
“Pagi Non Chiara.” Bi Umi yang melihat sosok Chiara dengan seragam abu-abu putihnya berjalan ke arah meja makan, langsung menyapa Chiara dengan ramah, sambil menggeser piring berisi makanan yang ada di atas meja makan.
“Kok tumben sepi sekali Bi Umi, kemana yang lain? Tidak ada yang sarapan hari ini?” Chiara bertanya sambil melihat ke arah meja makan, dimana disana hanya ada satu piring saja yang disiapkan oleh Bi Umi, menunjukkan bahwa memang tidak ada orang lain yang berencana menikmati sarapan mereka pagi ini.
“Sejak tadi subuh pak Raksa dan bu Mona, serta non Revina sudah keluar dari rumah Non Chiara. Apa mereka tidak berpamitan dengan Non Chiara?” Bi Umi bertanya sambil mengisi water pitcher yang terbuat dari kaca, di depannya dengan air mineral dari galon.
(Water pitcher bisa diartikan sebagai kendi air, yang merupakan tempat penyajian minuman ( air/sirup ) yang cukup besar untuk menuangkan minuman kedalam gelas saji).
“Mereka mana pernah berpamitan denganku Bi, kemanapun mereka pergi? Dan aku juga tidak akan bertanya daripada menerima jawaban berupa bentakan atau makian.” Chiara berkata dengan santai sambil tersenyum geli, seolah menertawakan nasibnya yang tidak pernah dianggap keberadaannya di rumah mewah ini.
Rumah yang bahkan seharusnya adalah rumah miliknya, peninggalan dari almarhum kedua orangtuanya.
Bi Umi yang terlanjur bertanya seperti itu pada Chiara, jadi merasa bersalah, sudah menanyakan sesuatu yang jawabannya dia tahu persis, dan hal itu mengingatkan Chiara tentang bagaimana buruknya perlakuan Mona dan Revina kepadanya.
“Tidak masalah Bi Umi, aku juga tidak akan menanyakan keberadaan mereka kalau aku sedang tidak ada perlu dengan mereka. Dan kebetulan pagi ini ada satu hal penting, yang perlu aku sampaikan kepada tante Mona.” Chiara yang melihat wajah bersalah dari Bi Umi segera berkata sambil meraih gelas yang sudah berisi air mineral, dan meneguknya dengan sekali teguk hingga tandas tak bersisa.
“Bibi juga tidak tahu kemana mereka pergi. Katanya mereka sedang mensurvey lokasi untuk melakukan foto wisuda non Revina. Tapi kemana tepatnya bibi juga tidak tahu, hanya saja tadi bu Mona sempat berkata kalau sore nanti mereka pasti kembali, dan bu Mona minta pada bibi agar memastikan non Chiara tidak pergi kemanapun nanti sore, karena ada urusan penting antara bu Mona dan non Chiara.” Bi Umi memberikan penjelasan kepada Chiara tentang apa yang dia ketahui.
Aist… tentu saja urusan penting, karena tanpa cap jari dan tanda tanganku, tante Mona tidak akan bisa mendapatkan uang yang menjadi biaya bulananku dari perusahaan papa. Kalau sudah urusan uang, mana mungkin tante Mona melewatkannya. Bisa-bisa dia terkena serangan jantung kalau itu terjadi.
Chiara berkata dalam hati sambil mulai menyendok nasi goreng di depannya, dan berusaha untuk menikmatinya, meskipun sebenarnya dia tidak terlalu lapar.
Biasanya selama ini Chiara lebih memilih menikmati makan di kantin kalau ada kesempatan melarikan diri dari acara sarapan bersama di rumah ini, yang baginya justru merupakan ajang untuk Mona mengomeli, menyalahkannya, meremehkannya, dan membuatnya merasa tertekan dan tidak nyaman hidup di rumah yang sebenarnya nyaman dan mewah ini, jika hanya dilihat secara fisik dan fasilitas yang ada di dalamnya.
Hanya saja, daripada makan di kantin hari ini, untuk hari ini Chiara ingin memamerkan pada Jaka dan Grace, tentang rencananya untuk memilih gaun pernikahannya bersama Aaron, yang pastinya tidak bisa dia bicarakan di kantin dengan posisi banyak orang yang berkumpul di sana, dan banyaknya kemungkinan orang lain bisa mendengar pembicaraan mereka nanti.
“Sore nanti aku ada acara penting yang tidak bisa aku tunda Bi Umi. Karena itu aku ingin memberitahu tante Mona. Kalau tidak, tidak mungkin aku mencarinya kalau bukan karena itu.” Chiara kembali mengatakan niatnya pada bi Umi yang langsung menunjukkan wajah khawatir, karena jika dia tidak bisa menahan kepergian Chiara sore nanti seperti perintah Mona, pasti dia akan mendapakan amukan dari Mona, yang dengan membayangkan saja sudah membuat bulu kuduk bi Umi berdiri dan jantungnya berdetak dengan keras karena takut.
“Tenang saja Bi, aku akan menghubungi tante Mona untuk meminta ijinnya. Kalaupun tidak bisa, nanti aku akan kirimkan pesan padanya untuk berpamitan. Bibi tidak perlu khawatir. Nanti aku juga akan katakan kalau Bibi sudah menyampaikan pesan tante kepadaku, hanya saja aku yang harus menunda acaraku nanti sore dengan tante Mona.” Chiara yang bisa menebak pikiran bi Umi yang tampak gugup, langsung berusaha menenangkan bi Umi.
“Tapi Non….” Dengan suara khawatir, bi Umi tetap berusaha untuk menahan Chiara.
“Tenang Bi, aku janji, semua akan baik-baik saja. Kalau tante Mona marah, biar aku yang menjelaskannya nanti.” Chiara berkata sambil tetap menikmati nasi gorengnya, membuat bi Umi akhirnya hanya bisa menghela nafas dengan sikap pasrah.
Karena bagi bi Umi, meskipun Chiara mengatakan seperti itu, pada akhirnya dia tetap akan mendapatkan amarah Mona, yang tidak pernah mau tahu dan mendengarkan penjelasan orang lain.
Setelah itu, Chiara sibuk berkonsentasi pada sarapan paginya, karena dia ingin segera berangkat ke sekolah, bertemu dengan kedua sahabatnya dan ingin segera menghabiskan sisa hari ini, sehingga sore cepat datang, dan dia bisa bertemu dengan Aaron.
Membayangkan itu, rasanya Chiara ingin agar waktu di seluruh dunia berputar jauh lebih cepat dari biasanya, agar sore bisa segera tiba.
"Bi Umi, aku berangkat sekolah dulu ya." Chiara berkata sambil mendorong kursi makannya ke arah belakang, dan dengan buru-buru langsung berlari keluar dari rumah sambil melambaikan tangannya pada bi Umi yang hanya bisa tersenyum.
Bi Umi ikut senang melihat bagaimana cerianya sosok Chiara, meskipun bi Umi tahu, untuk hidup di tengah-tengah keluarga yang tidak menyayanginya, bagi gadis seusia Chiara bukanlah hal yang mudah untuk dijalani dengan sikap seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi melihat bagaimana ceria dan optimisnya Chiara dalam menjalani hidupnya, membuat bi Umi ikut merasa senang.
# # # # # # #
"Jadi, kamu dan om Aaron ada acara apa nanti sore? Sampai kamu kemarin membuat kami harus ikut memilih pakaian terbaik yang akan kamu kenakan untuk bertemu om Aaron? Apa om Aaron berniat membawamu ke rumahnya?" Jaka bertanya dengan wajah penasarannya.
Demi untuk memenuhi keinginan Chiara agar dia ikut memilih pakaian terbaik yang akan dia kenakan sore ini untuk bertemu om Aaron, Jaka sudah merelakan dirinya kalah bermain PS dengan kakak laki-lakinya, yang mempertaruhkan jatah uang jajan dari orangtua mereka untuk minggu ini.