Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
PARA PENGGEMAR (1)



“Makan malam bersama. Sayangnya kami bertiga, karena banyak hal penting yang akan kami bicarakan bertiga.” Jaka menjawab pertanyaan Brandon dengan cepat sambil melirik tajam ke arah salah satu senior Chiara tersebut tanpa sikap bersahabat, menunjukkan Jaka menganggap kehadiran Brandon saat ini cukup membuatnya terganggu.


Sebagai sesama laki-laki, Jaka tahu kalau Brandon begitu menyukai Chiara, dan dia tidak suka dengan itu karena Chiara sudah menikah dengan Aaron, meskipun untuk sementara ini, pernikahan itu sekedar di atas kertas.


Sebenarnya Jaka ingin sekali mengatakan pada Brandon, dan semua laki-laki yang pernah diketahui Jaka menyukai Chiara, bahwa Chiara sudah menikah dan jangan lagi mengganggunya.


Tapi sayangnya, karena pernikahan mereka merupakan pernikahan yang tidak boleh disebar luaskan kepada sembarang orang, membuat Jaka tidak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu.


“Maaf ya Brandon, kami harus segera pergi. Ayo Chiara, Grace… kita pergi sekarang….” Jaka yang dari awal tidak mau memanggil Brandon dengan sebutan kakak, langsung berkata dan mengajak Grace dan Chiara untuk segera pergi.


Dan seperti kerbau dicocok hidungnya, baik Chiara maupun Grace segera berjalan mengikuti langkah-langkah Jaka tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, apalagi protes sedikitpun.


Ist… kenapa sih dengan Jaka itu? Kenapa kalau bertemu dia wajahnya selalu terlihat jutek sekali? Padahal dia kan cuma sekedar sahabat Chiara, tapi sikapnya bahkan mungkin lebih galak daripada orangtua Chiara kalau mungkin masih hidup. Benar-benar anak aneh.


Brandon mengomel dalam hati karena beberapa kali pertemuan mereka, Jaka tidak pernah bersikap ramah padanya.


“Aduh Jaka, sikapmu kok begitu sih? Tidak sopan loh yang barusan. Bagaimana kalau kak Brandon tersinggung?” Chiara berkata sambil menepuk bahu Jaka dengan lumayan keras, membuat Jaka langsung menjauhkan tubuhnya dari Chiara sambil memegang bahunya yang terasa sedikit sakit akibat pukulan Chiara yang lumayan keras itu.


“Aduh Chiara! Terus bagaimana dong? Apa aku perlu melaporkannya kepada Diego atau pak Zac agar mereka melaporkan sikap Brandon padamu? Supaya om Aaronmu juga tahu, sedang ada banyak pria yang sekarang sedang mengantri untuk bisa mendapatkanmu?” Perkataan Jaka membuat mata Chiara melotot.


“Kamu ini, kenapa sih tidak suka sekali dengan Brandon? Padahal kami mengobrol saja jarang kok. Hanya sesekali kebetulan bertemu dan saling menyapa.” Jaka langsung mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Chiara.


“Memang kamu ini terlalu polos. Dia jelas-jelas menyukaimu. Lagipula… aku tidak sekampus dengannya, kenapa juga aku harus memanggilnya kakak seperti aku memanggil seniorku? Padahal dengan orang yang lebih tua cuma 3-4 tahun, bagiku masih umum memanggil mereka namanya langsung.” Jaka berkata dengan nada acuh tak acuh, tidak merasa bersalah sama sekali, membuat Grace tertawa geli, dan mendukung kata-kata Jaka dengan menganggukkan-anggukan kepalanya.


“Sudah Chiara, terima saja kalau memang si Jaka ya seperti itu. Dia itu menganggap kita seperti anak gadisnya, sehingga dia galak sekali kepada semua laki-laki yang berusaha mendekati kita. Sayangnya kalau itu om Aaron, sepertinya dia kalah telak, nyalinya langsung menciut.” Grace berkata diakhiri dengan tawa terbahak-bahak, sampai Jaka menjitak keningnya.


“Suka ya? Suka sekali sih kamu mengejekku Grace? Bagaimana caraku bisa melawan om Aaron? Tiba-tiba saja dia sudah menjadi suami Chiara. Ya suka-suka dialah dekat-dekat dengan Chiara.” Jaka berkata sambil mengangkat tinggi kedua tangannya ke atas, dengan kedua tangannya saling bertaut, lagu menggerak-gerakkan tubuhnya ke samping kanan dan kiri seperti orang berilahraga, membuat Grace dan Chiara saling berpandangan melihat sahabatnya yang tidak pernah mau kalah kalau berbicara.


"Eh, bagaimana kabar om Aaron? Sudah lama sekali dia tidak pulang ke Indonesia, bahkan di hari wisudamu. Meskipun kalau aku tidak keberatan sih dia tidak datang, tapi mengirim begitu banyak hadiah." Grace berkata sambil meringis, apalagi mendapatkan cibitan kecil di lengannya dari Chiara.


"Kalau aku tentu saja ingin om Aaron datang, dibandingkan dengan mendapatkan semua hadiah itu. Tapi apa mau dikata, om Aaron masih sibuk di Amerika untuk menata masa depan."


"Cie.... masa depan siapa tuh?" Grace langsung menggoda Chiara begitu mendengar kata-kata dari Chiara yang wajahnya langsung memerah.


"Oke lah, kita makan malam dimana ini? Waktunya siapa ini yang mentraktir? Aku ya? Eh... kali ini pilih makan malam yang agak sederhana ya? Aku baru saja mengganti handphoneku, uang jajanku jadi sedikit seret bulan ini. Please...." Jaka berkata dengan wajah memelasnya, membuat Chiara dan Grace terkikik geli.


"Kamu ini, alasan handphone rusak, padahal dari seminggu yang lalu kamu memang sudah naksir handphone itu." Chiara berkata sambil tertawa.


"Iya nih Jaka, alasan handphone rusak. Mungkin dia sengaja merusak handphonenya sendiri agar dapat alasan untuk membeli yang baru." Grace menambahkan kata-kata Chiara yang membuat Jaka mencebikkan bibirnya.


"Tapi kalian suka juga kan dengan handphone baruku, buktinya, kalian dari kemarin saling berebut untuk mengambil foto melalui handphone kerenku ini." Jaka berkata sambil memamer-mamerkan handphonenya di depan wajah kedua sahabatnya itu.


"Ah, sudahlah, susah kalau bicara dengan Jaka. Dia mana mau mengalah sama kita?" Grace berkata sambil mencibirkan bibirnya ke arah Jaka yang justru tersenyum dengan sikap malu-malu mendengar kata-kata Grace.


"Terus jadinya bagaimana traktiran kita hari ini? Jadinya kita pergi kemana untuk makan malam hari ini? Yang harusnya mentraktir sedang kanker (kantong kering) tuh." Grace bertanya sambil memandang ke arah Chiara.


(Masyarakat Indonesia pasti sudah tidak asing dengan istilah kantong kering yang merujuk pada suatu kondisi ketika tidak lagi memiliki uang tersisa. Kantong kering ini sering kali terjadi pada seseorang yang telah memiliki penghasilan dan biasanya muncul ketika sudah berada di akhir bulan).


"Bagaimana kalau untuk kali ini saja, kita bayar sendiri-sendiri saja? Daripada nanti ujung-ujungnya nanti kita cuma ditraktir nasi putih dan segelas teh hangat ukuran gelas mini oleh Jaka." Grace langsung tertawa mendengar ejekan Chiara untuk Jaka.


"Aist... mentang-mentang punya suami tajir melintir. Ayolah... kita pergi ke tempat makan yang enak. mau seberapa banyak sih makan kalian? Paling-paling juga tidak membuatku bangkrut mengingat usus kalian yang pendek, tidak bisa makan banyak." Jaka berkata sambil tersenyum dan berjalan mendahului mereka.


# # # # # # #


"Hah! Kenapa juga seniormu itu sepertinya mengikutimu terus? Dia sudah seperti bayang-bayang yang selalu mengikuti kemanapun sosok aslinya berada. Benar-benar merepotkan dan menyebalkan." Jaka berkata dengan nada kesal melihat bagaimana Brandon yang tiba-tiba ikut muncul di cafe bersama teman-temannya, ke cafe yang sama dengan cafe tempat Jaka, Chiara dan Grace sedang bersiap menikmati sajian makan malam mereka yang baru disuguhkan di depan mereka, sambil menikmati kopi disana.


Kehadiran Brandon membuat mood Jaka rusak seketika itu juga, karena kehadiran Brandon yang baginya terlihat sangat mengganggu.


Perkataan Jaka membuat Chiara dan Grace ikut mengarahkan matanya, mengikuti kemana mata Jaka sedang melihat.


"Loh... ngapain kak Brandon ada di tempat ini?" Grace berkata sambil menyipitkan matanya, melihat kehadiran Brandon di tempat itu bersama teman-temannya yang lain.


NB: Untuk para pembaca setia, dikarenakan ada sedikit trouble, untuk up episode kedua, akan up siang nanti. Terimakasih untuk kesetiaan para pembaca tercinta terhadap novel ini.