
“Eh Nona Chiara… lebih baik pak Aaron pulang sekarang, agar kedua orangtuanya tidak bertanya-tanya…” Zachary berkata dengan suara ragu.
“Ah ya, aku lupa Pak Zac… mereka pasti akan khawatir. Maaf Om Aaron….” Chiara berakta pelan, baru sadar kalau di rumahnya masih ada kedua orangtua Aaron yang pastinya akan bertanya-tanya kalau sampai Aaron tidak pulang malam ini.
Dan Zachary… kepulangannya juga pasti sudah ditunggu oleh istri dan anaknya.
Aku tidak boleh bersikap egois pada om Aaron maupun pak Zachary.
Chiara berkata dalam hati sambil tersenyum dengan berusaha untuk tetap bersikap ceria, agar tidak membuat Aaron maupun Zachary merasa bersalah, karena tidak bisa memenuhi permintaannya.
“Kalau begitu, Om Aaron dan Pak Zac pulang saja sekarang. Ini memang sudah malam.” Tanpa menjawab perkataan Chiara, Aaron menatap ke arah Chiara dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Chiara.
“Serius Om Aaron. Jangan memandangku seperti itu dong… aku akan baik-baik saja. Sekarang Om Aaron bisa pulang, supaya aku juga bisa bersiap untuk tidur.” Chiara berkata sambil dengan sikap polosnya, menarik lengan Aaron, dan mengajaknya berjalan ke arah pintu keluar apartemen.
“Chiara….” Chiara langsung tertawa kecil mendengar Aaron memanggil namanya dengan suara yang terdengar begitu pelan.
“Tidak apa-apa Om Aaron. Toh setelah menikah, Om Aaron juga akan pergi ke Amerika. Jadi, aku harus membiasakan diri untuk tinggal bertiga dengan Bu Ida dan Tia mulai sekarang.” Chiara berkata dengan wajahnya yang terlihat tetap ceria, membuat Aaron melenguh dalam hati.
Bagi Aaron, permintaan Chiara untuk dia menginap malam ini dengan sikap polosnya tadi, cukup membuatnya terusik.
Meskipun dia tidak mungkin memenuhi permintaan Chiara untuk saat ini, tapi meninggalkan Chiara yang merasa tidak nyaman di tempat baru, menjadi hal yang cukup membuatnya khawatir, apalagi, tadi Chiara sempat bercerita tentang bagaimana susahnya dia tidur di tempat yang baru.
“Selamat malam Om Aaron, Pak Zac, hati-hati di jalan ya.” Chiara langsung mengucapkan salamnya begitu pintu apartemen sudah terbuka.
Sedang Aaron yang akhirnya tetap melangkahkan kakinya keluar dari pintu apartemen, langsung membalikkan tubuhnya sehingga berhadap-hadapan dengan Chiara.
“Ya Om?” Chiara langsung mendongakkan kepalanya dan menatap lurus ke arah Aaron yang dilihatnya terlihat jelas ingin mengatakan sesuatu padanya.
“Jangan lupa menutup jendela kamarmu sebelum tidur.” Perkataan Aaron jelas membuat Chiara langsung meringis, mengingat kebiasaan buruknya yang seringkali memang lupa untuk menutup dan mengunci jendela kamarnya.
“Wah…. Nasehat Om Aaron kenapa bisa begitu tepat sasaran ya? Seolah Om Aaron tahu kebiasaan burukkku yang satu itu? Aku akan ingat itu dengan baik Om. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk selalu ingat menutup dan mengunci jendela kamarku agar tidak ada pencuri masuk lewat jendela.” Perkataan Chiara cukup membuat Zachary tersenyum geli,
Nona Chiara ini benar-benar lucu, masak sih ada pencuri masuk lewat jendela di apartemen pak Aaron yang letaknya di lantai 50? Kalau mungkin menyusup lewat pintu masuk sepertinya lebih masuk akal deh.
Zachary berkata dalam hati sambil tersenyum mendengar perkataan Chiara yang asal bicara itu.
“Nona Chiara, jangan lupa menutup pintu apartemen dengna baik juga ya.” Akhirnya Zachary ikut bicara, membuat Aaron langsung mendukung perkataan Zachary dengan sebuah anggukan kepala.
“Tenang Pak Zac. Pasti itu… kalau tidak, nanti ada barang-barang mewah di apartemen ini yang dicuri, mana sanggup aku menggantinya?” Zachary kemabli tersenyum geli mendengar perkataan Chiara yang bahkan lebih takut pencuri mencuri barang-barang mewah di apartemen Aaron daripada jika pencuri itu melukainya.
Aaron sendiri, tanpa sadar, ikut tersenyum mendengar Chiara yang lebih mengkhawatirkan barang-barang dalam apartemen dibanding dengan dirinya sendiri.
Ma… manis sekali… kata-kata om Aaron… Akh… Om Aaron memang paling bisa membuat hatiku berdebar tidak karuan!
Chiara berteriak dalam hati sambil menatap ke arah Aaron tanpa berkedip, dan wajah malu-malunya.
“Chiara… jangan pernah berpikir seperti itu. Keselamatanmu, jauh lebih berharga dari semua barang-barang yang ada, semewah apapun itu.” Mendengar Aaron mengulangi kata-katanya, Chiara langsung menganggukkan kepalanya dengan pelan.
“I… iya Om Aaron….” Akhirnya Chiara menjawab dengna suara pelan, membuat Aaron tiba-tiba saja tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menepuk pelan kepala Chiara.
“Jaga diri baik-baik. Kalau malam ini kamu merasa sulit tidur, Kamu bisa menelponku kapan saja, mungkin dengan mengobrol kamu bisa cepat mengantuk.” Penawaran dari Aaron, benar-benar membuat mata Chiara membulat sempurna, tidak percaya kalau tiba-tiba Aaron mengatakan hal semanis itu padanya.
Termasuk Zachary yang langsung menoleh dan menatap ke arah Aaron dengan tatapan tidak percaya.
Setahu Zachary, Aaron bukanlah orang yang mudah bahkan pernah mengatakan hal yang terdengar begitu manis seperti barusan, apalagi terhadap seorang gadis.
“I… iya Om Aaron, semoga aku bisa segera tertidur nanti, jadi tidak perlu mengganggu waktu tidur Om Aaron.” Chiara menjawab perkataan Aaron dengan sikap gugupnya.
“Sudah malam, segeralah masuk ke kamar, beristirahat, dan nikmati tidurmu malam ini dengan nyenyak ya.” Perkataan Aaron selanjutnya membuat Chiara mau tidak mau mengangguk dan memundurkan tubuhnya, masuk ke dalam apartemen, dan menutup pintu apartemen, lalu menguncinya dengan baik.
Untuk beberapa saat, Chiara membiarkan punggungnya menempel di pintu masuk apartemen, dengan kedua tangannya memegang handel pintu apartemen, sambil senyum bahagia terus tersungging di bibir mungilnya.
Om Aaron benar-benar sudah membuatku tidak bisa lari dari pesonanya. Om Aaron benar-benar sudah membuatku cinta mati padanya. He he he.
Chiara berkata dalam hati sambil berlati-lari kecil dengan lincah, berjalan ke arah kamar yang sudah ditetapkan Aaron sebagai kamarnya.
# # # # # # #
Beberapa kali Chiara sudah berganti posisi tidurnya, dengan mata yang berusaha keras untuk dipejamkannya, tapi pada akhirnya, tetap saja pikirannya melayang kemana-mana, membuatnya tidak bisa tidur.
Suasana baru, aroma ruangan yang asing, membuat Chiara tidak bisa menikmati tidurnya, meski hanya sekejap saja.
Chiara sudah berusaha menyalakan musik klasik dengan irama lembut melalui handphonenya, agar dia bisa segera tertidur, tapi tampaknya hal itu tidak membantu sama sekali.
Sedangkan biasanya, saat dia sedang bersantai di hari liburnya, menghabiskan waktu di kamar, begitu mendengar musik klasik, pikiran Chiara langsung tenang dan rasa kantuk pasti tidak akan bisa dihindarinya lagi.
“Aduh… padahal rasanya badanku lelah sekali… tapi kenapa tetap saja aku sulit untuk tidur ya?” Chiara berbisik pelan sambil bangun dari berbaringnya.
Chiara mengucek-ucek matanya sebentar, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berjalan keluar dari kamarnya.