
"Non... Non Chiara...." Bi Umi kembali memanggil nama Chiara yang terlihat terdiam dan berpikir.
Melihat wajah tidak tenang dari bi Umi, Chiara langsung menghela nafasnya dan menutup pintu kamarnya, bersiap untuk menemui tantenya.
"Eh, iya Bi umi, biar Chiara yang menjelaskan pada tante Mona. Bibi tenang saja. Lebih baik bibi cepat ke dapur saja supaya tidak terkena marah tante Mona." Chiara berkata sambil berjalan ke arah ruang keluarga dimana Mona sudah terlihat duduk di sofa yang ada di ruang keluarga dengan menyilangkan kakinya di atas kakinya yang lain, dengan kedua tangannya bersidekap, dan wajah ditekuk karena menahan amarahnya, karena mendengar sore ini Chiara akan pergi keluar, yang artinya dia tidak akan menandatangani berkas penarikan uang bulanannya hari ini.
Di samping Mona tampak Raksa yang duduk dengan wajah tidak tenang, karena dia tahu, sebentar lagi pasti akan ada teriakan keras dari Mona yang memarahi Chiara.
"Selamat sore Tante, Om." Dengan suara ramah Chiara menyapa kedua orang yang sedang duduk menunggunya di sofa ruang kaluarga itu.
Kepala Mona langsung mendongak begitu mendengar sapaan dari Chiara.
Mata Mona langsung menunjukkan kilat kemarahan begitu melihat sosok Chiara yang sudah rapi, mengenakan pakaian yang menunjukkan bahwa dia memang berencana untuk pergi keluar.
"Sejak kapan kamu keluar masuk rumah seenaknya tanpa berpamitan pada orang yang lebih tua?" Mona langsung menyerang Chiara dengan kata-katanya yang nadanya terdengar cukup tinggi, seperti perkiraan Raksa sebelumnya.
"Eh, anu Tante... sebenarnya tadi sepanjang hari Chiara sudah berusaha menghubungi handphone Tante berkali-kali, tapi tidak tersambung sama sekali." Chiara berusaha menjelaskan apa yang sudah terjadi.
"Tante bukan anak sekolahan seperti kamu yang memiliki banyak waktu luang. Tante tidak harus terus menerus memegang handphone dan mengurus siapa yang menghubungi Tante dengan tujuan tidak jelas." Mona langsung mengucapkan kata-kata yang menunjukkan bahwa dia tidak mau disalahkan oleh Chiara.
"Tapi Tante... Chiara sudah menuliskan pesan untuk Tante, dan pesan itu juga sudah sudah ada tanda kalau Tante sudah menerima dan membacanya...."
"Chiara! Sejak kapan kamu semakin berani menjawab Tante dan tidak mau mendengarkan apa kata Tante! Jangan semakin kurangajar ya kamu!" Mona mulai berteriak keras ke arah Chiara, sedang Raksa terlihat berkali-kali menggosok-gosokan kedua telapak tangannya satu dengan yang lain.
Jika boleh jujur Raksa ingin sesekali membela Chiara, tapi kemarahan istrinya membuat nyalinya selalu menciut sebelum mencoba untuk melakukan itu.
"Lagipula! Kamu tahu hari ini waktunya kamu menandatangani berkas penarikan dana untuk kebutuhan bulananmu! Kenapa kamu justru membuat janji dengan orang lain? Apa kamu pikir mudah bagi tante untuk mengatur keuangan untuk kebutuhanmu yang tidak pernah ada habisnya? Dan perlu seribu satu alasan dan bukti untuk bisa mengajukan biaya tambahan untuk kamu. Yang akhirnya juga belum tentu dikabulkan!" Mona berkata sambil memelototkan matanya, membuat Chiara menahan nafasnya.
"Tante, sebenarnya pak Andri pernah mengatakan pada Chiara kalau masalah tanda tangan bisa ditunda sehari dua hari jika kita sedang ada halangan. Jadi, kita bisa menunda sehari dua hari untuk masalah tanda tangan itu.” Mata Mona melotot sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Chiara yang baginya terdengar sangat-sangat kurangajar.
Chiara sengaja menyebutkan nama Andri yang merupakan salah satu orang kepercayaan alamarhum papanya, yang salah satu tugasnya adalah mengatur tentang uang untuk keperluan Chiara selama sebulan, yang harus diberikan kepada Mona sebagai wali dari Chiara.
“Apa maksudmu? Itu adalah uang jatah bulananmu. Untuk semua kebutuhanmu selama sebulan ke depan! Kamu ingin tidak bisa makan besok?” Mendengar pertanyaan tantenya yang terlalu membesar-besarkan masalah itu membuat Chiara hampir saja meringis karena geli.
Chiara tahu jelas itu hanyalah alasan yang dibuat-buat oleh tantenya, agar dia bisa segera mendapatkan uang jatah bulanan Chiara, dan menghabiskannya untuk membeli barang-barang branded sesuai dengan keinginannya, seperti biasanya.
Dan itu akan dibuatnya menjadi alat untuk pamer pada teman-teman sosialitanya.
(Sosialita adalah seseorang atau sekelompok orang yang selalu berpartisipasi dalam aktivitas sosial dan menghabiskan waktu untuk menghibur dan dihibur pada acara-acara mode kelas atas. Menurut Merriam-Webster kalimat sosialita pertama kali digunakan pada tahun 1928).
"Maaf Tante, kalau memang tidak bisa ditunda, pasti aku tidak akan berani mengabaikannya. Karena pak Andri mengatakan itu tidak jadi masalah, Chiara mohon... kali ini saja Tante... ijinkan Chiara pergi." Chiara berkata dengan nada lirih, dengan suara memohon.
Entah mendapatkan keberanian darimana, Chiara yang biasanya memilih diam, hari ini berusaha keras untuk menyampaikan keinginannya untuk menunda masalah tanda tangan agar dia bisa segera bertemu dengan Aaron.
Mona yang mendengar permohonan Chiara, langsung bangkit dari duduknya, bahkan tangan Raksa yang mencoba menahannya agar tidak terlalu emosi, ditepisnya dengan kasar, membuat Raksa hanya mampu terdiam sambil mendongak, memandang ke arah Mona yang wajahnya terlihat merah padam.
Kurangajar sekali anak ini! Sejak kapan dia jadi berani menentangku? Padahal hari ini aku harus melakukan transfer kepada temanku yang menjual perhiasan yang sudah terlanjur aku pamer-pamerkan kepada yang lain. Dan besok di acara arisan aku harus memakai perhiasan itu atau aku hanya dicap pembohong dan orang tidak berduit yang hanya bisa omong besar tanpa ada bukti. Anak ini benar-benar akan membuat aku malu jika tidak mau tanda tangan hari ini!
Mona berteriak dalam hati sambil melotot ke arah Chiara, dengan tangan kanannya terkepal erat.
Jika saja tidak ada Raksa, dan para asisten rumah tangga yang bisa menjadi saksi atas tindakannya, ingin sekali rasanya Mona menampar wajah Chiara untuk memberinya pelajaran, agar ke depannya berpikir ulang jika ingin menentangnya.
"Bu Mona... maaf...."
Mona hampir saja mengeluarkan sumpah serapah untuk Chiara sebagai ganti keinginan untuk menampar pipi Chiara, ketika didengarnya suara bi Umi yang memanggilnya dengan tiba-tiba, disertai dengan wajahnya yang terlihat takut karena melihat kemarahan Mona.
"Kenapa denganmu Bi? Apa kamu tidak lihat aku sedang berbicara hal penting dengan Chiara?" Mona berteriak dengan suara melengking, membuat Chiara sedikit menggerakkan kepalanya ke samping belakang sambil menutup matanya.
Kalau Chiara tidak ingat bagaimana harus bersikap sopan, rasanya Chiara ingin menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.
"Ma... maaf Bu, ada pak Aaron datang untuk menjemput nona Chiara." Mona sedikit tersentak mendengar perkataan bi Umi yang juga berhasil membuat wajah marahnya berganti dengan wajah bingung.
Aaron? Kenapa tiba-tiba dia datang kemari dan menemui Chiara?
Mona bertanya-tanya dalam hati sambil memandang ke arah Chiara yang masih diam di tempatnya.