
Ah, kalau begitu, aku akan coba merayu kakakku juga seperti Grace, untuk meminjamkan sedikit uangnya padaku. Kamu tahu, kakakku yang seorang artis itu kalau untuk hal yang baik pasti tidak keberatan untuk membantuku.
Kali ini pesan dari Jaka membuat wajah Chiara semakin bersinar dan kembali pada kondisi awalnya yang biasanya selalu ceria dan penuh senyum.
Tanpa sadar Chiara menarik nafas panjang dan mengehembuskannya dengan sikap lega, membuat Aaron yang meliriknya lewat sudut matanya ikut menyunggingkan senyum tipis tanpa diketahui oleh siapapun.
"Zachary, ambil jalur kiri." Begitu mobil yang ditumpanginya mulai memasuki jalan X, Aaron segera memerintahkan kepada Zachary untuk mengambil jalur kiri.
Hal itu membuat Chiara apalagi Revina merasa sedikit heran, karena jika mereka mengambil jalur kiri, berarti tujuan mereka bukan restauran mewah yang tadinya mereka pikir tempat itu adalah tujuan dari Aaron.
"Om Aaron? Kita mau kemana?" Chiara bertanya sambil memandang ke arah Aaron yang langsung menoleh ke arahnya begitu mendengar suara Chiara yang sudah terdengar ceria kembali bertanya padanya.
"Bukannya kamu mau mengajakku makan malam? Apa kamu lupa malam ini waktunya kamu yang mentraktirku? Dan aku bebas memilih dimanapun tempat makan malam kita?" Aaron balik bertanya kepada Chiara yang langsung mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun wajahnya masih terlihat bingung.
"Tapi, kenapa kita mengambil jalur kiri ya Om? Bukannya harusnya kita ambil jalur kanan? Lalu memutar balik?" Chiara berkata sambil jari telunjuknya terarah ke arah kanan, dimana itu merupakan jalan ke arah restauran mewah yang sedari tadi memenuhi pikiran Chiara.
"Untuk masalah dimana kita akan makan malam ini, bukannya kamu tadi minta aku yang memutuskan?" Aaron yang duduk di sebelah kiri mobil bertanya sambil memandang ke arah luar jendela, dengan tatapan mata seriusnya.
"Iya sih Om. Tapi aku pikir tadi kita mau ke restauran Y yang ada di jalan X." Chiara berkata sambil mengikuti kemana arah mata Aaron memandang.
Melihat apa yang sepertinya sedang dilihat oleh Aaron, Chiara sedikit mengernyitkan dahinya, dan merasa tidak percaya jika tempat itu akan menjadi tujuan makan malam mereka.
"Aku tidak pernah bilang ingin makan malam di sana. Pasti membosankan makan di tempat yang terlalu resmi seperti itu. Aku ingin makan dengan suasana santai seperti waktu itu." Aaron berkata sambil tangannya bergerak ke arah lehernya, dan melepas dasi yang sedang dipakainya.
"Zachary, kita makan malam di Pizza Hut hari ini." Perintah Aaron membuat semua yang ada di dalam mobil bersamanya tersentak kaget, termasuk Chiara sendiri.
(Pizza Hut adalah rantai restoran Amerika dan waralaba internasional yang didirikan pada tahun 1958 di Wichita, Kansas oleh Dan dan Frank Carney. Perusahaan ini dikenal dengan menu masakan Italia-Amerika, termasuk pizza dan pasta, serta lauk dan makanan penutup.
Hal yang menarik nama Pizza Hut dipilih sebenarnya karena ketidaksengajaan. Saat ingin membuat papan nama, papan hanya cukup untuk delapan huruf. Akhirnya Camey bersaudara memilih nama Pizza Hut agar muat di papan. Camey bersaudara memiliki prinsip untuk membuat piza yang enak dan layanan seperti keluarga di rumah.
Pizza Hut di indonesia di bawah naungan PT Sarimelati Kencana mempunyai beberapa konsep restoran. Mulai dari restoran yang hanya bisa makan di tempat (Dine In) yang tidak mempunyai layanan pengantaran, RBD (Restaurant Based Delivery) yang menyediakan layanan pengantaran, hingga pesan ambil (carry out).
"Baik Pak Aaron." Zachary langsung menjawab perintah Aaron dan mulai fokus untuk mengarahkan mobil yang dikemudikannya ke arah restauran yang disebutkan oleh Aaron tadi.
Meskipun restauran pizza itu merupakan restauran yang cukup dikenal dan digemari oleh masyarakat, terutama anak muda, tapi Zachary sungguh tidak menyangka kalau untuk menyenangkan Chiara yang pasti menyukai tempat itu, Aaron rela makan di tempat itu, yang sebenarnya bukanlah makanan favoritnya.
Chiara sendiri meski terkejut, tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya begitu mendengar kemana tujuan makan malam mereka.
Selain karena makan di sana tidak akan membuatnya bangkrut seperti kalau dia makan di resturan Y, makanan pizza bagi Chiara seperti fried chicken yang selalu bisa membuatnya menelan air liurnya karena begitu sukanya dia dengan makanan-makanan itu.
Sedang Revina, selain kaget juga merasa sangat kecewa, karena dia sudah menyiapkan dirinya sedemikian rupa, berharap Aaron akan membawanya ke sebuah restauran mewah yang mengharuskan para pengunjungnya mengenakan pakaian resmi, seperti yang sedang dikenakannya hari ini.
Pakaian mewah terbaik yang dia miliki, yang sengaja dia kenakan untuk menarik perhatian Aaron dan para pengunjung lainya.
Sial! Bagaimana mungkin dengan pakaian indah dan mewahku ini aku harus menikmati makan malam berupa pizza? Apa kata orang yang melihat, kalau aku memasuki restauran pizza dengan pakaian seperti ini?
Revina berkata dalam hati sambil menggeretakkan giginya karena merasa begitu kesal, menjadi orang yang salah kostum hari ini.
Gadis itu sudah begitu berharap malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan dan membanggakan untuknya sehingga bisa dia pamerkan pada teman-temannya melalui status aplikasi pesannya, dan juga media sosialnya.
Tapi pada kenyataannya, restauran yang dipilih Aaron justru restauran cepat saji, yang baginya adalah sebuah restauran biasa yang tidak memiliki kesan mewah, meskipun tidak semua kalangan masyarakat sanggup untuk makan di tempat itu.
"Om Aaron... betul ingin makan di sana?" Chiara bertanya dengan suara ragu ke arah Aaron yang sudah melepas dasinya, dan meletakkannya di tempat duduk yang ada di sampingnya.
"Iya, kenapa? Makan di tempat seperti itu, tidak akan membuatmu bangkrut kan? Atau kita pilih tempat lain yang lebih murah?" Wajah Chiara langsung memerah begitu mendengar pertanyaan Aaron yang seolah-olah tahu bahwa semenjak tadi dia memikirkan tentang hal itu.
"Tidak Om! Tidak perlu... kita makan pizza saja. Tidak apa-apa... kita kesana saja seperti permintaan Om Aaron." Chiara langsung menolak penawaran Aaron, berkata sambil meringis, membuat Aaron hampir saja menggerakkan tangannya untuk mencubit pipi Chiara yang tampak menggemaskan.
"Apa kamu tidak suka pizza?" Aaron kembali bertanya dengan suara datarnya, meskipun dari pertanyaannya, Aaron menunjukkan bahwa dia begitu mempertimbangkan apa yang diinginkan oleh Chiara.
"Suka Om! Suka sekali!" Dengan cepat Chiara menjawab pertanyaan dari Aaron tanpa melihat ke arah Revina yang wajahnya terlihat antara kesal, kecewa, malu, menjadi satu.