Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
KEMBALI BERSAMAMU



“Jangan melompat Chiara!” Aaron langsung berteriak dengan wajah panik begitu melihat Chiara yang sudah mengeluarkan ancang-ancang untuk melompat turun dari gendongannya.


“Ist… kenapa dengan Om Aaron hari ini? Cuma melompat saja… jelek-jelek begini, staminaku juga oke Om, aku rajin olahraga lho. Om kenapa jadi bersikap aneh? Biasanya aku mau melompat, jungkir balik, salto, asal aman paling-paling Om Aaron cuma melihat saja sambil mengawasi dari jauh.” Meskipun akhirnya Chiara menghentikan niatnya untuk melompat, tapi dia jadi mengomeli Aaron yang tampak tidak perduli dengan omelan Chiara, dan mulai menurunkan Chiara dengan perlahan-lahan dan sangat hati-hati di atas tempat tidur.


Sikap Aaron yang sangat berhati-hati menunjukkan kalau dia bahkan seperti meletakkan sebuah gelas kristal di atas batu, sehingga dia harus benar-benar berhati-hati meletakkannya di sana.


“Atau jangan-jangan… Om sudah amat sangat kangen sekali ya denganku? Aku juga kangen berat pada Om Aaronku….” Akhirnya justru dengan gerakan manja dan menggoda, Chiara melingkarkan kedua lengannya di leher Aaron, memeluknya dengan erat, bahkan menariknya dengan sengaja mendekat ke arahnya, sehingga wajah mereka saling berdekatan dengan jarak yang sangat dekat.


Hal itu tentu saja membuat jantung Aaron langsung berdegup dengan begitu kencang, bermarathon di dalam sana, sambil menelan ludahnya dengan kasar.


Tapi sayangnya meskipun juniornya di bawah sana meronta menginginkan Chiara, Aaron terpaksa harus menahan dirinya, mendinginkan otaknya agar bisa mengendalikan diri tidak menyentuh Chiara yang dalam kondisi hamil muda.


Setelah beberapa hari terpisah dari Chiara, tentu saja hal yang begitu ingin dilakukan Aaron adalah menikmati waktu yang intim berdua dengan Chiara, saling memanjakan dan memberikan sentuhan untuk meluapkan kerinduan dan membuktikan cinta mereka.


Sayangnya kondisi Chiara saat ini, membuat Aaron ragu dan takut untuk bertindak lebih jauh, karena dia bukan dokter, justru manusia dengan kekuatan super yang bagi Aaron sendiri justru takut jika dia bisa menyakiti Chiara atau calon bayinya.


Sebelum memastikan kondisi Chiara dan bayinya aman serta sehat-sehat saja, Aaron sudah bertekad untuk sebisa mungkin menahan dirinya untuk tidak menyentuh Chiara, meskipun itu membuatnya sungguh tersiksa.


Apalagi rasa rindu dan hasratnya sudah naik sampai ke ubun-ubun setelah berpisah beberapa hari dari Chiara.


Shii...it! Kalau begini caranya, akan semakin sulit bagiku untuk menahan diri. Sebaiknya aku segera memberitahukan pada Chiara. Jika tidak… mengingat sifat Chiara, dia pasti tidak akan bisa diam dengan tenang tanpa menggodaku dengan sifat cerobohnya. Apalagi, Zachary tidak ada di sini sekarang, bisa sangat berbahaya, meskipun dengan kehamilannya saat ini, membuat medan magnet dalam tubuh Chiara seolah-olah tidak lagi mempan padaku. Hah! Aku sungguh menyesal sekarang! Harusnya tadi aku juga membawa Zachary berteleportasi bersamaku. Kali ini aku benar-benar salah perhitungan.


Aaron sedikit berteriak dalam hati sambil menatap ke arah wajah merah dan menggoda Chiara yang tepat berada di bawahnya saat ini, membuat hasrat Aaron semakin terpancing.


“Aku sangat lega akhirnya bisa kembali bersamamu. I love You my little girl.” Akhirnya Aaron berkata pelan, mengungkapkan rasa bahagianya setelah Chiara berhasil diambilnya kembali dari tangan Aldrich.


Sekilas Aaron mencium bibir Chiara dengan lembut, untuk mengalihkan hasratnya yang sedang menggebu, sekaligus sedikit memuaskan hasratnya dengan couman kecil itu.


Bagaimanapun juga, setelah mereka benar-benar menyatu sebagai suami istri, boleh dikata, Aaron dan Chiara tidak pernah terpisah lebih dari 24 jam, sehingga penyanderaan Chiara selama 3 hari ini, benar-benar membuat Aaron tersiksa karena selain rasa khawatir, juga begitu merindukannya.


Rasa rindu yang begitu besar, yang belum pernah dia rasakan, walau sebelum-sebelumnya, mereka terpisah cukup jauh dan dalam waktu lama.


Sepertinya, setelah kamu benar-benar menjadi milikku seutuhnya, semakin sulit bagiku untuk jauh darimu my little girl. Kamu membuat diriku begitu candu pada keberadaanmu. Sepertinya aku bisa benar-benar gila kalau harus jauh terlalu lama darimu.


My baby… my little girl pasti akan bahagia begitu dia mengetahui keberadaanmu.


Aaron kembali berkata dalam hati, kali ini dengan menyungingkan senyum di bibirnya, dan melepaskan ciumannya.


Kenapa dengan om Aaron? Kenapa dia terlihat begitu menahan dirinya untuk tidak bercinta denganku? Apa yang sudah terjadi yang tidak aku ketahui selama aku tidak ada di samping om Aaron?


Berbagai pikiran negatif langsung terbersit di otak polos Chiara.


“Om Aaron… kenapa…?”


“Aku sangat merindukanmu Chiara. Aku hampir gila karena tidak bisa tidur selama tiga hari ini….” Aaron langsung memotong perkataan Chiara yang memilih untuk diam, membiarkan Aaron menjelaskan apa yang sedang terjadi padanya.


“Aku sungguh tidak bisa membayangkan jika harus hidup terpisah lagi darimu. Sungguh… aku tidak akan sanggup. Karena itu… jangan pernah berpikir untuk pergi menjauh dariku….” Kata-kata Aaron membuat Chiara menyungingkan senyum bahagianya, karena itu menunjukkan kalau Aaron sangat mencintainya.


“Sayangnya, untuk saat ini, meskipun aku begitu menginginkannya, aku tidak berani menyentuhmu….”


“Kena…..”


“Karena ada calon bayi kita di sini….” Belum selesai Chiara mengucapkan pertanyaannya, Aaron langsung berkata sambil mengelus lembut perut Chiara yang matanya langsung terbeliak sempurna karena kaget, dan yang pasti tidak percaya dengan kata-kata Aaron.


“Ti… tidak mung… kin…. Om Aaron bercanda kan?” Chiara langsung bertanya dengan suara bergetar kepada Aaron yang masih mengungkung tubuhnya dengan kedua lengannya.


“Kenapa? Apa kamu tidak menginginkannya?” Aaron berkata dengan nada suara setenang mungkin, meskipun dalam hati dia cukup takut kalau benar Chiara menolak kehadiran bayi mereka, karena jika dipikir-pikir, usia Chiara memang masih sangat muda, dan sangat dimaklumi jika dia merasa belum siap.


“Ti… tidak Om! Tentu saja tidak! Aku pasti akan menjaga dan merawatnya dengan baik, aku akan memberikan kasih sayang yang besar padanya. Hanya saja… apa benar? Aku ham…mil? Anak Om Aaron? Eh? Anak kita?” Kali ini Chaira bertanya dengan wajah memerah dan sikap malu-malu, yang dari tatapan mata dan senyum lebar di bibirnya menunjukkan kalau dia merasa begitu bahagia, bisa menjadi calon ibu bagi anak-anak Aaron, suami yang begitu dicintainya setengah mati.


“Kenapa? Kita kan sudah melakukannya berkali-kali setelah tamu bulananmu pergi? Bahkan semalaman sampai pagi kita mengulang-ulangnya terus. Kamu juga sepertinya terus menginginkannya waktu itu.” Kata-kata Aaron yang mengingatkan malam panas yang mereka jalani sebelum peristiwa penyanderaan itu terjadi, membuat wajah Chiara semakin memerah.


Melihat itu dengan gemas Aaron mencubit pipi Chiara, untuk kemudian dia menjauhkan tubuhnya dari atas tubub Chiara, dan sedikit menghempaskan tubuhnya di samping tubuh Chiara, dengan posisi tubuh sedikit terangkat, dan dia tahan dengan tangannya yang menumpu di tempat tidur.