Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
MENANTI PESAN BALASAN DARI AARON



“Sembarangan saja kamu bicara! Aku mana mungkin menduakan om Aaronku.” Chiara berkata sambil memberengut, karena sudah dituduh berniat selingkuh oleh Grace, padahal baginya, laki-laki yang sudah begitu memikat hatinya hanyalah Aaron seorang.


“Lalu itu tadi foto apa? Aku saja yang melihat langsung berpikir kamu sedang menduakan om Aaron di belakangnya. Kamu kan tahu, bahkan Jaka sudah beberapa kali bilang kalau seniormu itu ada hati padamu. Kok bisa-bisanya kamu pergi berbelanja dengannya? Malam-malam lagi. Seperti orang yang sengaja ada janji bertemu untuk kencan berdua.” Mata Chiara langsung membulat sempurna karena melotot mendengar kata-kata Grace.


Tapi sedetik kemudian, Chiara termenung, merasa apa yang dikatakan oleh Grace memang ada benarnya.


Orang yang tidak mengerti jelas apa yang terjadi kemarin malam, bisa jadi berpikir dia memang seangaja diam-diam bertemu dengan Brandon.


“Hah… benar-benar jadi masalah ya?” Chiara bergumam pelan, lalu menatap lurus ke arah Grace.


“Sebenarnya kemarin malam, aku belanja ke toserba sendirian, tapi tiba-tiba muncul kak Brandon disana dan menyapaku. Dia juga sedang berbelanja disana. Kemarin aku tanpa sengaja mengirim foto ke om Aaron itu, tidak sadar kalau ada foto kak Brandon ikut terambil. Aku mau menghapusnya, tapi ternyata om Aaron sudah terlanjur melihat pesanku berupa foto itu.” Chiara menghentikan bicaranya sejenak, sambil menghela nafas panjang.


“Lalu?”


“Ya aku pikir itu tidak masalah, karena kalau aku hapus, justru om Aaron akan curiga dan bertanya-tanya kenapa dengan foto itu. Jadi… aku biarkan saja. Dan yang membuatku pusing sekarang… ternyata kak Brandon tinggal satu gedung apartemen denganku, bersama dengan sepupunya, yang merupakan dekan di kampus kita juga.” Chiara mengakhiri kata-katanya dengan menahan nafasnya.


“What?” Kali ini ganti Grace yang matanya melotot karena kaget.


“Daebak! Benar-benar sebuah kejutan besar! Benar-benar tidak disangka-sangka. Itu takdir atau kebetulan ya?” Grace berkata sambil tekikik geli.


“Wahhh…. Kisah cintamu sudah seperti drama korea saja. Kalau Jaka mendengar berita ini, pasti dia akan sebal sekali. Diak an tidak suka kamu dekat-dekat dengan kak Brandon.” Grace berkata sambil menepuk-nepuk punggung tangan Chiara yang ada di atas meja.


“Grece….”


“Hmm…”


“Sekarang aku harus bagaimana kepada om Aaron? Aku tidak mau om Aaron salah faham.” Chiara berkata dengan suara lesu, membuat Grace jadi menatapnya dengan wajah simpati.


“Sudah… tenang saja… om Aaronmu itu kamu tahu sendiri orang yang tenang dan begitu perhatian denganmu. Aku yakin, kalau kamu berusaha menjelaskan dengan baik dan meminta maaf, om Aaron pasti akan mengerti sepenuhnya kalau kejadian kemarin itu hanya sebuah kebetulan.” Perkataan Grace membuat Chiara menarik nafas panjang.


“Tapi Chiara… bukannya itu kabar bagus juga?” Grace berkata sambil tersenyum.


“Apanya yang bagus Grace? Om Aaron marah padaku, apanya yang bagus?”


“Lho… harusnya kamu senang kalau memang benar om Aaron marah padamu karena masalah foto kemarin malam. Berarti om Aaron ada perasaan suka dong ke kamu…. Kalau tidak, kenapa juga om Aaron harus marah kamu bersama laki-laki lain? Kan pernikahan kalian cuma sekedar di atas kertas?” Perkataan Grace mau tidak mau membuat Chiara tersenyum, sedikit menyingkirkan awan gelap di wajahnya, membuatnya kembali sedikit ceria.


Dengan sikap bersemangat, Chiara langsung meraih handphonenya, berencana untuk menuliskan pesan kepada Aaron seperti yang dikatakan oleh Grace barusan.


Om Aaron, apa om Aaron marah karena foto kemarin malam? Itu foto seniorku yang tidak sengaja ikut terambil ketika aku melakukan selfie. Kebetulan kami tinggal di gedung apartemen yang sama, dan tidak sengaja bertemu di toserba ketika sama-sama belanja. Aku benar-benar tidak ada rencana untuk sengaja bertemu, apalagi pergi berbelanja dengannya.


Chiara menuliskan pesan kepada Aaron, setelah itu menunggu pesan balasan itu sambil mengamati Grace yang sedang melahap pesanan mie ayam yang baru saja datang untuknya.


Tapi hingga Grace menghabiskan mie ayamnya, dan juga meneguk hingga tandas es teh yang dibelinya, tidak ada satupun pesan balasan dari Aaron.


“Bagaimana? Apa om Aaron membalas pesanmu?” Grace berkata sambil melap mulutnya dengan tissue.


Pertanyaan Grace langsung dijawab dengan sebuah gelengan kepala oleh Chiara, membuat Grace jadi merasa ikut kasihan.


“Eh, tapi Chiara, bukankah selama setahun ini om Aaron memang tidak pernah membalas pesanmu?” Grace langsung teringat tentang apa yagn sudah terjadi setahun ini.


Bahkan saat Chiara mengirimkan foto ulang tahunnya yang ke delapan belas, dan juga foto-foto ketika Chiara menghadiri acara wisuda SMA nya, Aaron tidak sekalipun membalas dan memberikan tanggapan terhadap foto-foto yang dikirimkan oleh Aaron tersebut.


“Iya benar.” Jawaban Chiara membuat mata Grace berbinar.


“Kalau begitu, tenang saja… om  Aaron sekarang pasti sudah tidak marah lagi. Terbukti dia sudah kembali pada kebiasaan lamanya untuk tidak membalas dan menanggapi pesan-pesanmu seperti biasanya.” Grace berkata dengan bersemangat, merasa pendapatnya itu pasti benar.


“Semoga saja…. Pulang yuk. Hari ini Bu Ida pulang kampung, Tia tiba-tiba juga harus pulang karena orangtuanya masuk rumah sakit. Aku harus membereskan piring kotor yang tadi pagi tidak sempat aku cuci karena burur-buru pergi ke kampus.” Chiara berkata sambil bangkit dari duduknya, disusul oleh Grace.


“Oke… kamu istirahat saja di rumah. Sepertinya moodmu kurang bagus karena memikirkan om Aaronmu itu. Lagipula wajahmu sudah layu begitu. Lebih baik kamu tidur siang dulu.” Grace langsung memeluk bahu Chiara dan mengajaknya pergi dari kantin.


# # # # # # #


“Hah….” Chiara mendes…sah pelan dengan posisi berdiri tepat di depan pintu apartemen tempat tinggalnya.


Rasanya memikirkan apa yang terjadi, pesan-pesan dari Aaron semalam, dan juga tidak adanya pesan balasan dari Aaron sepanjang hari ini benar-benar membuat pikiran Chiara menjadi kacau balau, membuatnya merasa tidak bersemangat dan ingin segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, berencana menghabiskan sore ini dengan meringkuk di atas tempat tidurnya.


Begitu Chiara memasuki pintu apartemen, dan beniat untuk menyalakan lampu karena gelap, dan memang sedang tidak ada seorangpun di apartemen itu, tangan Chiara yang hampir menekan tombol untuk menyalakan lampu ruang tamu terhenti di udara, karena matanya menangkap sosok seseorang yang duduk di atas sofa ruang dan sedang memandang ke arahnya dalam diam, dan dalam kegelapan.


“Siapa?” Dengan cepat Chiara bertanya sambil meraih lampu hias yang ada di atas meja yang ada di dekatnya dan berniat menjadikannya senjata, berjaga-jaga kalau orang yang sedang duduk itu adalah seorang pencuri atau orang yang berniat jahat padanya.


Dada Chiara berdetak dengan keras dan mau tidak mau, ada keringat dingin yang mulai membasahi keningnya karena bagaimanapun dia merasa takut, sekaligus khawatir apa yang akan terjadi padanya dan apa yang diinginkan orang yang diam dalam kegelapan itu.


Tanpa disangka-sangka oleh Chiara, sosok orang dalam kegelapan itu bangkit dari duduknya, berjalan ke arahnya dengan langkah tegap.


“Jangan mendekat! Atau aku akan memukulmu! ” Chiara berteriak sambil mengarahkan lampu yang dipegangnya, bersiap untuk memukulkannya ke arah orang itu, meskipun sambil memejamkan matanya, dengan dada yang berdetak semakin kencang, dan semakin hatinya semakin ketakutan.


“Pats….” Dengan satu tangannya, orang asing itu menahan pergelangan tangan Chiara yang mengarahkan lampu padanya, dengan memegangnya, sedang tangannya yang lain menyalakan lampu ruang tamu apartemen.


“Apa kamu sudah mulai lupa dengan suamimu sendiri?” Suara pelan dari Aaron membuat Chiara yang awalnya terus memberontak dengan cara berusaha menggerak-gerakkan pergelangan tangannya yang sedang dipegang orang itu…


Akhirnya dengan perlahan Chiara membuka matanya dan menatap wajah tampan Aaron yang sedang berdiri tegak di hadapan Chiara, yang wajah dan tatapan matanya terlihat tidak percaya dengan siapa yang ada tepat di depannya saat ini.