
Rasanya Aaron belum merasa puas hanya melakukannya sekali, masih begitu ingin bisa segera melakukannya lagi setelah selama 2 tahun ini dia benar-benar berusaha keras untuk menahannya dengan baik.
Saat ini, Chiara yang sedang menyandarkan tubuhnya ke dada Aaron dengan tubuh setengah berbaring, membuat salah satu dari bukit kembar Chiara menempel di dada Aaron yang tidak tertutup kain apapun, membuat aliran darah dalam tubuh Aaron mengalir dengan deras dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Bayangan tentang indah dan nikmatnya tentang benda yang tersimpan dengan baik dibalik bra Chiara itu membuat Aaron harus menahan nafas cukup lama agar tidak terlarut pada keinginannya untuk kembali bercinta dengan Chiara.
Semua reaksi tubuh Aaron jelas-jelas menunjukkan bagaimana dia sekarang yang sedang on, termasuk sesuatu yang di bawah sana, senjata pusaka miliknya yang mulai bangun kembali dari tidurnya dan mengeras.
Ternyata, benar kata orang. Setelah sekali merasakan indah dan nikmatnya bercinta membuat seseorang jadi begitu sulit untuk berhenti dan tidak terbayang-bayang dengan pengalaman indah itu. Dan selalu ingin mengulangnya lagi dan lagi.... seperti orang sakaw karena kecanduan.
Aaron berkata dalam hati sambil tersenyum bahagia, karena pada akhirnya bisa melakukan hal seintim itu bersama dengan gadis yang begitu dicintainya, membuat hubungan mereka sebagai suami istri menjadi sempurna dan seperti yang seharusnya.
Dan ke depannya, tidak akan ada lagi kata cerai yang akan pernah terucap dari bibir mereka, membiarkan surat berisi kontrak pernikahan mereka hanya akan menjadi selembar kertas yang tidak lagi ada artinya.
Bagi Aaron sekarang, di masa depan Chiara, akan ada dia. Dan sebaliknya, di masa depan Aaron, akan selalu ada Chiara di dalamnya.
Wah... kenapa aku baru sadar sekarang kalau perut sixpack om Aaron ternyata benar-benar mengagumkan dan membuatku ingin me.... Haist... kenapa aku jadi berpikiran mesum?
Chiara berkata dalam hati sambil sedikit berdehem untuk mengalihkan pikirannya dari keinginannya untuk menyentuh dan mengelus-elus perut Aaron yang baginya terlihat begitu keren dan membuat dadanya mulai berdetak kencang karena mengingat bagaimana sosok Aaron tanpa sehelai kainpun semalam ketika berada di atas tubuhnya.
"Kenapa denganmu? Apa ada sesuatu yang sedang terlintas di pikiranmu?" Aaron yang meliaht bagaimana sikap Chiara yang tiba-tiba tampak gugup, langsung bertanya sambil tersenyum menggoda.
Karena dengan jelas Aaron bisa melihat wajah Chiara yang memerah dengan mata memandang ke arah tubuhnya yang bertelanj...jang dada.
"Eh... tidak Om... tidak ada apa-apa denganku...." Chiara berkata sambil meringis, dengan mata yang tentu saja tidak berani menatap ke arah mata amber milik Aaron.
"Apanya yang tidak apa-apa? Kenapa wajahmu memerah seperti itu. Jangan-jangan...." Aaron berkata dengan nada menggodanya, sengaja dengan tiba-tiba menghentikan kata-katanya.
"Jangan-jangan kamu merasa kelaparan. Aku mau mengatakan itu, tapi sepertinya, pikiranmu justru sedang memikirkan hal yang lain. Apa ada sesuatu yang sedang kamu ingat atau bayangkan? Kejadian semalam mungkin?" Aaron berkata dengan senyum geli masih menghias wajahnya, membuat wajah Chiara bertambah memerah karena tanpa sengaja dia justru mengatakan apa yang ada di pikirannya dngan tersirat.
Dan Aaron dengan jelas menangkap arti perkataan Chiara tentang hal itu.
Sebelum Chiara bisa menjawab perkataan dari Aaron, laki-laki tampan itu tanpa meminta ijin apalagi membiarkan Chiara menghindar, Aaron langsung menggerakkan tubuh Chiara yang bebaring di dadanya, membuatnya dalam posisi setengah berbaring di temapt tidur dengan kepala ditahan oleh tumpukan bantal.
Setelah itu, dengan cepat bibir Aaron langsung menyambar bibir mungil Chiara, menciumnya cukup lama, berniat untuk sedikit melepaskan hasratnya, meski dia tetap harus menahan diri untuk tidak melakukan penyatuan mereka sebelum tubuh Chiara merasa pulih kembali dari rasa lelah dan rasa perihnya di bawah sana.
Aaron masih berniat memperlama ciuman mereka ketika didengarnya sebuah suara ketukan pintu terdengar, membuat tubuh Chiara tersentak kaget dan langsung melorotkan tubuhnya, agar sepenuhnya tertutup dengan selimut.
Meskipun Chiara tidak tahu siapa yang mengetuk pintu, tapi yang pasti, Chiara tidak mau tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam dan lingerie dilihat oleh orang lain walaupun sama-sama perempuan.
“Tunggu di sini, jangan bergerak apalagi turun dari tempat tidur. Biar aku yang mendekat ke pintu.” Aaron berkata sambil berjalan kea rah pintu hanya dengan mengenakan celana boxernya.
“Pak Aaron…. Apa Anda sudah bangun?” Suara dari Zachary membuat Aaron menghela nafasnya
“Sudah.” Aaron langsung menjawab singkat pertanyaan Zachary, yang dengan sikap hati-hati membuka pintu kamar dari luar, setelah memutar kunci kamar yang tadi pagi diberikan oleh Sarah, untuk membantu mengantarkan pelayan yang akan mengirimkan sarapan pagi untuk Chiara dan Aaron.
“Selamat pagi Pak Aaron….” Zachary langsung menyapa Aaron dengan sikap hormat.
Di belakang Zachary tampak dua orang pelayan sedang memegang meja makanan dorong, sedang dua orang lagi tampak berdiri di belakang mereka, bersiap untuk membersihkan kamar yang ditempati oleh Aaron dan Chiara.
“Selamat pagi Pak Aaron…..” Keempat pelayan tersebut langsung memberikan hormat pada Aaron tanpa berani menatap ke arahnya karena tuannya itu hanya mengenakan celana boxernya.
“Kalian berdua, masukkan makanan itu ke sebelah sana. Dan kalian berdua, tunggu di sana. Jangan membersihkan kamar ini sebelum nona Chiara bangun dan mandi. Kalau nanti dia sudah selesai mandi, aku akan memberitahukan kepada Zachary agar kalian bisa membersihkan kamar ini.” Aaron langsung mengeluarkan perintah pada keempat pelayan itu.