
Padahal sebenarnya tadi saat melihat Chiara pergi ke toilet, Aaron sengaja meminta kepada salah seorang pelayan restoran untuk menyampaikan pesannya kepada Chiara untuk menunggunya, dan memesan secara khusus mini tart yang lezat dan berpenampilan menggiurkan itu.
Setelah itu Aaron langsung mencari tempat aman untuk dia bergerak secepat kilat ke sebuah toko, membeli sesuatu dan kembali ke restoran tempat Chiara menunggunya, setelah sebelumnya Aaron meminta pelayan tadi untuk mengantarnya untuk bertemu dengan manager restoran, karena ada yang ingin dia lakukan untuk Chiara, dan itu membutuhkan bantuan dari pihak restoran.
"O, hari ini adalah hari spesial buat Nona karena menjadi pengunjung ke 200 di restoran kami dalam minggu ini. Ini adalah hadiah untuk Nona. Silahkan untuk menikmatinya."
"Oooo, iya, terimakasih pak." Chiara berkata dengan wajah cerianya, sungguh tidak menyangka kalau hari ini dia bisa mendapatkan banyak hadiah tidak terduga.
"Kalau begitu silahkan Nona menikmati kue itu bersama dengan kekasih tercinta Nona." Manager restoran itu berkata sambil menatap ke arah Aaron dan tersenyum padanya dengan sikap hormat.
Sedang Aaron dan Chiara wajahnya terlihat sama-sama memerah mendengar manager itu dengan terang-terangan menyebutkan bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang menghabiskan waktu untuk makan malam romantis mereka malam ini.
"Mmmm... sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku. Aku benar-benar tidak menyangka kalau akan mendapatnya banyak hadiah hari ini." Chiara berkata sambil mengamati mini tart dengan hiasan butter cream berbentuk bunga mawar berwarna putih di bagian tengah, dan di bagian lain tampak buah stoberi yang dijadikan garnis, dipotong dan ditata dengan cantik.
"Aku yakin keberuntunganku hari ini pasti karena kedatangan Om Aaron." Dengan santainya Chiara berkata tanpa tahu bahwa kata-katanya itu, meskipun terdengar asal, membuat Aaron merasa sedikit salah tingkah.
Hanya sebuah kalimat yang terdengar asal dan tanpa maksud apapun diucapkan oleh Chiara, tapi itu sudah cukup untuk membuat dada Aaron berdebar.
"Ehem... makanlah kue itu itu." Aaron berkata pelan kepada Chiara yang menjawabnya dengan sebuah anggukan kepalanya, dan meraih sendok untuk mulai mencicip roti tart dengan tampilan menggiurkan itu.
"Mmmm.... enak Om... Om juga harus mencobanya." Chiara berkata sambil mengecapkan bibirnya karena kue yang sedang dinikmatinya saat ini benar-benar lembut dan enak rasanya, dengan rasa manis yang pas.
"Aku tidak terlalu suka kue tart. Kamu saja yang habiskan." Perkataan Aaron membuat Chiara meringis.
"Eh...." Chiara langsung menghentikan gerakan tangannya karena tiba-tiba sendok yang digunakannya untuk memotong roti di depannya seperti menyentuh sesuatu yang keras di dalam roti itu.
Dengan gerakan hati-hati dan wajah penasaran Chiara menggerakkan sendoknya dan mulai mengobrak-abrik mini tart di depannya.
Dengan mata terbeliak, mulut terbuka lebar karena melongo, Chiara menghentikan tindakannya dengan mata menatap tidak percaya ke arah kue yang di bagian dalamnya terlihat suatu benda yang berkilau dan terlihat begitu indah.
"Apa kamu suka kalung itu? Aku tidak pandai memilih perhiasan. Kalau kamu kurang suka kita bisa menukarnya dengan yang lain, yang sesuai dengan seleramu." Aaron bertanya sambil memberikan tanda kepada pelayan untuk mengambil kalung itu dan membersihkannya, agar Aaron bisa mengenakannya di leher Chiara, menggantikan cincin pernikahan Chiara, yang sejak mereka berdua keluar dari tempat pernikahan mereka waktu itu, mereka berdua sama-sama melepas cincin itu dan menyimpannya.
Aaron dan Chiara yang sedari awal memang sepakat untuk menyembunyikan pernikahan mereka, sama-sama menyimpan cincin pernikahan mereka dan tidak mengenakannya meskipun Sarah seringkali mempertanyakan itu kepada mereka.
Kalau Chiara tidak mengenakannya, Sarah bisa mengerti sepenuhnya, karena itu akan menjadi pertanyaan besar bagi orang-orang di sekitarnya, apalagi saat itu Chiara menikah di usianya yang masih 16 tahun.
Tapi bagi Sarah, untuk Aaron sendiri, harusnya dia mengenakan cincin itu untuk menunjukkan bahwa dia memang sudah terikat dengan seorang wanita, sehingga bisa menjadi alasan agar tidak ada wanita yang berniat mendekatinya karena tahu Aaron sudah ada yang punya.
Banyak alasan yang disampaikan Zachary untuk mewakili Aaron waktu itu, yang tetap besikeras kalau dia tidak mau memakai cincin itu.
Bahkan Aaron dengan terang-terangan mengatakan kalau seorang pria berniat selingkuh dan mengkhianati istrinya, tidak perlu melepas cincin kawin dari jari tangannya.
Menurut Aaron, jika memang sudah berniat bulat berselingkuh, bahkan seorang pria bisa melakukannya dengan cincin kawin masih melingkar di jarinya, bahkan tidur dengan wanita lain disaat cincin itu masih melingkar disana.
Pendapat Aaron itu akhirnya membuat Sarah menyerah untuk memaksa Aaron mengenakan cincin kawinnya, apalagi Sarah percaya bahwa putra sulungnya itu adalah seorang laki-laki bertanggung jawab dan mencintai istrinya.
"Cantik Om Aaron, aku suka. Selera Om Aaron bagus kok." Chiara langsung menjawab pertanyaan Aaron, sambil jari-jarinya memegang dan mengelus-elus kalung itu.
"Tapi Om Aaron... ini bukan hari spesial untukku, kenapa Om Aaron memberiku hadiah sebagus dan semahal itu?" Chiara bertanya dengan wajah serius menatap ke arah Aaron yang jujur saja tidak menyangka dengan pertanyaan Chiara.
"Apa harus di hari istimewa baru bisa memberikan sesuatu untukmu?" Aaron balik bertanya kepada Chiara.
Karena saat bersamamu, semua hari adalah istimewa bagiku.
Aaron berkata dalam hati sambil menatap ke arah Chiara yang baginya semakin hari semakin terlihat begitu cantik baginya.