
"Lhah... biasanya kan Lila kalau bermain boneka selalu lama? Mana cukup bermain boneka hanya 15 menit? Iya kan?" Zachary mulai menjawab pertanyaan Lila dengan nada sedikit gusar, karena Lila yang ternyata tidak mau ditinggalkan sebentar oleh mereka, sedangkan bayangan bagaiman indah dan nikmatnya menjalankan tugas kenegaraannya dengan Anna sudah begitu terbayang-bayang di otak Zachary.
Sedang Anna yang mulai melihat tanda-tanda kalau akan sulit membuat Lila teralihkan perhatiannya, hanya bisa tersenyum geli melihat wajah gusar suaminya.
"Iya, tapi hari ini Lila maunya terus bersama Papa dan Mama. Kemarin Lila sudah tidur sendirian. Hari ini selain bermain bersama Papa dan Mama, Lila mau tidur bersama Papa dan Mama. Dan Lila mau tidur di tengah. Pokoknya Lila tidak mau tidur sendiri malam ini." Lila berkata dengan wajah yang mulai berubah menjadi memberengut.
Mampuslah kalau begini. Bisa gagal total rencana menyelesaikan tugas kenegaraan. Hah... bagamana dong dengan nasib juniorku hari ini?
Zachary hanya bisa meratap dalam hati mendengar kata-kata Lila yang dia tahu tidak akan mungkin bisa diganggu gugat.
"Biasanya kan Lila di rumah juga tidur sendiri? Kan Lila sudah besar?" Zachary masih saja berusaha melakukan negosiasi dengan Lila, sebelum akhirnya benar-benar gagal.
Zachary sungguh masih berharap mendapatkan kesempatannya untuk menikmati surga dunia bersama istri tercintanya saat ini.
"Itu kan di rumah. Ini kan di luar rumah? Apa Papa tidak takut kalau tiba-tiba ada hantu atau penculik yang mengambil Lila?" Dengan wajah polos, dan mata sengaja dibuat terbeliak sempurna untuk menunjukkan wajah menakutkan, Lila berkata kepada Zachary, dan itu membuat Anna yang berdiri di samping Zachary langsung tertawa geli.
"Akh... itu omong kosong darimana Lila? Di sini tidak ada hantu, apalagi penculik. Kamu bisa lihat kan, hampir di setiap tempat, ada pengawal yang selalu sigap menjaga semua penghuni villa ini. Lila tahu kan, semua bos papa berkumpul di villa ini, jadi keamanan villa ini sudah pasti terjamin." Zachary langsung menanggapi perkataan Lila yang dengan mata bulatnya yang indah, sedang menatap ke arah Zachary dan Anna dengan tatapan polos sekaligus wajah memohon.
"Kamu ini, kenapa pikiranmu terlalu jauh ke sana? Sini... ayo main dengan mama kalau begitu." Anna berkata lembut sambil mengelus-elus puncak kepala LIla yang selalu berhasil meluluhkan hati Anna dengan sikap lucu dan menggemaskannya.
"Berarti nanti malam Lila juga boleh tidur dengan papa dan Mama?" Lila berkata sambil tangan mungilnya langsung meraih tangan Anna, dan menggandengnya dengan erat dengan senyum lebar menghias bibirnya.
"Boleh.... Apa sih yang tidak boleh buat Lila?" Perkataan Anna membuat senyum di wajah Lila semakin melebar.
Habislah aku kalau begitu. Sepertinya aku harus segera meninabobokan juniorku agar tidak memberontak. Malang sekali nasibku kita hari ini bro.
"Kalau begitu, sekarang kita ke kamar Mama ya. Kita main disana sampai malam. Mama harus terus menemani Lila hari ini." Lila berkata sambil tertawa-tawa kecil, berjalan tepat di samping Anna sambil menggandeng erat tangan Anna.
# # # # # # #
"Huft...." Chiara langsung menghembuskan nafas lega, begitu dia melihat ke arah cermin yang ada di depannya.
Hari ini adalah hari liburan terakhir setelah 5 keluarga Malverich di villa. Besok pagi, mereka akan kembali ke kota temapt mereka tinggal, karena itu Chiara meminta pada Aaron agar dia diijinkan untuk berkeliling villa juga sekitarnya, menikmat keindahan dan udara segar di daerah pegunungan itu.
Tapi begitu pagi ini Chiara melihat bagaimana kulitnya yang putih mulus masih seperti macan tutul, bahkan dari hari pertama sampai hari kelima ini, Chiara merasa semua tanda yang seperti stempel di kulitnya itu justru terlihat semakin banyak.
Yang pertama dibuat Aaron bahkan belum benar-benar menghilang, tapi setiap harinya Aaron justru terus menambahkan tanda kepemilikannya itu sampai Chiara merasa tidak ada cukup ruang lagi di tubuhnya untuk Aaron terus memberikan stempel kepemilikannya itu.
Dan pemandangan dari puluhan, mungkin ratusan itu, membuat Chiara merasa ragu untuk pergi keluar dari kamarnya.
Membayangkan bagaimana malunya Chiara jika para pelayan melihat ke bagian tubuhnya yang sudah seperti anjing dalmantion itu, apalagi kalau sampai Sarah dan Johnson juga Diego sampai melihat keadaannya itu.
Bisa jadi Sarah dan Diego akan menggodanya habis-habisan. Dan Chiara yakin, Aaron pun akan menjadi sasaran godaan dari Sarah dan Diego, yang pastinya bisa membuat kulit wajahnya berubah seperti cangkang kepiting saat direbus.
Pemikiran itu membuat Chiara merasa bingung dan tidak percaya diri meskipun dia begitu ingin keluar dari kamar, berjalan-jalan santai bersama Aaron untuk bisa menikmati suguhan keindahan dan keasrian alam di sekitar villa itu, setelah beberapa hari terkurung di dalam kamar.
Meskipun hanya sehari Chiara dan Aaron benar-benar dikurung oleh Sarah, sedangkan sisa hari yang lain, memang dengan kesadarn penuh, Chiara dan Aaron yang sengaja ingin mengurung diri, agar bisa puas menikmati bulan madu yang hamoir sepoanjang waktu mereka habiskan untuk saling memanjakan dan melakukan kegiatan ranjang mereka.
Karena alasan itu, dengan sengaja atas ijin Aaron, Chiara secara diam-diam meminta bantuan dari Anna untuk bisa menutupi kissmark yang diberikan Aaron di tubuhnya, terutama di bagian leher yang akan langsung terlihat jelas jika dia mengenakan pakaian dengan potongan kerah pendek.