
"Om Aaron...." Chiara yang baru saja terbangun dan melihat Aaron sudah berpakaian rapi, sedikit memicingkan matanya, menatap ke arah jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 6 pagi.
"Kamu baru bangun?" Aaron berkata sambil mendekat ke arah Chiara yang merasa heran, melihat sepagi ini Aaron sudah terlihat keren dengan setelan jasnya.
Apalagi begitu Aaron melihat ke arahnya, Chiara bisa melihat betapa besemangatnya Aaron pagi ini.
Wajah Aaron terlihat berseri-seri dan bahagia, tidak seperti biasanya yang seringkali berwajah datar dan dingin.
Aaron sendiri, sejak pukul 3 dini hari, setelah menerima panggilan telepon dari George, tidak bisa berhenti berpikir tentang adanya harapan dia bisa tetap menjadi suami Chiara untuk selamanya, dan mulai berangan-angan.
Dan kebahagiaan yang membuncah di hati Aaron, membuat Aaron tidak bisa tidur, sibuk dengan banyaknya rencana di otaknya, apa yang akan dilakukannya jika memang benar efek kedekatannya dengan Chiara bisa diatasi.
Bayangan tentang semua rencana indah dan membahagiakan yang akan dia lalui bersama Chiara, bahkan membuat Aaron yang hampir setiap detik menoleh ke arah Chiara yang masih tertidur lelap, dengan mata ambernya yang menatap wajah tenang Chiara dengan penuh cinta.
Dan bukan sekedar itu saja, Aaron yang selalu bersikap tenang, selama beberapa jam yang terus menerus mengamati Chiara dalam tidurnya, berkali-kali menyungingkan senyum bahagia di wajahnya.
Rasanya dia sungguh tidak sabar menunggu kedatangan George, dan andaisaja bisa, ingin sekali rasanya Aaron melakukan telelportasi ke Amerika, dan langsung mengajaknya bertelportasi ke Indonesia kembali.
Sayangnya, kekuatan Aaron tidaklah sebesar itu. Dia hanya bisa mengajak orang lain berteleportasi jika jaraknya tidak telalu jauh berpindahnya, meskipun jika dia melakukannya seorang diri dia bahkan bisa melintasi benua, hanya saja… itu akan membuat tenaganya cukup terkuras dan butuh beberapa waktu untuk memulihkannya.
Dan untuk kedatangan George yang akan memakan waktu hampir 24 jam, membuat Aaron begitu tidak tenang, ingin segera hari ini berlalu dan dia bisa membawa Chiara menemui George.
"Eh, iya Om Aaron. Ini masih pagi sekali, tapi Om sepertinya sudah bersiap untuk pergi bekerja?" Chiara berkata sambil menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur.
"Ah ya, ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan hari ini. Dan aku harus menyelesaikannya karena ada tamu penting yang sedang aku tunggu. Sehingga nanti aku bisa bertemu dengannya tanpa terganggu masalah pekerjaan, karena itu semua hal penting akan aku selesaikan hari ini juga." Aaron berkata dengan sikap kembali tenang sambil tersenyum ke arah Chiara.
Rasanya hari ini dia begitu ingin selalu berada di dekat Chiara, dan menikmati keberadaan istrinya itu.
Hanya saja, rencananya untuk bertemu George, sehingga dia harus menyelesaikan pekerjaannya yang lain, membuatnya harus merelakan dirinya pagi ini berangkat ke kantor jauh lebih awal, agar semua jadwal kegiatannya sepanjang hari ini bisa berjalan sesuai rencana.
Mendengar penjelasan Aaron, dada Chiara terasa sedikit tertusuk dan nyeri, karena berpikir bahwa tamu penting yang sedang ditunggu kehadirannya oleh Aaron adalah Angelina.
Chiara berkata dalam hati sambil menatap ke arah Aaron tanpa berkedip sedikitpun.
Bagi Chiara, meski menyakitkan saat berpikir bahwa Aaron terlihat bahagia karena rencana kedatangan Angelina, tapi bagi Chiara, wajah Aaron yant terlihat semakin tampan karena senyum di wajahnya, dan aura bahagianya, membiuatnya sulit berpaling dari Aaron.
“Kalau kamu tidak keberatan, mandilah sekarang, supaya kita bisa sarapan bersama-sama. Tapi kalau kamu masih ingin beristirahat dan mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan para pimpinan di perusahaan papamu tidak masalah.” Aaron berkata sambil membenarkan letak dasinya.
Mata amber Aaron memandang ke arah Chiara dengan tatapan lembut, jika saja bisa, jika saja dia sudah tahu pasti cara untuk dapat mendekat pada Chiara, tanpa menimbulkan efek yang membahayakan, rasanya saat ini juga, Aaron ingin berjalan dengan cepat ke arah istrinya itu, dan mencium mesra bibir mungil yang selama bertahun-tahun ini sungguh terlihat menggoda baginya.
“Aku akan sarapan dengan Om Aaron. Aku akan mandi sekarang.” Chiara berkata sambil melompat dari tempat tidur, dan langsung bergegas ke arah walk in closet untuk mengambil pakaiannya.
“O, ya, pagi tadi mama menerima panggilan telepon dari rumah. Katanya salah satu tukang kebun di rumah ada yang terjatuh dari tangga dan harus diantar ke rumah sakit karena mengalami patah tulang. Jadi pagi tadi mama pulang ke rumah bersama papa. Jadi mama dan papa tidak akan menginap di sini malam ini.” Perkataan Aaron membuat Chiara menghentikan langkahnya sebentar.
Eh… itu artinya… mulai hari ini, aku hanya akan berduaan di rumah ini bersama dengan om Aaron? Aduh… terus… bagaimana dong nasibku? Padahal Bu Ida dan Tia juga belum kembali. Aduh… aduh… aku harus bagaimana dong? Apa aku harus mulai memikirkan untuk mempraktekkan apa yang diajarkan Grace padaku? Ih… memalukan… rasanya aku tidak akan sanggup melakukan hal seperti itu. Aku bukan Angelina yang bisa dengan percaya diri berpakaian dan bersikap berani seperti itu.
Chiara berkata dalam hati dengan wajah bingung, antara nervous tapi juga senang, antara canggung, tapi dia juga senang, dan yang pasti, untuk saat ini, dada Chiara berdetak dengan begitu kencang tanpa terkendali, membayangkan bagaimana dia akan berdua saja dengan Aaron di apartemen nanti malam, tanpa adanya Sarah dan Johnson, juga bu Ida dan Tia.
Karena meskipun selama bu Idan dan Tia belum kembali bekerja Sarah mengirimkan bantuan dua asisten rumah tangga dari kediaman Malverich, tapi setelah semua pekerjaan selasai, mereka akan pulang kembali ke rumah keluarga Malverich.
Hanya dengan membayangkan hal itu, membuat bulu kuduk Chiara meremang, apalagi jika ingat tentang apa yang sudah dijelaskan Grace padanya kemarin di kampus.
“Chiara? Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu ingin beristirahat saja?” Aaron yang melihat Chiara terdiam di tempatnya cukup lama, dan juga ingat bagaimana anehnya sikap Chiara kemarin, membuat Aaron kembali menawarkan agar Chiara beristirahat kembali, tidak perlu menemaninya untuk makan pagi.
“Eh… iya Om, aku akan segera mandi.” Chiara berkata tanpa menoleh, langsung melanjutkan langkahnya ke arah walk in closet.
“kalau begitu aku tunggu di bawah, kata mama, sarapan untuk kita sudah siap.”
“Iya Om, nanti aku akan segera menyusul.” Chiara berkata sambil menarik dari gantungan pakaian yang akan dia pakai hari ini.
“Lebih baik aku memakai pakaian ini dulu, setelah om Aaron pergi, aku baru akan memakai pakaian yang sudah aku beli kemarin. Pokoknya, hari ini aku tidak boleh membiarkan Angelina menang dariku.” Chiara bergumam pelan sambil menarik nafas dalam-dalam, berharap usahanya untuk menunjukkan pada Aaron bahwa dia adalah gadis yang pantas untuk bersanding dengannya berhasil.