Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
SUARA YANG DIRINDUKAN CHIARA



Grayson bahkan langsung mengerem mobilnya secara mendadak begitu mendengar Sarah tanpa malu-malu, dengan santainya menyebutkan tentang anak Chiara dan Aaron di masa depan.


"Aduh Grayson, tidak perlu terburu-buru, hati-hati kalau menyetir." Sarah yang ikut kaget karena rem mendadak Grayson, langsung menegur Grayson.


Sedang Chiara langsung menjauhkan tubuhnya ke arah kiri, menempelkan tubuhnya pada pintu mobil, lalu mengarahkan wajahnya ke arah jendela sambil menarik nafas lega, karena ada hal yang mengalihkan pembicaraan mereka tentang anak, dengan wajahnya terlihat malu-malu.


Meskipun Chiara masih berusia 16 tahun, tapi di sekolah masalah hubungan pria dan wanita, dan proses terbentuknya seorang anak juga dipelajarinya.


Apalagi jujur saja, sebelum menikah dengan Aaron, meskipun hanya sedikit dan sekilas, Chiara sempat mempelajari bagaimana kehidupan pernikahan yang baik dan sehat, cara bagaimana agar pasangannya merasa bahagia dan kerasan tinggal di rumah, yang mau tidak mau sedikit banyak membahas masalah hubungan suami istri di tempat tidur, meski sampai saat ini dia tetap tidak begitu mengerti tentang itu.


Sehingga mau tidak mau pikiran Chiara langsung melayang kemana-mana begitu Sarah mengatakan tentang anak yang akan dimilikinya bersama Aaron kelak.


"Eh, iya Ma. Maaf.... Itu... kendaraan di depan juga barusan mengerem mendadak." Akhirnya Grayson hanya bisa mencari alasan yang dia bisa agar mamanya tidak curiga dia melakukan hal itu karena terlalu kaget mamanya menebutkan tentang anak-anak Aaron dan Chiara.


"Ya sudah, lain kali hati-hati kalau menyetir. Kita harus segera sampai di tempat tujuan kita, karena hari sudah semakin malam juga. Keburu waktunya makan malam." Sarah berkata sambil melirik ke arah handphonenya yang tergeletak di kursi sampingnya, yang sedang berbunyi.


"Tidak perlu buru-buru Ma. Hari ini aku akan menemani Mama kemanapun, dan sampai jam berapapun. Makan malam bisa dipikirkan nanti setelah kita selesai Ma." Chiara berkata sambil memperbaiki posisi duduknya yang tadi sempat bergeser banyak karena Grayson mengerem secara mendadak.


"Aduh, jangan begitu Chiara. Kalau di dengar Aaron, kamu bisa kena marah. Mama jadi tahu kenapa Aaron minta sesekali mama mengecek ke bu Ida dan Tia apa kamu cukup tidur dan makan tepat waktu. Ternyata kamu suka menunda-nunda waktu makanmu ya." Mendengar perkataan Sarah, Chiara langsung meringis, sedang Grayson hanya bisa sedikit mendengus kesal, karena lagi-lagi mereka berdua membicarakan perhatian Aaron pada Chiara.


"Wah, panjang umur... baru dibicarakan, Aaron tiba-tiba menelpon." Sarah berkata sambil melirik ke arah Chiara yang secara reflek langsung kembali menoleh ke arah Sarah begitu mendengar Aaron sedang menelponnya.


"Hallo... apa kabar Aaron?" Sarah berkata sambil menekan tanda speaker on di handphonenya.


"Hallo Ma, aku mau menanyakan keberadaan papa. Karena dari 10 menit yang lalu aku hubungi tidak bisa." Suara Aaron langsung terdengar oleh Grayson maupun Chiara, karena Sarah sengaja mengaktifkan mode speaker, agar Chiara bisa ikut mendengar suara Aaron.


Begitu suara Aaron terdengar, kedua tangan Chiara langsung saling bertaut di atas pangkuannya, dengan dadanya yang terasa berdebar keras.


Setelah 3 bulan berlalu dan Chiara begitu menahan dirinya untuk tidak mengirimkan pesan pada Aaron, dan menghubunginya, mendengar suara Aaron sore ini membuat kedua lutut Chiara terasa lemas secara tiba-tiba.


Suara yang begitu dirindukannya, begitu ingin didengarnya, dan sekarang Chiara tiba-tiba mendapatkan kesempatan itu tanpa diduga-duga sebelumnya.


Grayson yang berada dalam posisi menyetir, melirik sekilas ke arah Chiara yang pipinya terlihat sedikit memerah dan menggigit bibir bawahnya, dengan kepala sedikit tertunduk.


Sikap Chiara yang menunjukkan sikap salah tingkah begitu mendengar suara Aaron di telepon, membuat Grayson menarik nafas dalam-dalam, dan amtanya kembali menatap lurus ke depan.


Hanya mendengar suaranya dari telepon... dia sudah terlihat begitu bahagia dan malu-malu. Apa kamu benar-benar mencintai Aaron? Sebegitu besarnya cintamu untuk Aaron yang bahkan setelah menikah tidak pernah ada di sampingmu selama 3 bulan ini?


Grayson berkata dalam hati, membiarkan tangannya menggenggam erat kemudi yang sedang dipegangnya, mencoba untuk menenangkan perasaannya yang cukup bergejolak melihat bagaimana sikap Chiara kepada Aaron.


"Kalau begitu, jika nanti Mama bertemu papa minta tolong papa menghubungiku balik ya. Karena ada satu dokumen yang mau aku tanyakan untuk masalah legalitas. Tapi kalau nanti sudah terlalu malam, tolong besok pagi saja ingatkan papa untuk masalah itu."


"Iya, nanti mama sampaikan ke papamu." Sarah berkata dengan lembut.


Bagaimanapun, Sarah yang menganggap Aaron seperti anaknya sendiri itu, juga merasa rindu dengan anak sulungnya yang sebelumnya tidak pernah pergi lebih dari sebulan.


"Baik kalau begitu Ma. Silahkan melanjutkan acara Mama sore ini."


"Eh Aaron...." Panggilan dari Sarah membuat Aaron menghentikan niatnya untuk memencet tanda merah untuk mengakhiri panggilan teleponnya.


"Kenapa Ma?"


"Masak cuma sebegitu saja? Cuma sebentar kamu sudah berencana mematikan telepon? Apa kamu tidak merindukan seseorang dan ingin tahu kabarnya?" Mendengar pertanyaan Sarah, Aaron langsung mengernyitkan dahinya.


Memang Sarah selalu bersikap baik padanya, dan mereka tidak pernah berpisah dalam waktu terlalu lama.


Bahkan saat Aaron kuliah di Amerika dulu, Sarah akan mengunjunginya maksimalĀ  dua bulan sekali.


Belum lagi Sarah bahkan minimal 2 hari sekali akan menghubungi Aaron meskipun hanya sekedar menanyakan kabarnya jika berpisah dari Aaron.


"Bukannya kemarin Mama baru saja menghubungiku? Dan Mama mengatakan semuanya baik-baik dan sehat-sehat saja?" Pertanyaan Aaron membuat Sarah tersenyum.


Ternyata setelah menikah dengan Chiara, sikap Aaron tetap saja dingin dan tidak banyak bicara. Memang seharusnya mereka tidak berpisah dulu untuk waktu yang cukup lama agar keceriaan Chiara bisa menular ke Aaron meski hanya sedikit saja.


Sarah berkata dalam hati sambil melirik ke arah Chiara, yang Sarah tahu sedang duduk diam, tapi pasti sedang menajamkan telinganya untuk ikut mendengar pembicaraannya dengan Aaron, bisa ditebak dari dari gerak geriknya dengan jelas oleh Sarah.


Chiara yang selalu ceria dan ekspresif, memang tidak bisa menyembunyikan emosi dalam dirinya.


Dari wajahnya yang cantik selalu saja memperlihatkan dengan jelas apa yang sedang dirasakan oleh gadis itu.


Entah sedih, bahagia, kecewa, takut, khawatir, semuanya terlihat jelas di wajah Chiara.


"Memangnya cuma mama saja yang akan merindukanmu di sini. Sebentar...." Sarah menghentikan kata-katanya, dengan satu tangannya menepuk pelan bahu bahu Chiara yang langsung menoleh, sambil tangannya yang lain menyodorkan handphonenya ke arah Chiara, setelah mematikan mode speaker pada handphonenya.


Mata Chiara sedikit terbeliak dan menatap dengan ragu ke arah handphone yang disodorkan oleh Sarah kepadanya itu.


Antara iya dan tidak, Chiara merasa begitu ragu, dan juga takut dia akan membuat Aaron kecewa padanya, karena dianggap tidak mau mendengarkan apa kata Aaron untuk tidak menghubunginya sementara waktu ini.