
"Aku ingin hal yang paling diinginkan oleh Om Aaron dan akan membuat Om Aaron bahagia bisa segera terwujud." Begitu bibir mungil Chiara mengucapkan keinginannya, tubuh Aaron sedikit tersentak kaget, tidak menyangka kalau permohonan Chiara adalah kebahagiannya.
Dan aku ingin selamanya bisa berada di sisi om Aaron, sebagai tulang rusuknya.
Chiara mengucapkan satu permintaannya yang lain dalam hati dengan senyum manis di bibirnya.
Begitu Chiara membuka matanya, gadis itu melihat mata amber milik Aaron menatapnya dengan wajah bertanya-tanya.
"Kenapa permintaanmu...?"
"Karena kalau Om Aaron bahagia, bagiku itu sudah cukup. Aku juga akan merasa bahagia." Chiara langsung menjawab pertanyaan Aaron yang sebenarnya belum selesai dengan cepat, karena Chiara tahu apa yang hendak ditanyakan oleh Aaron.
"Ayo makan Om, lapar...." Dan Chiara langsung meraih ayam goreng di depannya, dan langsung menggigitnya, dengan wajah terlihat begitu menikmati, sengaja melakukan itu agar Aaron tidak bertanya lebih jauh tentang ucapannya tadi.
"Enak Om, terimakasih ya.... Om Aaron memang paling mengerti tentang kesukaanku." Chiara berkata sambil menahan agar makanan yang masih penuh, yang ada di mulutnya tidak tersembur keluar, dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya sambil terus mengunyah.
"Jangan bicara sambil makan Chiara, nanti tersedak." Chiara langsung meringis begitu mendengar teguran Aaron yang selalu berusaha untuk menjaganya dengan baik dalam hal sekecil apapun sejak mereka saling mengenal, membuat hati Chiara semakin berbunga-bunga.
Aaron sendiri tidak banyak menghabiskan makanan di depannya, hanya sepotong kecil potongan roti ulang tahun Chiara.
Karena melihat bagaimana Chiara yang tampak bahagia dan begitu menikmati makanannya, membuat Aaron lebih memilih untuk mengamati Chiara dalam diamnya, tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menikmati pemandangan itu.
# # # # # # #
"Kenyang sekali Om...." Chiara berkata sambil mengelus-elus perutnya, setelah dia mencuci dan mengeringkan tangannya.
Aaron yang duduk di samping Chiara, sambil menyilangkan kakinya dan menyandarkan kedua lengannya di sandaran lengan kursinya dalam posisi ditekuk dan kedua tangannya saling bertaut, hanya bisa tesenyum geli melihat tingkah Chiara.
Disamping itu, Aaron juga merasa ikut bahagia melihat bagaimana cerianya wajah Chiara malam ini sejak bertemu dengannya tadi.
Jika boleh jujur, rasanya Aaron tidak ingin menyesal sudah datang malam ini. Sayangnya, jika mengingat tentang resiko besar yang bisa terjadi jika dia terus menerus memprovokasi perasaan Chiara, ada sedikit rasa penyesalan yang kadang muncul pada diri Aaron kenapa dia tetap berbuat nekat untuk datang malam ini.
Aaron berkata dalam hati sambil berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum sambil tanpa bosan-bosannya menatap ke arah Chiara.
"Makanlah sepuasmu, sepertinya sekarang kamu bertambah kurus dari terakhir kita bertemu." Aaron berkata sambil menatap ke arah tulang selangka di bawah bahu Chiara yang terlihat lebih menonjol dari beberapa bulan lalu.
Pemandangan tulang selangka Chiara yang menonjol, menunjukkan Chiara cukup banyak kehilangan berat badannya selama beberapa lama ini, membuat hati Aaron merasa tidak tenang, meskipun Aaron tidak berani menatap lama-lama ke arah sana.
Karena gaun yang dikenakan Chiara memiliki potongan leher yang sedikit rendah, menunjukkan dada Chiara bagian atas sampai dengan leher jenjangnya, yang kulitnya terlihat putih mulus, sehingga Aaron harus berusaha keras untuk mengendalikan gejolak hasrat di dalam dirinya.
Rasanya ingin sekali Aaron mendekat ke arah Chiara, mencium ceruk leher istrinya dengan kulit putih mulusnya yang begitu serasi dengan warna merah muda gaunnya, dan jujur saja, itu terlihat begitu menggoda bagi Aaron.
Tapi sebelum pikiran liarnya menguasai akal sehatnya, Aaron segera menoleh, mengalihkan pandangan matanya dari sosok Chiara.
"Masa sih Om? Sepertinya Om Aaron juga bertambah kurus." Mendengar perkataan Chiara, mau tidak mau Aaron kembali menoleh ke arah Chiara, dengan mengubah fokus tatapan matanya ke arah wajah Chiara yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Kamu mau aku mengatur ulang jadwal pelajaranmu dengan Zachary, agar kamu bisa mendapatkan waktu istirahat yang cukup? Kamu harus menjaga kesehatanmu." Penawaran Aaron langsung membuat Chiara melambaikan tangannya dengan cepat ke kanan dan ke kiri.
"Tidak Om! Tidak perlu. Aku menikmati waktu belajarku bersama pak Zac. Kalau aku bertambah kurus, itu karena masa pertumbuhanku belum berakhir. Aku masih bertambah tinggi, sehingga seolah-olah aku bertambah kurus, padahal berat badanku tidak turun, betul tidak Om?" Chiara berkata sambil meletakkan salah satu tangannya ke atas kepalanya sambil tertawa kecil.
"Tapi kalau Om Aaron yang sudah dewasa bertambah kurus, berarti Om memang benar-benar kurus. Om sedang memikirkan siapa hayo?"
K**amu! Aku selalu memikirkanmu. Jarak yang harus ada diantara kita sekarang sungguh menyiksaku.
Dengan cepat, dalam hati Aaron menjawab pertanyaan Chiara yang diucapkannya sambil mengerlingkan matanya dengan wajah terlihat menggemaskan, membuat hampir saja Aaron mencondongkan wajahnya untuk dapat mencium pipi Chiara.
Melihat Aaron tidak menjawabnya, hanya menatapnya tanpa mengeluarkan kata-kata, Chiara langsung memegang lengan bawah aron yang menopang pada sandaran kursi dengan kedua tangannya.
Dan lagi-lagi, tindakan Chiara itu membuat tubuh Aaron seperti tersengat aliran listrik, menjalar dari lengan ke seluruh bagian tubuhnya, dan hampir membuatnya tersedak oleh ludahnya sendiri.
NB: Selamat merayakan hari raya Idul Fitri buat para pembaca yang merayakannya. mohon maaf lahir bathin, semoga kalian semua selalu diberkahi dan diberikan hal yang terbaik dalam kehidupan ini. 💖💖💖💖