling berbisik dengan senyum di wajah mereka yang menunjukkan bahwa mereka juga sudah tidak sabar menunggu untuk bisa segera ke aula dan bertemu dengan para alumni itu.


(Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, alumni adalah 'orang-orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi', sedangkan alumnus adalah 'orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi).


Kedatangan para alumnus kampus yang beberapa diantaranya berupakan para pemuda tampan, dan juga para gadis cantik, membuat suasana SMA tempat Chiara bersekolah cukup heboh.


Apalagi beberapa dari alumnus itu ternyata ada yang merupakan orang dengan posisi penting di pemerintahan, ataupun pengusaha muda yang sukses.


Dan yang membuat mereka sedikit heboh, karena mereka tahu beberapa pemuda tampan dan gadis cantik yang sukses itu, merupakan oang-orang yang belum menikah.


"Sudah! Kalian jangan ribut! Jangan membuat malu kelas kita dengan cara kalian yang kampungan seperti itu!" Suara menggelegar dari wali kelas mereka, membuat beberapa siswa siswi yang tadinya sempat berbisik-bisik sambil tersenyum-senyum, menghentikan kegiatan mereka, dan dengan sedikit menunduk, mereka langsung diam.


"Wahhh..."


"Keren...."


"Hebat..."


Bisik-bisik pelan kembali terdengar begitu para siswa siswi mendengar perkataan wali kelasnya.


"Kita akan bersama-sama ke aula sekarang. Keluar kelas dengan teratur, dan jangan membuat keributan!" Wali kelas Chiara akhirnya mengakhiri penjelasannya dan berjalan keluar dari ruang kelas.


"Pasti Chiara adalah salah satu siswa yang akan dapat beasiswa itu."


"Padahal dia anak orang kaya."


"Kenapa? Kamu iri?"


"Harusnya beasiswa kan untuk siswa kurang mampu."


"Tapi dia kan memang pintar. Jadi berhak dong dapat beasiswa."


"Benar, dia memang berprestasi."


Suara bisik-bisik yang terdengar langsung membicarakan tentang Chiara begitu wali kelas mereka terlihat menjauh, membuat wajah Grace memberengut.


Grace yang mendengar bisik-bisik itu segera menoleh dan melotot ke arah teman-temannya yang sedang menggosipkan Chiara, membuat mereka langsung terdiam dan pura-pura melihat-lihat ke arah lain, dengan wajah terlihat polos.


"Mereka itu benar-benar...." Grace menggerutu dengan suara pelan, membuat Chiara yang tadinya sedang mengamati layar handphonenya, setelah melihat tidak ada pesan masuk di sana, langsung menoleh.


"Kenapa kamu marah Grace?" Chiara bertanya sambil memasukkan kembali handphone miliknya ke saku roknya, setelah pesan dari seseorang yang diharapkannya tidak juga muncul, padahal sejak tadi pagi pikiran Chiara begitu tidak tenang karena mengharapkan adanya pesan masuk dari Aaron yang benar-benar membuat Chiara kehilangan fokusnya pada banyak hal, karena bayangan Aaron yang tidak bisa lepas dari pikirannya.