Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
PARA PENGGEMAR (2)



"Eh, kamu sedang ada di sini juga?" Dengan sikap santai dan sok akrab, Brandon berjalan ke arah Chiara dan teman-temannya, dan langsung menyapa Chiara, memandangnya dengan tatapan kagum yang tidak bisa dia sembunyikan, membuat Jaka berdecih pelan dan kakinya menendang kaki Chiara.


Entah mengenakan pakaian apapun, dadanan seperti apapun, cantiknya Chiara tidak terlihat berkurang sedikitpun. Apapun yang ada padanya sungguh membuatku terpesona. Aku harus lebih mengenal gadis itu, dan mengerti tentangnya, agar bisa mendapatkan hatinya, dan menjadikannya sebagai  kekasihku.


Brandon berkata dalam hati sambil tersenyum lega, bahwa ternyata dia tadi akhirnya berhasil mengejar mobil yang ditumpangi oleh Chiara, dan menuju tempat ini, sehingga dia bisa menyusulnya, sambil mengajak teman-teman kuliahnya, untuk mengaburkan tujuan aslinya mendekati Chiara.


Tadi Brandon sengaja menunggu teman-temannya di luar café. Dan setelah teman-temannya datang, Brandon baru masuk ke dalam café itu, sengaja melakukan itu agar Chiara tidak curiga bahwa kedatangannya ke café itu memang sudah direncanakannya.


"Ouww... ternyata ada Chiara juga di sini?” Salah satu teman Brandon yang juga merupakan senior Chiara dan ikut menjadi panitia ospek beberapa waktu lalu, langsung berkata sambil menatap ke arah Chiara, setelah dia menyenggol lengan temannya yang lain.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa sosok mahasiswi baru, Chiara Indarto merupakan orang yang menjadi bahan berbincangan baik ditengah-tengah teman-teman ospeknya, ataupun di kalangan para senior, terutama para senior pria, karena kecantikannya.


Beberapa mahasiswa angkatan di atas Chiara, yang bukan merupakan panitia, bahkan merasa penasaran dengan sosok Chiara, dan sengaja mencuri-curi kesempatan untuk mengamati jalannya ospek, sambil mencari sosok Chiara yang sempat membuat heboh selama ospek.


Kalau beberapa senior dengan sengaja mengerjai para yuniornya selama ospek, namun untuk kasus Chiara, justru para senior berusaha saling berebut untuk melindunginya, sok menjadi pahlawan untuk menarik perhatiannya, termasuk Brandon yang merupakan ketua panitia ospek waktu itu.


"Apa kabar Chiara?" Para senior yang lain langsung menyapa Chiara yang justru terlihat kikuk, merasa tidak nyaman dengan kehadiran para seniornya itu.


"Eh... ya... baik Kak." Chiara menanggapi salam mereka dengan suara pelan.


"Apa boleh kami bergab...."


"Haist! Jangan mengganggu acara orang lain. Kita makan di sebelah sana saja." Brandon langsung menengur teman-temannya.


Karena bagaimanapun, Brandon tidak ingin Chiara menjadi pusat perhatian teman-temannya kalau duduk mereka berdekatan, atau bahkan satu meja.


Maka dari itu, dengan cepat Brandon menarik tangan dua orang temannya, dan langsung mengajak mereka menjauh dari meje Chiara yang langsung menarik nafas lega.


Brandon sengaja menggiring teman-temannya untuk duduk di meja yang cukup jauh dengan posisi meja dimana Chiara dan teman-temannya berada.


Brandon sengaja datang ke tempat ini agar dapat mengawasi sekaligus menikmati keberadaan Chiara, tapi bukan berarti membiarkan orang lain untuk bisa melakukan hal yang sama dengannya.


"Para seniormu itu keterlaluan sekali." Jaka berkata dengan nada sinisnya.


"Sudahlah, mereka pasti juga kebetulan menyukai cafe tempat kita datang sekarang ini. Lagipula, siapa sih bisa melarang orang untuk menikmati cafe ini. Kecuali kamu sudah mebooking seluruh cafe ini hanya untukmu saja." Chiara berkata dengan tersenyum, sambil menatap Jaka yang terlihat melirik ke arah meja tempat Bandon dan teman-temannya berada.


"Tidak mungkin ini sebuah kebetulan. Ini pasti sebuah kesengajaan. Sudah diatur. Kamu ini terlalu polos, tidak bisa melihat kalau seniormu itu benar-benar menyukaimu. Penilaianku pasti tidak meleset." Jaka berkata sambil melirik ke arah jari manis tangan kanan Chiara.


"Kenapa tidak kamu kenakan saja cincin kawinmu. Biar orang tahu kamu sudah menjadi milik orang lain?" Grace langsung melotok sambul menepuk lengan bagian bawah Jaka yang bertumpu pada meja di depannya.


"Kamu ini! Chiara kan sudah berjanji dengan om Aaron untuk menyembunyikan pernikahan mereka?" Perkataan dan tepukan tangan Grace pada Jaka, membuat Jaka sedikit melotot, lalu membalas tepukan tangannya ke lengan Grace yang sedang bertumpu di atas meja dengan posisi vertikal dan jarinya memegang sedotan pada gelas minuman dinginnya.


"Kan tidak perlu mereka tahu siapa suami Chiara, hanya menunjukkan statusnya saja. Kalau tidak, semakin Chiara dewasa, pasti akan semakin banyak pria ingin mendekatinya." Jaka mencoba mempertahankan idenya.


"Lalu lebih merepotkan mana dari para laki-laki yang berusaha melakukan pdkt terus ke Chiara? Haist, kenapa sih pernikahan kalian harus dirahasikan? Aku tidak yakin kalau dengan perhatian dan semua yang diberikan om Aaron padamu, dia tidak mencintaimu. Dia pasti pria yang sebenarnya sangat mencintaimu. Kalau aku jadi dia, melihat banyaknya orang yang berusaha mendekatimu, aku akan meninggalkan Amerika dan kembali ke Indonesia tanpa berpikir panjang." Jaka berkata sambil memakan kentang goreng di depannya.


(Pdkt sebenarnya kepanjangan dari pendekatan, dan entah siapa yang pertama kali menggunakan istilah itu (membuatnya lebih ke arah bahasa slang). Akronim dari pendekatan ini merupakan tahap sebelum awal seseorang menjalin hubungan dengan pasangan. Tahapan PDKT penting untuk saling mengenal satu sama lain, melihat kecocokan masing-masing, dan menentukan apakah hubungan ini bisa ke jenjang yang lebih serius atau tidak.


Ketika seseorang menjalani masa pedekate yang lama, dia akan memahami jalan pikiran dan isi otak calon pasangannya. Poin positifnya adalah kalian akan meminimalisir segala jenis keributan dan pertengkaran ketika kelak kalian memutuskan pacaran. Sikap saling memahami sangat diperlukan dalam hubungan).


"Om Aaron itu menurutku...."


"Jaka...." Grace langsung menginjak punggung telapak kaki Jaka begitu melihat Jaka berencana meneruskan perkataannya, sedangkan Grace melihat bagaimana Chiara yang sedari tadi terdiam sambil melamun, sehingga membuat Grace menahan dan memberikan kode kepada Jaka agar dia tidak terus membicarakan tentang Aaron di depan Chiara


"Eh, Chiara, sudahlah, jangan dipikirkan kata-kata Jaka. Dia hanya asal bicara saja. Ayolah... lupakan saja, kita makan sekarang." Grace langsung berkata sambil memeluk bahu Chiara yang langsung tersenyum.


Setiap kali ada seseorang yang menyebutkan dan membahas tentang bagaimana sebenarnya perasaan Aaron padanya, mau tidak mau membuat Chiara merenung dan berpikir.


Apalagi, sudah setahun ini, hanya Chiara yang setiap harinya sibuk mengirimkan foto-fotonya pada Aaron, meski hanya terlihat adanya tanda sudah dibaca, tanpa Aaron membalas sekalipun atau sekedar memberikan komentar pada foto-foto yang dikirmnya tanpa lelah itu.


Hal itu membuat mau tidak mau Chiara bepikir bagaimana sulitnya dia nanti untuk menggapai hati Aaron di masa depan.


# # # # # # # #


"Lho, mau kemana Bu Ida?" Chiara yang baru saja membuka pintu apartemen dan sudah melepaskan salah satu dari sepatu yang dikenakannya tadi langsung bertanya beitu melihat bu Ida memakan pakaian rapi dan terlihat bersiap untuk pergi.


"O, Anda baru pulang Nona Chiara? Saya mau membeli gula dan sabun cuci piring di toserba yang ada di bawah Nona." Bu Ida segera menjawab petanyaan Chiara yang baru pulang dari makan malamnya bersama Jaka dan Grace di cafe tadi.


"Biar aku saja Bu Ida." Chiara langsung menjawab perkataan bu Ida.


"Tapi Nona...."


"Sudah, tidak apa-apa, cuma di toserba bawah kan? Apalagi mumpung aku belum berganti pakaian. Lagipula, aku juga bisa membeli beberapa cemilan kesukaanku di sana." Chiara berkata sambil mengenakan kembali sepatunya.


"Kalau begitu hati-hati Nona. Kalau ada apa-apa hubungi kami ya." Chiara langsung tertawa mendengar perkataan bu Ida.


"Aduh Bu Ida, aku cuma ke toserba yang ada di bawah bangunan apartemen ini, bukan pergi jauh." Chiara berkata sambil berjalan keluar, menghilang di balik pintu apartemen dengan senyum geli masih menghias wajahnya.


Begitu Chiara selesai mengambil gula dan sabun cuci piring, memasukkannya ke dalam keranjang yang di dorongnya, gadis cantik itu segera berjalan ke arah rak yang berisi penuh dengan berbagai macam pilihan makanan ringan.


Wah, sudah lama tidak makan jajanan yang gurih-gurih karena terlalu sibuk akhir-akhir ini. Lebih baik aku membeli beberapa macam untuk menemaniku menonton drakor malam minggu ini.


Chiara berakta dalam hati sambil matanya mengamati satu persatu jajajan di depannya, sambil melirik ke arah harga yang tercantum di bawahnya.


"Lho, kamu sedang belanja di sini juga Chiara?" Suara dari seseorang yang menyapanya, membuat Chiara langsung menoleh kaget ke arah sumber suara.