
Tapi pada kenyataannya, sofa mewah itu membuat kedua tamunya terperangah dengan sukses, dan berpikir kalau Chiara sengaja mengajak mereka ke ruang keluarga untuk memamerkan semua kemewahan itu.
Hanya bisa menelan ludah mereka dengan tatapan mata terlihat bingung, sekaligus tidak percaya yang bisa dilakukan oleh Mona dan Revina melihat bagaimana barang-barang yang ada di apartemen itu sungguh merupakan barang-barang yang tidak pernah mereka bayangkan untuk bisa melihatnya, apalagi bermimpi untuk bisa menikmati duduk di atas sofa bernilai miliaran rupiah.
"Selamat sore, Anda berdua mau dibuatkan minuman apa? Kopi, teh, susu, es buah atau minuman bersoda?" Bu Ida yang muncul dari arah dapur bersama Tia membuat Mona dan Revina sama-sama menghela nafasnya.
Bukan sekedar tempat tinggal mewah, tapi dua asisten rumah tangga yang disiapkan Aaron untuk Chiara yang tinggal sendirian di apartemen selama Aaron tidak ada, bagi mereka juga merupakan hal yang terlalu berlebihan.
Sedangkan mereka di rumah besar mereka, untuk memenuhi kebutuhan mereka hanya ada dua asisten rumah tangga yang seringkali harus berganti, keluar masuk karena merasa tidak betah dengan perilaku kedua majikan perempuannya.
Itupun hanya asisten rumah tangga yang hanya bekerja dari pagi sampai sore, tidak menginap, sedangkan bu Ida dan Tia adalah asisten rumah tangga yang tinggal bersama Chiara agar semua kebutuhan Chiara bisa terpenuhi dan selama 24 jam jika Chiara membutuhkan sesuatu, mereka akan selalu siap membantu.
Belum lagi dari rumah kedua orangtua Aaron, selama seminggu 3 kali akan ada beberapa orang khusus yang dikirim oleh Sarah, ke apartemen Aaron untuk melakukan pembersihan total seluruh sudut ruangan di apartemen Aaron, sehingga di sana tidak akan ditemukan sudut ruangan yang berdebu atau terlihat lusuh, seperti pasukan pemberantas hama dan petugas kebersihan khusus yang biasa disewakan ke tempat-tempat seperti mall dan daerah perkantoran.
"Eh, terserah, bagaimana denganmu Revina?" Dengan wajah tidak percaya diri Mona menjawab pertanyaan bu Ida.
Apa benar Aaron memperlakukan Chiara seperti seorang putri setelah pernikahan mereka? Apa Chiara bisa seberuntung itu nasibnya? Bukankah sebelumnya mereka berdua tidak saling mengenal? Bagaimana seoang Aaron yang sekaya dan sehebat itu bisa tiba-tiba menikahi gadis ingusan yang tidak tahu dan tidak bisa apa-apa seperti Chiara ini?
Revina bertanya-tanya dalam hati, sambil melihat ke arah salah satu sisi dinding ruang keluarga, dimana ada foto pernikahan Chiara dan Aaron berukuran sangat besar tergantung di sana.
Melihat foto pernikahan Chiara dengan gaunnya yang spektakuler, indah dan mewahnya itu sudah membuat Revina merasa tidak nyaman karena cemburu dengan itu, jika dia harus mengingat kembali momen dimana di hari pernikahan itu Chiara memang menjadi pusat perhatian karena tampil begitu cantik dan elegan, berdiri di samping Aaron yang merupakan laki-laki idaman para wanita.
Namun sekarang, selain sofa mewah yang kini sedang didudukinya, melihat bagaimana pigura yang di bagian depannya diukir, dan berlapis emas murni yang membingkai foto pernikahan Aaron dan Chiara, membuat dada Revina cukup panas.
Aaron ini benar-benar membuat orang merasa rendah diri dengan semua barang mewah yang dia miliki di apartemennya ini. Benar-benar tukang pamer!
Revina jadi mengomel dalam hati untuk menutupi bahwa dia sungguh merasa iri dengan kemampuan finasial dari Aaron yang selama ini belum pernah dia pikirkan.
Sepertinya, mama harus mulai merelakan dirinya untuk tidak bisa lagi bersikap seenaknya pada Chiara seperti yang dia lakukan selama ini.
Revina berkata dalam hati sambil melamun, membuat Mona langsung menyenggolkan siku lengannya ke lengan Revina yang duduk di sampingnya, karena dia tidak juga menjawab pertanyaan bu Ida.
"Revina, kamu mau minum apa?" Mona kembali mengulang pertanyaan dfari asisten rumah tangga Chiara setelah Revina menoleh ke arahnya.
"Maaf Tante, tapi tumben Tante berkunjung ke sini. Ada apa ya Tante?" Chiara yang memang tidak pernah sekalipun menerima kunjungan Mona dan Revina sejak dia menikah dengan Aaron, langsung bertanya apa tujuan kedatangan mereka.
"Eh..." Mona berencana langsung menyampaikan niatnya datang ke tempat itu, tapi dengan cepat tangan Revina menghalanginya, memberi kode bahwa dia meminta agar dia yang menyampaikannya pada Chiara.
Melihat itu, akhirnya Mona menurut dan memilih untuk diam, karena dibandingkan dengannya, Mona tahu kalau Revina lebih bisa mengucapkan kata-kata manis untuk Chiara untuk membuka pembicaraan.
"Sudah lama kami tidak bertemu denganmu, kami ingin tahu bagaimana kabarmu. Apa kamu baik-baik saja?" Pertanyaan Revina membuat Chiara tersenyum manis.
"Tentu saja baik-baik saja. Apa yang mungkin terjadi padaku? Semua orang di keluarga om Aaron juga baik padaku. Sebenarnya aku juga ingin berkunjung ke rumah kalian. Cuma saja karena om Aaron baru saja pulang ke sini, aku belum sempat menghubungi om Raksa. Bagaimana kabar om Raksa? Kenapa kalian tidak mengajak om Raksa kesini sekalian?" Chiara langsung menanyakan keberadaan Raksa, datu-satunya orang di rumah itu yang menyayanginya, meski tidak dapat berbuat banyak untuknya selama dia tinggal bersama mereka dulu.
"O, papa sedang sibuk karena beberapa waktu ini untuk mengurus surat-surat pepanjangan kontrak sewa floor beberapa toko yang ada di mall kami." Revina segera menjawab pertanyaan Chiara.
"Bagaimana pernikahanmu dengan Aaron? Apa semuanya lancar-lancar saja? Kapan kalian berencana memiliki anak?" Pertanyaan terakhir dari Revina membuat wajah Chiara langsung memerah seketika.
"Ayolah... kamu sudah berusia 17 tahun. Meskipun tidak sekarang, kalian pasti sudah membicarakan tentang rencana kapan kalian memiliki anak...." Revina berkata dengan senyum gelinya, karena melihat wajah Chiara yang semakin memerah dan salah tingkah.
"Memang tidak dapat dipaksakan karena itu pemberian dari Atas. Tapi salah satu tujuan pernikahan adalah memiliki anak kan? Kecuali jika pernikahan itu dipaksakan dan tidak didasari oleh saling cinta." Chiara tahu kalau perkataan Revina seolah-olah menasehatinya, tapi di dalamnya terlihat adanya sebuah sindiran dan keingintahuan untuk mengecek apakah pernikahannya dengan Aaron adalah sebuah pernikahan yang normal.
"Permisi...." Suara dari bu Ida yang membawakan minuman untuk mereka, membuat mereka menghentikan permbicaraan mereka, dan itu membuat Chiara bersyukur karena dia jadi memiliki kesempatan untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Revina.
Kali ini, bukan sekedar tentang interor apartemen Chiara yang terlihat mewah, tapi es buah dalam mangkuk kristal yang sedang disajikan oleh bu Ida dan diletakkan di atas meja yang ada di depannya, membuat Mona maupun Revina menelan air ludahnya dengan susah payah.
Yang membuat mereka menelan ludah selain es buah tersebut terlihat begitu menarik penataannya, tapi buah-buahan yang ada di dalamnya merupakan buah-buah import yang terlihat jelas buah-buah berkualitas tinggi.
Dan di samping gelas berisi es buah itu ada sebuah piring berisi buah buddha shaped pear yang ditata dngan rapi.
(Buddha-shaped pear atau pir berbentuk Buddha yang sedang tertawa adalah salah satu buah termahal di dunia. Harganya dibanderol 9 dolar AS atau setara dengan Rp 131 Ribu untuk buah ukuran kecilnya.
Ide untuk membuat buah pir berbentuk Buddha dicetuskan petani China Xianzhang Hao. Dalam masa pertumbuhan, buah pir 'dicetak' dalam cetakan yang nantinya akan membuatnya tumbuh berbentuk Buddha).
"Silahkan diminum Tante Mona... Ketika pulang beberapa hari lalu, om Aaron juga membawakan oleh-oleh buah-buahan segar yang biasanya jarang sekali ada di Indonesia. Cocok untuk es buah." Chiara berkata sambil menganggukkan kepala, membalas anggukan kepala dari Bu Ida dan Tia yang langsung kembali ke dapur setelah meletakkan sajian untuk tamu.