
Apalagi kalau bisa tinggal bersama om Aaron. Sayangnya sampai 4 tahun ke depan aku harus tinggal sendirian tanpa om Aaron bersamaku. Membayangkan itu, rasanya sungguh menyedihkan... harus berpisah dengan om Aaron selama 4 tahun. Lama sekali.... Semoga om Aaron masih mau membalas pesan-pesanku meskipun kami berjauhan.
Chiara melanjutkan kata-katanya dalam hati dengan mata menatap ke arah Aaron, lagi-lagi dengan tatapan mata yang terlihat jelas bagaimana dia begitu menyukai dan kagum dengan laki-laki tampan itu.
Ada sedikit rasa sesal dalam hati Chiara, bagaimana dia yang dulunya langsung setuju begitu Aaron menawarkan sebuah pernikahan dengannya dengan rencana Aaron yang akan langsung pergi ke Amerika selama 4 tahun.
Kalau saat itu aku sudah tahu kalau ke depannya, aku akan benar-benar menyukai om Aaron seperti ini, aku pasti akan menolak untuk menandatangani surat perjanjian itu.... Aku akan lebih memilih untuk om Aaron bisa selalu bersamaku.
Chiara berkata dalam hati dengan hati yang merasa begitu menyesal, setelah menyadari bagaimana besarnya rasa sukanya pada Aaron saat ini.
Sedangkan sekarang saja, jika tidak bertemu dengan om Aaronnya selama beberapa hari saja, rasanya Chiara sudah sibuk mencari cara bagaimana agar mereka berdua bisa bertemu, atau paling tidak saling bertukar pesan.
Untuk saat ini, Chiara merasa sudah cukup beruntung, karena pernikahan mereka yang diadakan begitu mendadak, membuatnya sering bertemu Aaron, untuk mengurus segala sesuatunya tentang pernikahan mereka, tapi mengingat setelah menikahmereka justru akan berpisah, membuat Chiara hanya bisa menarik nafas panjang.
“Masuklah Chiara. Kita akan lihat apakah kamu sudah cukup puas dengan penataan apartemen ini, termasuk kamar milikmu. Zachary, tolong panggil Tia dan Bu Ida kesini.” Aaron berkata sambil menggeser tubuhnya ke samping, agar Chiara bisa masuk ke dalam apartemennya.
Zachary yang mendapat perintah dari Aaron, buru-buru mengangguk dan berjalan masuk ke dalam apartemen, langsung melangkah menuju bagian belakang apartemen untuk memanggil Tia dan bu Ida yang akan menjadi asisten rumah tangga di apartemen ini, menemani sekaligus membantu semua urusan Chiara di masa depan, setelah menikah dengan Aaron.
Sebelumnya, Aaron tidak pernah membiarkan adanya asisten rumah tangga di apartemennya, karena semuanya bisa dia lakukan sendiri, termasuk membersihkan dan merapikan rumah dengan kecepatan secepat cahaya yang dia miliki.
Dan selama ini, Aaron merasa nyaman jika dia melakukan semua itu tanpa dicurigai, atau bahkan diketahui oleh orang lain, sehingga Aaron selalu memilih untuk hidup sendiri dan mengurus apartemennya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Tapi dengan keberadaan Chiara setelah ini, Aaron harus membiarkan asisten rumah tangga untuk tinggal di tempat itu demi keamanan dan kenyamanan Chiara selama tinggal di tempat itu.
Awalnya Zachary menawarkan apakah asisten rumah tangga hanya membersihkan dan membereskan rumah di siang hari, setelah itu mereka pulang, akan tetapi Aaron merasa di usianya yang masih sangat muda, Chiara masih tetap butuh pengawasan dari orang yang lebih dewasa darinya, akhirnya Aaron memutuskan untuk mencari asisten rumah tangga yang bisa menginap dan menemani Chiara.
Bukan hanya itu saja, khusus untuk bu Ida, dia bukanlah asisten rumah tangga biasa, tapi dia merupakan orang dengan pendidikan lumayan tinggi, memiliki kemampuan untuk memimpin dan mengarahkan asisten lain, dan terbiasa mengepalai beberapa orang asisten rumah tangga dan mengawasi kinerja mereka.
Di usianya yang ke 40 sekarang, bagi Aaron, Bu Ida merupakan orang yang sangat tepat untuk dapat membantu mengawasi Chiara, meskipun bukan berarti dia memiliki posisi yang lebih tinggi dari Chiara.
Aaron hanya ingin memastikan kehidupan yang baik untuk Chiara setelah bebas dari pengawasan Mona, sedang dirinya sendiri harus pergi ke Amerika setelah menikah.
“Aduh Om, ini kan apartemen milik Om Aaron. Jadi, semuanya terserah Om Aaron. Chiara angka ikut saja.” Dengan wajah malu-malu, akhirnya Chiara berkata sambil melangkah masuk ke aparteman Aaron yang memang terlihat sangat mewah, terlihat sangat rapi dan bersih, benar-benar menunjukkan bahwa pemiliknya orang yang begitu menyukai kebersihan dan kerapian.
“Ayo kita lihat-lihat dulu, aku akan mengantarmu mengelilingi apartemen ini. Supaya kamu bisa mengetahui tata letak ruangan-ruangan yang ada di apartemen ini. Dan juga bisa melihat mana yang kurang pas di hatimu.” Aaron berkata sambil mulai melangkah.
“Wah…. Om… apartemen Om Aaron bagus sekali.” Chiara berkata sambil memandang ke sekelilingnya dengan tatapan mata kagum.
“Katakan saja kalau kamu melihat ada yang kurang atau tidak pas untukmu.” Aaron berkata sambil menatap ke arah Chiara yang matanya menatap ke sekelilingnya dengan senyum terus tersungging di wajahnya.
“Om, kalau ada yang masih mencacat dan mengkritik apartemen milik Om ini, berarti orang itu benar-benar tidak jujur atau bahkan iri. Apartemen ini benar-benar bagus dan terlihat sempurna.” Chiara berkata sambil berjalan mengikuti langkah-langkah Aaron.
“Pak Aaron….” Zachary yang datang bersama dengan dua orang wanita, yang satu terlihat masih sangat muda, dengan usia tidak jauh berbeda dengan Chiara, dan yang seorang lagi berusia lebih tua.
“Bu Ida, Tia, perkenalkan, ini Nona Chiara yang mulai hari ini akan tinggal di apartemen ini. Minggu depan kami berdua akan menikah. Jadi dengan kata lain, nona Chiara akan menjadi nyonya di rumah ini.” Aaron berkata dengan nada datarnya, seperti biasa.
Namun bagaimana Aaron memperkenalkannya kepada orang lain tentang dia sebagai calon istri dan nyonya rumah ini, membuat wajah Chiara sedikit memerah, dan dadanya langsung berdebar-debar.
"Selamat sore Nona Chiara, selamat datang di tempat tinggal baru Nona." Bu Ida segera menyapa Chiara dengan sikap ramah sekaligus hormat.
"Selamat sore Bu Ida, dan...."
"Panggil saja saya Tia Nona Chiara." Tia segera melanjutkan kata-kata Chiara yang terlihat ragu saat akan menyebutkan nama Tia, karena usianya dari Chiara mungkin seumuran.
"Ah, ya Tia dan Bu Ida, terimakasih untuk perkenalan kita sore ini...."
"Aaron!" Sebuah suara dari seorang wanita yang memanggil nama Aaron, membuat Aaron maupun Chiara menoleh ke arah sumber suara.
Sarah yang baru saja memanggil nama Aaron, dan berjalan ke arah Aaron, tampak memandang ke arah mereka sambil tersenyum.
"Hallo Chiara... sudah datang? Aku baru saja berniat menyakan kepada Aaron kapan kamu datang. Ternyata kamu sudah datang. Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau Chiara sudah datang Aaron?" Sarah yang berjalan diikuti dengan sosok seorang laki-laki tampan, dengan usia kira-kira di awal 20an, dengan wajahnya yang terlihat tidak ramah, menatap ke arah Chiara yang mulai menebak siapa laki-laki tampan dan masih muda itu.