Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
RASA SIMPATI ALETTA



Dalam diri setiap manusia, sejahat-jahatnya dia, pasti ada sedikit sisi baik, dan keinginan untuk berbuat baik. Aku yakin Aldrich juga orang seperti itu, karena bagaimanapun, dia tetap manusia juga, yang masih memiliki hati dan perasaan.


Chiara berkata dalam hati dan mencoba bersikap tenang, mencoba untuk menemukan cara bagaimana berbicara pada Aldrich.


Jika saja boleh jujur, Chiara bukannya tidak takut dengan sosok Aldrich, yang terlihat jelas tidak perduli dengan apapun di sekitarnya ketika sedang marah.


Bahkan kemarin Chiara sempat melihat sendiri bagaimana Aldrich mencekik anak buahnya dan melemparkannya ke dinding, ketika dilihatnya anak buahnya itu berusaha menggodanya.


Bagi Aldrich, kecantikan Chiara memang bisa membuat para pria tergoda, tapi untuk saat ini Chiara adalah sandera yang baginya sangat berharga untuk dapat menaklukkan Aaron, sehingga dia tidak akan membiarkan seorangpun mengganggu apalagi menyakiti Chiara.


Kalau bukan saja Rey yang melerai, Chiara bisa melihat kalau Aldrich tidak segan-segan membunuh anak buahnya yang dirasa kurangajar dan sudah berani melanggar perintahnya itu.


Bukan karena Aldrich perduli dengan Chiara, tapi Aldrich paling benci dengan orang yang menentangnya dan tidak menuruti perintahnya.


Dan saat itu juga, Aldrich langsung memerintahkan kepada Rey untuk memulangkan anak buahnya yang mencoba menggoda Chiara itu kembali ke Amerika, dan mengurungnya di sana sebagai hukuman atas tindakan lancangnya.


Cih! Ternyata gadis muda itu benar-benar tidak mengenal takut.


Rey yang melihat bagaimana dengan sikap bergegas keluar dari kamar tempatnya dikurung, berjalan keluar, berkata dalam hati dengan sikap meremehkan.


Tapi aku harus mengakui, gadis itu memang luar biasa. Kalau gadis biasa lainnya, pasti sudah ketakutan melihat dengan mata kepala mereka melihat bagaimana kerasnya sikap Aldrich pada orang lain, dan juga bagaimana dia dengan mudah menghancurkan sekelilingnya dengan kekuatan petir yang dimilikinya. 


Rey yang berjalan tepat di belakang Chiara, kembali berkata dalam hati.


Sikap tenang dan percaya diri dari istri mask men itu perlu diacungi jempol. Bahkan dia bisa makan dan tidur seperti tidak terjadi apa-apa. Kalau perempuan biasa lainnya, pasti sudah kehilangan nafsu makannya dan tidak akan bisa tidur dengan tenang. Kalau aku tidak tahu dia hanya manusia biasa, pasti dengan ketenangan yang dia miliki aku akan berpikir dia juga salah satu dari mutan yang memiliki kekuatan super pada tubuhnya.


Lagi-lagi, Rey berkata dalam hati sambil mengamati sosok Chiara dari arah belakang.


Begitu hampir sampai di depan pintu kamar Aldrich, Rey segera mempercepat jalannya, mendahului Chiara dan langsung membuka pintu dan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, seperti yang biasa dilakukannya selama ini.


Melihat itu, Chiara langsung ikut masuk ke dalam, sehingga dia langsung tersentak kaget, begitu melihat bagaimana Aldrich yang sedang berdiri membelakangi mereka dengan bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang berwarna gelap.


Mendengar suara pintu yang dibuka dengan cepat Aldrich menoleh, awalnya hanya memandang Rey dengan tatapan acuh tak acuh, tapi begitu melihat kehadiran Chiara, mata Aldrich tampak terbeliak karena kaget.


Chiara sendiri tampak melongo, menatap ke arah Aldrich yang tampak emosi menyadari kalau Chiara sudah melihat puluhan bekas luka di tubuhnya, yang membuat kulitnya tampak mengerikan bagi manusia normal.


"Ma... maaf Aldrich, dia yang memaksaku untuk bertemu denganmu." Rey berkata sambil melirik ke arah Chiara yang masih menatap ke arah ALdrich tanpa berkedip sedetikpun.


Bukan karena terpesona oleh bentuk tubuh Aldrich yang memang terlihat gagah dan atletis, karena bagi Chiara, tidak ada laki-laki yang lebih keren dari suaminya. Akan tetapi, puluhan bekas luka yang memenuhi permukaan kulit tubuh Aldrich, membuat Chiara merasa bersimpati dan kasihan.


"Kenapa dengan tubuh tuan Aldrich?" Mendengar pertanyaan Chiara, baik Rey maupun Aldrich langsung melotot kaget, terutama Aldrich yang merasa tersinggung dengan apa yang baru saja dipertanyakan oleh Chiara yang sebenarnya tanpa sadar, bibirnya meloloskan ucapan seperti itu karena rasa kaget dan kasihan yang menguasai hatinya, bukan bermaksud meremehkan atau menghina.


"Rey! Bawa dia keluar sekarang! Dan jangan berani-beraninya mengajaknya kesini tanpa ijin dariku!" Suara Aldrich dengan nada marah langsung terdengar menggelegar memenuhi ruangan itu.


"Nona... sebaiknya kita keluar sekarang." Rey langsung mengajak keluar Chiara yang masih mengamati sosok Aldrich dengan wajah polosnya, tidak menyadari kalau saat ini, bahkan salah satu tangan Aldrich sudah bersiap mengeluarkan kekuatan petirnya karena amarahnya bercampur dengan rasa malu yang sedang mengusai dirinya, dan berniat menyerang Chiara dengan kekuatannya.


Selama ini, Aldrich berusaha menyembunyikan dengan baik kondisi kulitnya yang rusak akibat percobaan waktu itu, karena rasa malu dan juga ingatan tentang apa yang dialaminya selalu terlintas dengan jeals setiap dia memandang bekas luka di tubuhnya itu.


Dan selama ini, Aldrich akan marah dan tesinggung jika ada orang yang berani menunjukkan wajah jijik, atau kagetnya saat melihat bekas-bekas luka yang baginya membuatnya terlihat seperti orang cacat.


"Kenapa bisa begitu? Siapa yang sudah begitu kejam membuat tuan Aldrich seperti itu?" Chiara bukannya menuruti ajakan Rey untuk keluar dari kamar itu, tapi justru mengeluarkan pertanyaan yang membuat Rey semakin bingung, namun membuat hati Aldrich mulai bertanya-tanya, kenapa Chiara justru mengucapkan kata-kata dengan nada simpati padanya.


"Ayo kita keluar sekarang Nona!" Akhirnya dengan cepat Rey meraih pergelangan tangan Chiara, dan menariknya keluar dari kamar Aldrich.


"Itu pasti sangat menyakitkan. Benar-benar tidak manusiawi orang yang melakukan hal seperti itu...." Suara Chiara yang terdengar semakin menjauh, membuat Aldrich menarik nafas panjang, dengan dada yang terasa menyesakkan.


Sebelum Chiara benar-benar pergi, Aldrich sempat melirik sekilas ke arah Chiara yang masih saja menoleh ke arahnya, meski Rey sudah menarik tangannya untuk segera keluar dari kamar Aldrich.


Aldrich merasa kaget dan tanpa dia sadari percikan-percikan sinar di ujung-ujung jarinya tiba-tiba menghilang kembali, setelah melihat bagaimana Chiara dengan wajah polosnya, menatap ke arahnya dengan tatapan sedih, bukan jijik seperti yang dilakukan oleh perempuan normal lainnya saat mengetahui kondisi tubuhnya yang penuh dengan bekas luka itu.


Mata bulat Chiara, terlihat menunjukkan dengan jelas bagaimana gadis cantik itu ikut bersimpati dan mengutuk tindakan para ilmuwan yang tidak berperikemanusiaan waktu itu pada Aldrich, sehingga menimbulkan luka fisik seperti itu.


Dan semua kata-kata yang diucapkan oleh Chiara, membuat Aldrich mematung di tempatnya untuk waktu yang cukup lama.


Karena tatapan mata Chiara, yang menatapnya dengan tatapan sendu dan penuh dengan belas kasihan, membuat Aldrich kembali mengingat sosok almarhum kekasih yang sangat dicintainya, Aletta.