
Setelah mengatakan itu, Grace segera menceritakan apa yang sudah terjadi ketika Chiara berusaha melarikan diri dengan pergi ke kamar mandi.
Wah… laki-laki itu ternyata jauh lebih menyebalkan dari yang aku kira.
Chiara berkata dalam hati sambil menatap ke arah Romi yang langsung menyungingkan senyumnya sejak mellihat kehadiran kembali Chiara ke dalam ruang aula.
“Chiara, bagaimana rencanamu selanjutnya?” Grace berbisik pelan ketika melihat Romi sudah kembali berdiri dan memegang mic, menunjukkan bahwa dia akan kembali mengumumkan tentang penerima beasiswa dari perusahaannya.
“Yang pasti, sepertinya ya harus dihadapi. Tapi tidak masalah, toh dia bukan lagi calon suamiku.” Chiara berkata dengan suara sangat pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri di hadapan Grace, meskipun saat ini hatinya sangat kesal dan kecewa rencananya untuk menghindar dari Romi telah gagal.
Membayangkan sosok Aaron yang terkesan dingin dan pendiam, Chiara langsung tersenyum.
Karena sosok Aaron justru membuatnya merasa nyaman dan terlindungi, meskipun Chiara tidak bisa menjelaskan, kenapa dia bisa memiliki perasaan senyaman itu di dekat Aaron.
Huft… alangkah baiknya kalau saja om Aaron ada di tempat ini. Tapi itu pasti adalah hal yang sangat mustahil terjadi. Sosok hebat om Aaron, pasti tidak ada hubungannya dengan sekolah ini, yang mengharuskan dia datang ke tempat ini.
Chiara berkata dalam hati sambil membayangkan sosok tampan Aaron untuk mengusir rasa kesalnya karena Romi.
Dengan sikap percaya diri, Romi yang sudah siap mengumumkan siapa saja siswa siswi yang berhak mendapatkan beasiswa, berdehem pelan, berharap tindakannya itu bisa menarik perhatian Chiara, yang sejak kembali duduk di samping Grace, justru sibuk berbisik-bisik dengan Grace, tanpa memperhatikan apa yang dilakukan dan akan dikatakan oleh Romi.
“Terimakasih untuk waktu yang sudah diberikan adik-adik sekalian, untuk mendengarkan penjelasan tentang Universitas X yang sudah merupakan almamater kami. Dan juga kesediaan adik-adik untuk mengisi angket yang kami perlukan untuk melengkapi data tentang Universitas kami.” Romi berkata dengan senyum di wajahnya, yang membuat beberapa siswi tampak menunjukkan tatapan mata kagum ke arahnya.
“Setelah ini, saya akan melanjutkan rencana awal saya, untuk menyebutkan nama-nama siswa siswi yang berhak mendapatkan beasiswa dari perusahaan saya, dan jaminan untuk bekerja di perusahaan saya meskipun mungkin tidak kulaih di Universitas X.” Romi berkata sambil membuka sebuah map, dimana di sana terdapat nama-nama siswa dan siswi yang mendapatkan beasiswa dari perusahaan yang dia pimpin.
“Untuk nama-nama siswa dan siswi yang akan saya sebutkan, diharapkan untuk bisa segera maju ke depan. Saya sendiri yang akan memberikan beasiswa tersebut kepada asik-adik sekalian, dan secara pribadi saya akan memberikan ucapan selamat sekaligus nasehat kepada para penerima beasiswa hari ini.” Kata-kata Romi disambut dengan sebuah tepuk tangan meriah, sedangkan Chiara dan Grace, sama-sama mendengus pelan.
“Yang pertama, beasiswa akan diberikan kepada Joko Afrianto…”
“Berikutnya Nenny Sartika…”
Romi menyebutkan nama-nama para penerima beasiswa, dan dengan sengaja berencana menempatkan nama Chiara Indarto di bagian paling belakang sendiri.
Namun tiba-tiba saja suara Romi tampak terhenti, begitu dia melihat dari arah pintu masuk, tampak para guru terlihat berlarian ke tempat itu.
Guru-guru yang awalnya tersebar di beberapa titik lokasi di gedung aula sekolah itu, tiba-tiba semuanya bergegas menuju pintu masuk ruangan aula, membuat suara sedikit gaduh, dan memecah konsentrasi para murid yang awalnya sedang fokus pada sosok Romi yang sedang melakukan pengumuman penerima beasiswa.
“Chiara….” Grace berbisik pelan ke arah Chiara yang lebih memilih untuk diam dan sedikit menundukkan kepalanya, menatap kedua sepatunya dengan sedikit melamun.
“Chiara….” Grace kembali memanggil nama Chiara sambil menepuk paha Chaira yang tersentak kaget dan langsung menoleh, memandang ke arah Grace dengan wajah bingung.
“Lihat…. Ada laki-laki tampan yang baru datang. Tidak tahu siapa dia, tapi sepertinya orang penting.” Chiara mendengarkan kata-kata Grace sambil mengarahkan matanya ke arah dimana mata Grace tertuju.
Laki-laki tampan dengan pakaiannya berupa setelan jas resmi yang tampak begitu rapi, dan menunjukkan bentuk tubuhnya yang sempurna itu tampak berjalan dengan langkah elegan, diikuti dengan dua orang yang sepertinya adalah asistennya.
Sedang di belakang laki-laki tampan itu tampak para guru-guru mengekor dengan sikap hormat.
Dari pakaian yang merupakan setelan jas mahal itu jelas menunjukkan bahwa laki-laki muda yang baru datang itu, bukan merupakan bagian dari para alumni Universitas, tapi juga merupakan orang penting bagi sekolah itu.
Hal itu terlihat jelas dari sikap para guru yagn terlihat begitu menghormatinya, bahkan membuat kepala sekolah turun dari panggung tempatnya duduk dan menyambut kedatangan laki-laki berwajah bule itu, diikuti dengan para guru-guru senior dan pengurus sekolah lainnya.
Om Aaron? Benarkah itu om Aaron? Kenapa tiba-tiba om Aaron datang ke sekolah ini?
Chiara yang melihat sosok Aaron yang baru datang, terlihat melongo, dengan kedua tangannya mengucek-ucek kedua matanya dengan tatapan tidak percayanya karena sosok Aaron yang tadi hanya sekedar ada dalam angan-angannya, sekarang tiba-tiba muncul di tempat ini.
“Chiara, siapa kira-kira laki-laki keren itu?” Grace berkata sambil menatap kagum kea rah Aaron.
Menyadari kalau Chiara tidak menanggapi perkataannya sedari tadi, Grace langsung menoleh kembali ke arah Chiara.
“Hei, sampai sebegitunya kamu melihat laki-laki itu? Tutup mulutmu kalau tidak ingin kemasukan lalat.” Ucapan Grace sukses membuat Chiara dengan buru-buru mengatupkan bibirnya dengan erat, dengan tatapan matanya mengikuti sosok Aaron yang disambut oleh kepala sekolah langsung beserta guru-guru senior lainnya dan para pengurus sekolah.
“Eh, iya… Grace.”
“Aduh… bagaimana nasib om Aaronmu, kalau ternyata dia tahu kamu melihat sosok laki-laki asing itu dengan tatapan begitu terpesona, sampai tidak mendengarku memanggil namamu sampai berkali-kali?” Chiara hanya meringis mendengar perkataan Grace yang sedang menggodanya.
“Jadi bagaimana? Apa kamu tetap menganggap om Aaronmu laki-laki paling keren dan mempesona? Padahal matamu hampir saja keluar melihat laki-laki itu.” Lagi-lagi, Grace menggoda Chiara, karena dia jadi meragukan apakah benar Aaron yang diceritakan oleh Chiara sehebat dan sekeren cerita sahabatnya itu, sedangkan barusan saat melihat tamu barusan, pandangan mata Chiara terlihat tidak mau beralih sedetikpun dari sosok yang menawan itu.
“Anu… Grace…. Itu… pria itu… pria yang baru datang itu... adalah… om Aaronku….” Chiara berbisik pelan dengan suara yang terdengar begitu terputus-putus karena gagap, di telinga Grace yang matanya langsung melotot kaget karena ucapan Chiara tentang laki-laki keren yang baru saja datang memasuki area aula itu.