
“Dan untuk Richard, mungkin ini adalah hal buruk yang harus siap kamu hadapi Revina. Richard ternyata adalah seorang penipu ulung yang sudah seringkali menjadikan para gadis dari keluarga kaya raya untuk dijadikan mangsa, dan menguras uang dari mereka, lalu pergi menghilang. Richard adalah penipu professional yang sudah menjadikan beberapa gadis sebagai korbanhya, bukan hanya Revina saja. Dia selalu berlagak sebagai pria lajang yang kaya raya dan menghalalkan segala cara untuk menjebak korbanny. Saat ini dia juga sudah melarikan diri keluar negeri….” Aaron berkata tanpa menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya.
“Ap… apa?” Dengan suara tergagap dan wajah tidak percayanya, Revina berkata pada Aaron yang sikapnya tetap saja terlihat tenang dan datar tanpa emosi.
Bukan hanya tentang uang miliaran rupiah yang sudah dibawa lari oleh Richard, tapi memikirkan bagaimana nasib bayi yang ada dalam kandungannya, membuat dada Revina terasa begitu sakit dan menyesakkan, lalu dunianya tiba-tiba terasa gelap gulita, membuat tubuhnya langsung oleng dan roboh.
“Revina!” Mona langsung berteriak histeris melihat Revina yang pingsan.
Chiara juga tidak kalah terkejutnya sehingga bibirnya mendesiskan nama Revina dengan cepat.
Untung saja Chiara masih menahan lengan Revina sedari tadi, sehingga tubuh Revina tidak langsung jatuh menatap lantai.
“Revina! Bangun nak! Ingat bayi dalam kandunganmu!” Suara Mona yang terdengar sedih, bingung, khawatir dengan air mata yang tidak bisa ditahannya lagi langsung membuat mata Chiara terbeliak karena kaget mendengar ucapan Mona barusan.
Hamil? Bagaimana Revina bisa hamil? Revina dan Richard kan baru akan menikah beberapa hari lagi? Kenapa bisa tiba-tiba Revina hamil? Apa sebelum menikah mereka sudah melakukan….?
Chiara berkata dalam hati sambil bergidik ngeri mengetahui betapa beraninya Revina melakukan hal memalukan seperti itu.
Aaron terlihat mengernyitkan ddahinya sekilas mendengar kata-kata Mona itu, tapi begitu pendengarannya yang tajam bisa mendengar adanya suara detak jantung lain di tubuh Revina, Aaron hanya bisa menghela nafas panjang.
Sungguh mengerikan…
Hanya kata itu yang bisa diucapkan dalam hati oleh Aaron saat mengetahui kenyataan yang harus dihadapi oleh Revina dan keluarga tante Mona ke depannya.
Awalnya Aaron ingin dengan santainya mengatakan agar mereka membatalkan undangan pernikahan Revina dan Richard, meskipun malu tapi paling tidak lebih baik daripada harus bingung memikirkan tentang pernikahan tanpa adanya pengantin pria yang hadir di pesta pernikahannya sendiri.
Dengan info yang didapatkannya dari Zachary dan Iwan, Aaron yakin Richard bisa dipastikan tidak akan pernah bisa diharapkan untuk mau menunjukkan batang hidungnya di pesta pernikahannya dengan Revina yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi itu.
Tapi melihat kenyataan kalau Revina sedang hamil dari benih Richard sekarang, Aaron memilih untuk diam, karena itu sudah diluar kendalinya untuk bisa membantu mengatasi masalah yang terlalu pribadi seperti itu.
“Baik Pak.” Dengan sigap dan cepat, petugas itu langsung menjawab perintah dari Aaron.
Tanpa menunggu lama, beberapa orang petugas keamanan dan juga petugas kesehatan yang diperkejakan sebagai pekerja lepas apartemen, langsung datang bersamaan dengan brankar yang didorong oleh salah satu dari mereka yang datang.
(Pekerja sambilan atau pekerja lepas (Bahasa Inggris: freelance), adalah seseorang yang bekerja sendiri dan tidak berkomitmen kepada majikan jangka panjang tertentu.
Dalam bentuk bahasa Inggrisnya, "freelance", istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Sir Walter Scott (1771-1832) dari Britania Raya dalam novelnya "Ivanhoe" untuk menggambarkan seorang "tentara bayaran abad pertengahan").
“Revina… bangun nak…” Sejak pingsanya Revina, yang sekarang dalam posisi kepalanya berada di paha Chiara yang duduk bersimpuh di lantai, Mona terus memanggil-manggil nama Revina meskipun anak satu-satunya itu tidak memberikan respon sedikitpun.
Chiara yang dengan rela membiarkan kedua pahanya menjadi bantal untuk kepala Revina, sesekali tampak menahan nafasnya, tanpa berniat mengeluarkan sepatah katapun, takut kalau-kalau itu justru memperkeruh suasana nantinya.
“Ayo…” Salah satu orang yang datang langsung mengajak temannya yang lain untuk mendekat ke arah Revina dan bersama dengan yang lainnya, langsung mengangkat tubuh Revina yang masih dalam kondisi pingsan ke atas brankar.
Dengan gerakan cepat namun tetap hati-hati, begitu tubuh Revina sudah berada di atas brankar, mereka segera mendorongnya ke lift, untuk membawanya turun, dimana mobil ambulan sudah siap di bawah sana.
Dengan tergesa-gesa, Mona langsung ikut berlarian di samping brankar, mengikuti pergerakan orang-orang yang mendorong brankar tersebut.
Mona terlihat begitu panik sampai-sampai tidak mengucapkan apapun baik pada Aaron maupun Chiara, bahkan untuk sekedar ucapan terima kasih.
“Om Aaron… bolehkah aku meng….”
“Aku akan mengantarmu pergi ke rumah sakit. Ayo….” Seolah mengerti dengan apa yang akan diucapkan oleh Chiara, Aaron langsung mengajak istrinya itu untuk menyusul Revina yang sudah berada dalam lift bersama dengan Mona dan yang lain untuk menuju rumah sakit.
“Terimakasih ya Om. Aku pikir Om Aaron tidak akan membiarkan aku melihat keadaan Revina.” Chiara berkata sambil tersenyum cerah dan tangannya dengan manja memeluk lengan Aaron.