
“Eh, Pak Aaron….” Dengan suara bimbang, Zachary menyebutkan nama Aaron.
"Siapkan saja semuanya dengan baik di atas mejaku hari ini. Jika sudah selesai, kamu bisa pulang tepat waktu." Mendengar Aaron mengulangi kata-katanya tanpa adanya nada ragu, apalagi nada bercanda, yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang Aaron, Zachary langsung menganggukkan kepalanya.
Lebih baik aku tidak bertanya lagi dan membantahnya, sebelum pak Aaron berubah pikiran dengan keputusannya. Yes! Aku bisa pulang tepat waktu hari ini. Honey…. I am coming….
Zachary langsung berkata dalam hati sambil menahan senyum bahagianya, karena baru kali ini Aaron membiarkan dia pulang tepat waktu, yang biasanya bahkan kadang hampir tengah malam dia baru bisa pulang ke rumah, dimana istri dan anaknya yang masih berusia 3 tahun biasanya sudah tertidur lelap.
Zachary memang tidak pernah mengeluh sekalipun tentang setiap tugas dan tanggung jawab yang diberikan Aaron padanya, tapi baginya, tidak ada salahnya sekali-sekali merasakan bagaimana nyamannya bisa pulang tepat waktu, selagi Aaron mengijinkannya melakukan itu.
Membuat Zachary memiliki banyak waktu bersama dengan istri dan anaknya, dan Zachary tanpa sadar langsung menyusun banyak rencana hal apa saja yang bisa dia lakukan bersama keluarga kecilnya hari ini sepulang kerja.
"Baik Pak Aaron, saya akan segera cek pekerjaan apa saja yang harus saya serahkan di meja Pak Aaron hari ini. Secepatnya, saya akan mengurus hal itu." Dengan bersemangat, Zachary segera berkata sambil bergegas keluar, untuk mengambil semua berkas laporan yang dia butuhkan untuk nantinya diserahkan kepada Aaron untuk diperiksa, tanpa lagi perduli bahwa Aaron bersikap masa bodoh dengan kata-katanya barusan.
“Yes! Yeah…!” Begitu keluar dari kantor Aaron, Zachary langsung berteriak tertahan, sambil mengangkat kaki kanannya,nhingga lututnya sejajar sebatas perut, dan kedua tangannya terkepal, di depan wajahnya, lalu dia menarik-turunkan siku kedua lengannya, dengan wajah terlihat begitu bahagia.
Beberapa orang yang sempat melihat tindakan Zachary, hanya bisa mengulum senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Pasti pak Zac baru dapat bonus besar dari pak Aaron.” Salah seorang staff yang melihat tindakan Zachary berkata sambil tersenyum dan berlalu pergi.
Aaron sendiri, begitu Zachary meninggalkan ruangannya, dengan kecepatan super yang dia miliki, dengan cepat dia membaca semua berkas-berkas yang ada di hadapannya, dan langsung menandatangani beberapa lembar kertas yang memang membutuhkan accnya.
Tidak lebih dari 1 menit, semua berkas itu sudah bertumpuk lagi di atas meja kerja Aaron, dengan kondisi sudah diperiksa oleh Aaron dan rapi kembali.
Padahal biasanya, Aaron selalu berusaha menyelesaikan semua pekerjaan ya dengan kecepatan manusia normal, terutama di depan Zachary, yang tidak mengetahui bahwa pimpinannya bukanlah manusia normal seperti pada umumnya.
Aaron sengaja melakukan itu bukan hanya karena dia tidak ingin orang lain menyadari sesuatu yang aneh pada dirinya, tapi juga karena hal itu bisa membuatnya berada di kantornya untuk waktu yang jauh lebih lama, sehingga dia tidak perlu cepat-cepat pulang dan berada di rumahnya bersama yang lain.
Sebenarnya Aaron sendiri, selalu menyampaikan pada keluarganya, bahwa dia ingin tinggal menyendiri di apartemen miliknya, namun Johnson dan Sarah seringkali mengungkapkan keberatan hati mereka jika sebelum menikah Aaron lebih sering tinggal di apartemen daripada di rumah mereka.
Mereka merasa tidak rela berpisah dengan Aaron sebelum Aaron benar-benar menikah, karena mereka berdua khawatir, kalau Aaron yang pada dasarnya lebih suka menyendiri, akan semakin tertutup dan tenggelam dalam kesendiriannya jika dia terlalu sering tinggal di apartemennya sendirian.
Sedang bagi Sarah, saat dia memutuskan untuk menerima lamaran dari Johnson, dia sudah bertekad untuk menganggap Aaron seperti anak kandungnya sendiri, dan berusaha keras untuk bisa menjadi seorang ibu yang baik bagi Aaron.
Meskipun pada kenyataannya, sampai sekarang, Sarah merasa Aaron begitu menjaga jarak dengannya, terlebih lagi setelah kematian Jasmine, adik tiri Aaron.
Dalam hatinya yang paling dalam, Sarah selalu percaya bahwa Aaron bukanlah penyebab kematian Jasmine seperti yang dituduhkan Grayson padanya, meskipun jika ada sesuatu yang terjadi pada Jasmine yang disebabkan Aaron, dan menyebabkan kematian Jasmine, Sarah yakin itu bukanlah suatu kesengajaan.
Sarah bisa melihat, bagaimana Aaron adalah sosok yang begitu pendiam dan tertutup, tapi sebagai anak sulung di keluarganya, sejak kecil Sarah juga bisa melihat bagaimana Aaron yang selalu bersuaha keras untuk menjadi kakak yang baik, dan melindungi adik-adiknya.
Meski pada akhirnya, peristiwa hari itu, membuat Grayson begitu membenci Aaron dan menuduh Aaron sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap kematian Jasmine, kakak perepuan Grayson.
Sampai detik ini, Sarah masih berharap jika suatu ketika, Aaron mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu, apa yang terjadi pada Jasmine.
Tapi hingga saat ini, Sarah tidak pernah berhasil mengorek sedikitpun keterangan dari Aaron, bagaimana kejadian yang sebenarnya hingga anak gadisnya itu meninggal.
Aaron tetap diam membisu dan tidak pernah mau mengucapkan sepatah katapun jika itu berkaitan dengan Jasmine.
Hal itu juga yang menjadi salah satu alasan Aaron mau menikah dengan Chiara, agar dia tidak perlu lagi tinggal di rumah, bertemu dengan yang lain, termasuk keluarganya sendiri, juga Grayson yang selalu menatapnya dengan pandangan penuh kebencian, saat mereka bertemu.
"Hah.... kenapa aku ikut senang hanya karena mendengar gadis kecil itu begitu perduli dengan orang lain?" Aaron berkata pelan pada dirinya sendiri, sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya, merasa heran dengan dirinya yang biasanya selalu memiliki komitmen tidak mau ikut campur urusan orang lain.
Tapi hari ini, sudah beberapa kali sepanjang siang ini Aaron bahkan diam-diam berusaha mencuri dengar pembicaraan Chiara dengan orang lain, tanpa diketahui oleh siapapun.
"Aku benar-benar terlalu ikut campur urusan orang lain hari ini. Apa yang sedang aku pikirkan sampai aku berbuat senekat itu untuk gadis kecil itu." Aaron bergumam pelan sambil menarik nafas dalam-dalam.
Tindakan Aaron dengan menguping pembicaraan Chiara sampai beberapa kali, membuatnya merasa tidak ada bedanya dengan seorang penguntit dan tukang mencuri dengar yang sebenarnya membuatnya cukup malu.
Tapi entah kenapa, toh pada akhirnya, dia tetap saja berusaha mencuri dengar pembicaraan antara Chiara dan teman-temannya.
Mengingat itu, membuat bibir Aaron mengeluarkan des...sahan pelan, sambil memejamkan kedua matanya, dengan kepala yang bersandar pada sandaran kursi sedikit mendongak, merasa bingung dengan tindakannya terkait Chiara, gadis kecil yang membuatnya mulai melakukan hal-hal diluar kebiasaannya, yang selama ini dia jaga dan kendalikan dengan baik.