
"Jangan selalu bersikap kejam seperti itu padaku Aaron. Kamu tahu duniamu akan semakin sepi kalau tidak ada aku di dekatmu. Meskipun ada gadis kecil itu, kamu tahu kamu tidak boleh berada di dekatnya terlalu sering, atau kamu akan membahayakan dirimu sendiri dan gadis kecilmu itu.” Angelina berkata sambil mengedipkan salah satu matanya, berharap Aaron memberikan reaksinya.
“Atau kamu mau mengajak aku langsung kembali ke Amerika dengan kemampuan teleportasimu? Dengan senang hati aku akan memelukmu dengan erat jika kamu berencana membawaku berteleportasi." Kata-kata Angelina tidak mendapatkan jawaban sepatah katapun dari Aaron, tapi tatapan mata Aaron dengan wajah datarnya, bagi Angelina sudah menunjukkan bahwa Aaron sedang tidak ingin becanda dengannya.
(Teleportasi adalah pengalihan materi dari satu titik ke titik lain tanpa melewati jarak antara kedua titik. Proses ini kurang lebih instan, mirip dengan konsep apport, kata yang sebelumnya digunakan dalam konteks spiritualisme. Teleportasi digunakan secara luas dalam karya fiksi ilmiah dan fantasi.
Dalam dunia pefilman, teleportasi sendiri adalah teknologi yang bisa membawa manusia 'melesat' ke tempat tujuan dalam sekejap. Jika kamu penggemar film-film fiksi ilmiah seperti Star Wars dan Star Trek, pasti paham betul dengan cara kerja teknologi yang disebut "Warp" ini).
Dan seperti kata Angelina, Aaron bisa saja membawa benda apapun berteleportasi bersamanya dengan cara memeluknya.
Angelina sendiri pernah sekali membuat Aaron terpkasa membawanya berteleportasi ketika para anak buah Aldrich hampir saja menangkap mereka.
Hanya sekali, dan itupun dengan cepat, Aaron tanpa sengaja langsung mendorong tubuh Angelina begitu proses teleportasi selesai, sehingga Angelina langsung tertawa geli melihat bagaimana sosok Aaron yang begitu menjaga jarak dengan siapapun, termasuk Angelina yang sebenarnya merupakan satu-satunya orang yang paling tahu dan mengenal dengan baik siapa Aaron sebenarnya.
"Kalau kamu tidak segera pergi, aku tidak keberatan untuk menggunakan kekuatanku untuk melemparmu ke angkasa sampai batas dimana tidak ada udara untuk kamu bisa bernafas." Dengan suara tenang, tapi tatapan matanya terlihat mengintimidasi dan serius, Aaron berkata kepada Angelina.
"Oke-oke, aku pergi sekarang. Kalau begitu sampaikan salamku pada gadis kecilmu. Perasaanku mengatakan, tidak lama lagi kami berdua pasti akan bertemu." Angelina berkata sambil meletakkan ujung-ujung jari tangan kanannya ke bibirnya, mengecupnya, lalu mengarahkannya ke Aaron sambil meniupnya lembut sambil menyunggingkan senyum menggodanya.
Aaron yang melihat tindakan Angelina hanya menatapnya tanpa menunjukkan ekspresi apapun, membuat Angelina kembali memberengut.
"Benar-benar sulit membuatmu untuk sekedar melemparkan sebuah senyuman, bahkan untukku. Apa sih susahnya tersenyum Aaron? Kalau kamu tersenyum, aku jamin semua wanita manapun yang kamu inginkan, akan tunduk di bawah kakimu, termasuk aku juga. Ah, sudahlah, sepertinya percuma berbicara dengamu tentang hal seperti itu. Kamu akan terus mengabaikanku. Aku pergi dulu." Angelina akhirnya berkata dengan nada kesal, karena tidak berhasil menggoda Aaron.
"Angelina, urus saja urusanmu sendiri. Jangan mencoba untuk mengganggunya." Kata-kata Aaron membuat Angelina yang baru saja berniat untuk merubah bentuk tubuhnya menjadi sama seperti lantai dan berencana keluar dari ruangan Aaron, langsung menghentikan gerakannya.
"Ist! Bersikap sok dingin, padahal terlihat jelas kamu begitu perduli dan melindungi gadis kecilmu itu! Asal jangan sampai kamu melupakan tujuan awalmu karena keberadaan dia Aaron. Kita bukan manusia biasa yang bisa hidup normal seperti dia. Apalagi kamu tahu resiko besar apa yang akan terjadi kalau kamu berada di dekat gadis kecil itu." Begitu menyelesaikan kata-katanya, Angelina langsung merubah wujudnya dan pergi meninggalkan Aaron.
Begitu sosok Angelina sudah menghilang, Aaron langsung menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursinya, dan langsung memberikan ijin untuk masuk ke kantornya, saat seseorang mengetuk pintu kantornya dan membunyikan bel.
"Apa ini sudah semua yang harus aku kerjakan sore ini Zachary?"
"Sudah Pak Aaron. Dan ini, adalah jadwal Bapak untuk besok. Jika ada perubahan, saya akan aturkan ulang. Silahkan di cek dulu Pak Aaron." Zachary berkata sambil menyodorkan tablet ke hadapan Aaron yang di layarnya menuliskan jadwal pekerjaan Aaron untuk besok pagi.
Jadwal itu tertulis rapi dan detail, mulai dari jam, acara, tempat, dan nama-nama siapa yang berkepentingan, yang berkaitan dengan jadwal itu.
"Untuk besok, kosongkan jadwalku untuk jam 4 sampai jam 6 sore. Jadwal yang lain, biarkan saja tetap seperti itu. Aku tidak berencana melakukan perubahan selain jadwal di jam yang aku sebutkan tadi." Aaron berkata bahkan tanpa menoleh ke arah tablet yang disodorkan oleh Zachary, karena dengan kemampuannya, tidak butuh lebih dari sedetik untuk dia bisa membaca semua jadwal yang tertulis itu, hanya dengan sekali lirik.
"Baik Pak. Saya akan segera aturkan ulang jadwal Bapak di jam 4 sampai jam 6 sore itu. Kalau boleh tahu, apa jadwal Bapak jam 4 sampai jam 6 sore itu? Apa saya perlu tulisan dalam jadwal resmi Bapak?" Zachary mencoba bertanya walaupun dia tidak berharap akan dijawab oleh Aaron jika itu merupakan hal yang bersifat pribadi.
"Tuliskan saja di jam itu aku ada urusan pribadi. Aku akan mencari gaun pengantin untuk Chiara, juga setelan jas yang cocok untuk pernikahanku." Hampir saja Zachary tidak bisa menahan senyum lebarnya mendengar perkataan Aaron, yang ternyata begitu perduli pada acara pernikahannya dengan Chiara.
Bahkan di hari ulang tahun pernikahan perak antara Johnson dan Sarah yang dirayakan besar-besaran beberapa waktu lalu, Aaron begitu sulit bekerjasama ketika Sarah dan Johnson mengajaknya ke butik, untuk membuat pakaian resmi yang sengaja dibuat sama dengan yang akan dikenakan oleh Johnson dan Grayson.
Tapi kali ini, dari bibirnya sendiri Aaron ingin ikut menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya saat menikah dengan Chiara.
Ternyata keberadaan nona Chiara benar-benar istimewa bagi pak Aaron.
Zachary berkata dalam hati, tanpa berani menunjukkan senyumnya di depan Aaron, yagn pura-pura tidak tahu tindakan Zachary.
"Zachary? Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa kamu justru melamun dan tidak mencatat perubahan jadwalku besok sore?" Aaron langsung menegur Zachary yang langsung berdehem pelan, karena menelan ludahnya akibat kaget.
"Ah, ya Pak. Segera saya aturkan kembali.” Dengan cepat Zachary menuliskan jadwal terbaru Aaron untuk besok sore.
“Tolong info kepada nona Chiara, agar besok sore dia bisa meluangkan waktu untuk ikut bersamaku di jam yang sudah aku tetapkan tadi.” Aaron berkata sambil menatap ke arah Zachary yang tentu saja berusaha agar bersikap sebiasa mungkin karena mata tajam milik Aaron sedang menatapnya dalam-dalam.