Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
MEMINTA WAKTU



"Maaf Om... aku... benar-benar ingin selalu bersama Om Aaron setiap waktu... tapi ijinkan aku untuk malam ini tidur di kamarku sendiri ya. Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri, agar bisa menjadi istri yang baik dan sempurna untuk Om Aaron." Chiara berkata lirih sambil memandang ke arah Aaron dengan sikap ragu.


Aaron sendiri, langsung tersenyum mendengar perkataan Chiara dengan nada tulusnya, merasa lega dengan perkataan Chiara, yang bagi Aaron sangat memaklumi dengan usianya yang masih 18 tahun mungkin memang butuh waktu untuk dia menyesuaikan diri dengan statusnya sebagai istri dari pria yang 12 tahun lebih tua darinya.


“Lalu?” Aaron bertanya dengan mata menatap lembut ke arah Chiara yang terlihat masih begitu canggung.


“Lalu?” Chiara mencoba mengulang pertanyaan Aaron dengan wajah bingung.


“Apa yang akan kamu lakukan ke depannya? Sampai kapan kamu butuh waktu untuk menyesuaikan diri?” Aaron berkata sambil menggerakkan tubuhnya, duduk bersandar dengan santai di sandaran sofa.


“Beri waktu aku sebulan Om Aaron…. Eh... dua minggu….” Chiara berkata sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya, sebagai tanda angka 2.


Aaron yang mendengar Chiara menyebutkan angka dua minggu, sedikit mengernyitkan dahinya.


“Apa itu terlalu lama buat Om Aaron? Kalau begitu…. Bagaimana kalau…. Satu minggu?” Chiara berkata dengan ragu karena berpikir Aaron akan protes dan tidak setuju dengan permintaannya.


Padahal sebenarnya Aaron mengernyitkan dahinya karena melihat Chiara yang terlihat linglung sehingga mengubah-ubah perkataannya.


Seberapa lama yang kamu minta, aku sudah mencintaimu sejak bertahun-tahun yang lalu, tidak masalah bagiku untuk menunggumu, sembari menunggu kabar baik dari George. Berapapun, asal kamu bahagia.


Aaron berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang, lalu menggerakkan tangannya ke arah kepala Chiara, dan mengelusnya lembut.


“Kamu boleh meminta waktu sesuai dengan kesiapanmu. Aku akan tetap menunggu kamu siap, meskipun mungkin tidak terlalu lama karena aku ingin kita hidup normal seperti pasangan suami istri yang lain.” Perkataan Aaron kembali membuat wajah Chiara memerah, dan dsedikit menundukkan kepalanya.


Karena kata-kata Aaron tentang pasangan suami istri yang normal membuatnya kembali tentang kata-kata Grace, yang selalu memaksanya untuk segera melakukan ML dengan Aaron, agar Aaron benar-benar terikat padanya.


“Terimakasih Om Aaron….” Chiara berkata pelan, dan dengan tiba-tiba Chiara bergerak cepat ke arah Aaron yang masih dalam posisi duduknya yang santai, di samping Chiara.


“Aku sangat mencintai Om Aaron….” Chiara berbisik pelan sambil mencium sekilas pipi Aaron, membuat Aaron yang tidak menyangka dengan tindakan Chiara itu langsung melotot karena kaget.


“Eh….” Aaron yang telihat kaget langsung memandang ke arah Chiara, yang setelah mencium sekilas pipinya, langsung bangkit dari duduknya, dengan wajahnya yang terlihat sangat merah.


Dan Aaron yakin, saat ini, dada Chiara juga berdetak kencang seperti yang sedang terjadi pada dadanya sekarang ini.


“Chiara mandi dulu ya Om….” Dengan suara sedikit tersekat, Chiara berkata dan langsung berlari ke arah kamarnya, tanpa menunggu jawaban dari Aaron, untuk dapat segera mengatasi rasa malu yang tiba-tiba muncul di hatinya karena sudah berani-beraninya bersikap sedikit agresif, dengan mencium Aaron, meskipun itu hanya sebuah ciuman di pipi dan hanya sekilas saja.


Chiara! Kamu benar-benar nekat! Ahhhhh…. Sungguh memalukan, semoga om Aaron tidak marah karena tindakanku yang pasti aneh bagi om Aaron….


Chiara berteriak dalam hati dan berusaha mempercepat langkah kakinya saat ini, agar bisa segera sampai ke kamarnya, dan bersembunyi untuk sementara waktu sampai debaran jantungnya kembali normal.


Sedang Chiara sendiri, setelah menutup pintu kamarnya, langsung berdiri bersandar pada pintu kamar sambil memegang dadanya, dan berkali-kali menghembuskan nafas panjang melalui bibirnya.


Setelah cukup lama Chiara dalam posisi itu, dengan ragu dia menggerakkan kakinya, melangkah ke depan dan tiba-tiba saja melompat-lompat dengan kegirangan.


“Yes!”


“Akhhh, aku tidak percaya!”


“Ternyata aku berani melakukannya!”


Chiara berteriak senang sambil melangkah ke tempat tidurnya, dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan posisi terlentang, dan matanya menatap kea rah langit-langit kamarnya dengan wajah berbinar cerah.


Saat ini, meskipun ada rasa malu yang sempat menghampirinya, tapi dia juga merasa begitu senang bisa dengan berani mencium pipi Aaron.


Sepeninggal Chiara, di ruang keluarga, dengan posisi duduknya yang masih seperti tadi, Aaron terlihat menggerakkan tangan kanannya, mengelus pipinya, di bagian dimana Chiara tadi sempat menciumnya sekilas.


My little girl….


Aaron membisikkan nama panggilan kesayangannya untuk Chiara, sambil tersenyum dengan wajah terlihat begitu bahagia.


# # # # # # #


Chiara menggerak-gerakkan tubuhnya di depan kaca besar yang ada di kamar yang ditempatinya.


Meskipun hari ini dia tidak ada rencana keluar dengan Aaron, namun dengan pakaian santai yang dikenakannya, Chiara tetap ingin tampil cantik dan menarik di depan Aaron, walaupun dia sengaja tidak memoleskan make up apapun pada wajahnya karena kejadian siang tadi yang membuat Aaron sempat mengatakan dengan make up tebalnya, dia jadi seperti tante-tante.


Apalagi, Chiara mendengar Aaron yang mengatakan bahwa dia sudah cantik tanpa make up.


“Hah…. Sikapku sudah seperti gadis yang sedang menunggu kedatangan kekasih untuk bertemu dan pergi berkencan.” Chiara berkata pelan pada dirinya sendiri sambil tersenyum geli sekaligus malu-malu, begitu teringat kembali tentang semua kejadian sepanjang siang hari ini.


“Eh, om Aaron pasti sudah lama menunggu. Aku akan keluar sekarnag. Aku juga sudah merasa sangat penasaran  dengan apa yang akan dikatakan om Aaron padaku hari ini.” Chiara kembali berkata pada dirinya sendiri, dan berjalan menjauhi kaca, ke arah pintu kamarnya untuk keluar menemui Aaron di ruang keluarga.


Namun begitu Chiara sampai disana, matanya langsung mengitari seluruh ruangan, karena tidak dilihatnya sosok Aaron di sana, membuat Chiara segera beranjak ke arah ruang tamu, mengira kalau ada tamu yang sedang ditemui oleh Aaron.


Karena tidak lagi menemukan sosok Aaron di ruang tamu, akhirnya Chiara berniat pergi ke dapur, tapi bau harum dan segar dari parfum Aaron yang begitu dikenalnya, tercium oleh indra penciuman Chiara yang memang cukup sensitif, membuat Chiara menghentikan gerakannya.