
“Apa kabar Revina? Maaf kalau aku tiba-tiba datang menjengukmu tanpa memberitahu terlebih dahulu. Apa kamu sudah lebih enakan?” Dani yang sudah berdiri tepat di samping ranjang tempat Revina duduk berselonjor, berkata sambil meletakkan keranjang buah di meja yang ada di samping tempat tidur.
Dani tetap menyapa Revina dengan suara lembut seperti biasanya, seperti saat mereka masih bersama, dan itu membuat hati Revina semakin terkoyak, dan ingin menangis keras-keras untuk meluapkan emosinya saat ini.
“Semoga kondisimu dan juga om Raksa cepat pulih.” Dani kembali berkata kepada Revina yang masih memilih untuk menghindari tatapan mata dari Dani.
“Kenapa kamu datang ke sini? Siapa yang memberitahumu tentang aku?” Tanpa menanggapi perkataan Dani, Revina langsung menanyakan bagaimana Dani bisa tahu tentang kondisinya dan keluarganya, lalu kenapa dia datang ke tempat ini.
Pertanyaan Revina dengan nada ketusnya, membuat Dani menahan nafasnya, lalu tersenyum meskipun Dani tahu Revina tidak melihat senyumannya itu.
“Ada seseorang yang memberitahukan apa yang sudah terjadi padamu dan om Raksa. Jangan memarahinya, aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu di telepon dengannya, karena itu aku sengaja memaksanya menceritakan apa yang sudah terjadi padamu, bukan karena dia yang bocor mulut dan sengaja menyebarkan cerita tentangmu.” Perkataan Dani membuat Revina menghela nafasnya, sekaligus berusaha keras menghentikan airmatanya, agar Dani tidak menyadari kalau dia sedang menangis sekarang.
Rani, tentu saja hanya dia yang bisa membuat Dani mengatahui semuanya tentangku. Aku yang sudah terlalu bodoh, menghubungi Rani di saat jam kerjanya.
Revina berkata dalam hati sambil mengingat bagaimana dia tadi pagi memang sempat menghubungi Rani di tengah kegalauan hatinya karena berbagai peristiwa yang menimpanya.
Rani merupakan satu-satunya sahabat yang dimiliki Revina, dan kebetulan dia bekerja dalam perusahaan yang sama dengan Dani, sehingga tidak mengherankan bagi Revina saat Dani menceritakan perihal asal mula bagaimana dia bisa tahu tentang apa yang terjadi padanya dan Raksa saat ini.
“Terimakasih untuk perhatianmu, lebih baik kamu pergi sekarang. Kalau mamaku melihatmu, dia pasti akan mengomel panjang lebar. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat mamaku.” Revina berkata dengan berusaha keras untuk berbicara dengan nada suara setenang mungkin.
Revina juga sengaja mengusir secara halus Dani, karena saat ini, rasanya dia sudah hampir tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menoleh ke arah Dani, dan jika saja mungkin, memeluk laki-laki yang sebenarnya cukup dirindukannya itu.
“Revina… tolong jangan mengusirku… jangan menanggung bebanmu seorang diri. Semua yang terjadi pasti sangat berat untukmu. Ijinkan aku untuk sekedar membantumu agar beban itu terasa sedikit lebih ringan.” Perkataan Dani membuat Revina menoleh ke arahnya dengan spontan.
“Dani… aku tahu kamu laki-laki yang sangat baik, tapi sayangnya semua sudah terlambat, tidak adalagi yang bisa kamu lakukan untukku. Anggap saja aku adalah bagian dari masa lalumu yang tidak memiliki arti bagimu.” Dani menahan nafasnya sambil menelan ludahnya dengan susah payah begitu mendengar perkataan Revina.
Mata Dani menatap ke arah Revina dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Revina.
Dan itu membuat Revina merasa sangat malu dan juga menyesal, bagaimana dia bisa membuang seorang laki-laki yang begitu tulus mencintainya hanya demi seorang penipu ulung seperti Richard.
“Aku tidak bisa Revina… aku tidak bisa melepasmu begitu saja….” Kali ini perkataan Dani membuat Revina mengernyitkan dahinya.
“Apa maksudmu…..”
“Ijinkan aku untuk menggantikan posisi laki-laki itu, menikahlah denganku.” Kali ini mata Revina benar-benar membulat sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Dani.
“Saat itu aku melepasmu karena kamu lebih memilihnya. Tapi sekarang dia menghilang begitu saja. Kali ini, aku tidak akan melepaskan tanganmu lagi dari genggaman tanganku.” Dani berkata sambil mengulurkan tangannya, memberanikan diri untuk meraih tangan Revina yang terlihat kurus dan sedikit pucat dari yang terakhir Dani ingat ketika mereka bertemu untuk terakhir kalinya dan memutuskan untuk berpisah.
Tindakan Dani membuat mata Revina kembali mengalirkan airmatanya dengan cukup deras.
“Dani… jangan bicara seperti itu… aku tidak lagi layak untukmu, aku sudah terlalu kotor….” Revina berkata dengan nada suara terbata-bata, dengan isak tangis yang langsung terdengar memenuhi ruangan itu, tidak menyangka bahwa dengan kondisnya yang terpuruk, tiba-tiba Dani mengatakan hal seperti itu padanya, membuat rasa bersalah dan menyesal dalam dirinya kepada Dani semakin besar.
“Aku tidak perduli, selama kamu mau meraih tanganku, aku akan selalu menggenggamnya dengan erat, dan tidak akan membiarkanmu terjatuh untuk kedua kalinya. Ijinkan aku menjadi ayah untuk anak dalam kandunganmu. Aku akan mendidiknya dengan baik, seperti anak kandungku sendiri. Bahkan aku bersedia berjanji di depanmu, aku tidak akan pernah mengungkit siapa ayah kandungnya di masa depan, karena bagiku, dia akan menjadi anakku.” Lagi-lagi, mata Revina terbeliak kaget, karena Dani mengetahui tentang anak dari Richard yang sedang dikandungnya sekarang.
Tapi begitu Revina mengingat tentang pembicaraannya dengan Rani yang juga membahas tentang kondisinya sekarang yang sedang hamil, membuat Revina langsung bisa menebak bahwa Dani mengetahuinya tanpa sengaja karena mendengarkan pembicaraannya dengan Rani di telepon.
“Revina, percayalah padaku, aku juga tidak akan pernah mengingat-ingat lagi apa yang sudah terjadi di masa lalu antara kamu dan laki-laki brengsek itu. Di masa depan, kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai dalam hidupku, dan aku akan menjadi satu-satunya suamimu sampai maut memisahkan kita.” Kali ini tangis Revina langsung meledak mendengar janji dari Dani, yang tidak pernah disangka-sangkanya akan datang sebagai penolong untuknya, setelah dia bersikap begitu kejam pada laki-laki itu.
“Maafkan aku Dani… maafkan aku yang sudah membuatmu terluka….” Dengan suara serak karena mengucapkan kata-katanya sambil menangis Revina berkata sambil mengulurkan tangannya, memeluk pinggang Dani yang masih dengan setia berdiri tepat di samping pinggiran tempat tidur Revina.
“Jika kamu ingin aku memaafkanmu, biarkan di masa depan, aku menjadi satu-satunya lelaki yang menjagamu dan selalu berada di sisimu sebagai suami dan ayah dari anak-anakmu.” Dani berkata lembut sambil tangannya mengelus pelan punggung Revina yang tangisnya semakin keras mendengar apa yang dikatakan Dani untuknya barusan.