Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
MANJANYA CHIARA



"Bagaimana denganmu Diego? Ikut kembali bersama mereka atau kami? Atau kamu masih ingin di sini beberapa hari lagi?" Sarah bertanya kepada Diego setelah Zachary bersama Anna dan Lila pergi.


"Aku akan ikut bersama mereka Auntie Sarah. Karena besok aku akan terbang ke Amerika. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan disana, termasuk sedikit membantu pekerjaan Aaron disana." Perkataan Diego membuat Sarah langsung mengernyitkan dahinya.


"Lhoo... memang kenapa? Kan ada Angelina di kantor Amerika?" Dengan cepat Sarah bertanya sambil memandang ke arah Aaron, mencoba untuk meminta penjelasan darinya.


"Angelina sedang mengambil cuti panjang Ma." Aaron langsung menjawab pertanyaan dari Sarah, karena tidak ingin pembicaraan tentang Angelina berlarut-larut, apalagi di ruangan itu, Aaron adalah orang yang paling tahu tentang apa yang sedang terjadi pada Angelina.


"Apa dia atau keluarganya ada yang sakit?" Ternyata Sarah masih melanjutkan pertanyaannya.


"Tidak, hanya saja ada masalah pribadi yang ingin dia selesaikan. Dan itu butuh waktu tidak sebentar. Ayo Chiara, kita bersiap juga untuk kembali." Aaron segera memutus pembicaraan tentang Angelina, karena dari wajah Sarah terlihat dia masih begitu penasaran.


Sepengetahuan Sarah, Angelina merupakan tangan kanan Aaron yang cukup mumpuni, sehingga membuat sedikit banyak, Sarah menaruh perhatian lebih pada gadis cantik itu.


Gadis cerdas dan cantik yang awalnya sempat membuat Sarah berpikir kalau gadis itu ke depannya akan menjadi menantunya, menikah dengan Aaron.


Bagi Aaron sendiri, semakin banyak membicarakan tentang Angelina, dia akan semakin melihat wajah kikuk dan tidak tenang dari Chiara, jadi dia harus segera menghentikan pembicaraan itu demi Chiara.


“O, iya. Kalau begitu, kalian bersiap saja. Mama juga akan bersiap-siap juga, karena nanti siang papa dan mama ada janji makan siang dengan teman yang juga sedang berlibur di sekitar wilayah ini.” Tanpa merasa ada yang mencurigakan sedang terjadi pada Angelina, Sarah berkata sambil menggoyangkan sebuah bel berbentuk lonceng.


Tanpa menunggu lama, beberapa pelayan segera kembali masuk ke ruang makan untuk membereskan meja makan setelah mendengar suara lonceng yang digerakkan oleh Sarah barusan.


“Kalau begitu, aku juga akan beres-beres Auntie. Semoga sisa hari ini menyenangkan buat Auntie dan Uncle.” Diego berkata sambil menggeser kursinya, dan bangkit dari duduknya menyusul Aaron dan Chiara yang sudah bersiap untuk melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


“Kalian hati-hatilah di jalan, jangan mengebut ya. Untuk Chiara… jaga kesehatan, sebentar lagi kamu kuliah sekaligus mulai bekerja part time di perusahaan peninggalan papamu. Jangan terlalu memforsir dirimu. Aaron, jaga Chiara baik-baik. Aku tidak mau kalau sampai Chiara jatuh sakit karena terlalu lelah, harus kuliah dan bekerja.” Sarah berkata panjang lebar memberikan nasehat.


Diego yang mendengar semua nasehat Sarah, seperti seorang ibu yang sedang menasehati anaknya yang masih remaja hanya bisa menahan senyumnya.


Diego berkata dalam hati sambil menghela nafas panjang, ikut merasa senang karena Sarah yang begitu perhatian pada Aaron, sehingga meskipun hubungan mereka adalah orangtua dan anak tiri, tapi pada kenyataannya, hubungan mereka sudah seperti anak dan ibu kandung.


Bahkan terhadap Chiara, sikap dan perlakuan Sarah sudah seperti seorang mama, bukan seorang mertua, membuat siapapun yang melihat hubungan dekat mereka menjadi ikut senang.


“Ayo Diego….” Aaron yang melihat Diego masih termenung di tempatnya, akhirnya memanggil nama sepupunya itu.


“Eh, iya, aku akan membereskan barang-barangku, setelah itu aku akan menyusul kalian supaya kita bisa berangkat beriringan nanti.” Diego yang kedatangannya di villa mengendarai mobilnya sendiri tanpa seorang sopir itu segera berjalan memasuki kamar yang digunakannya, yang berada dalam satu bangunan dengan yang ditempati oleh Sarah dan Johnson itu.


“Oke, kami akan menunggumu di depan.” Aaron berkata sambil berjalan kea rah pintu keluar.


Tubuh Aaron sedikit tersentak kaget ketika tiba-tiba saja, Chiara yang berjalan tepat di sampingnya, tanpa diduga olehnya, langsung melingkarkan kedua lengannya di lengan Aaron, dan berjalan sambil bergelayut manja di sana.


Tapi hanya sedetik saja, setelah itu Aaron tampak menyungingkan senyumnya melihat bagaimana saat ini Chiara terlihat begitu manja memeluk lengannya dengan erat.


Bahkan Aaron menunjukkan perasaan bahagianya dengan sikap Chiara, dengan menepuk-nepuk pelan salah satu lengan Chiara yang sedang melingkar di lengannya.


# # # # # # #


Chiara yang sedang duduk tepat di samping kursi mengemudi, memandang ke arah depan sambil sesekali tersenyum setiap kali dia melirik ke arah Aaron.


"Kenapa dengan mata dan senyummu hari Chiara? Sepertinya kamu suka sekali melirikku dan tersenyum diam-diam? Apa ada yang aneh dengan wajahku?” Pertanyaan Aaron yang sebenarnya diucapkan dengan nada santai tanpa adanya tanda-tanda marah atau menuduh, tetap saja membuat wajah Chiara merah padam.


“Eh… iya Om Aaron…. Tidak tahu kenapa, sudah berhari-hari bersama dengan Om Aaron, tapi aku tetap saja ingin selalu melihat wajah Om Aaron. Rasanya sulit sekali untuk tidak menoleh ke arah Om Aaron.” Dengan suara pelan dan sikap polosnya, Chiara berusaha menyampaikakan isi hatinya pada Aaron.