
Setiap kali Aldrich berdiri di depan kaca, mengamati dan melihat luka-luka itu, selalu saja membuat api dendam yang ada dalam hatinya semakin membara, dan kadang membuatnya lupa diri dan menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya untuk meluapkan emosi dalam dirinya.
Rasa marah itu muncul bukan karena dia mengingat bagaimana sakitnya setiap luka demi luka itu ditorehkan oleh orang-orang yang menjadikannya bahan percobaan, tapi dia selalu ingat bagaimana kekasihnya sebelum meninggal menangis sejadi-jadinya melihat kondisi Aldrich yang mengenaskan, dengan tubuh penuh luka, baik luka yang masih baru, sudah mulai mongering ataupun luka yang sudah lama dan meninggalkan bekas di kulit Aldrich.
Dan yang membuat kekasih Aldrich merasa begitu trenyuh hatinya adalah kondisi kaki dan tangan Aldrich yang terikat dan diperlakukan seperti orang tidak waras, bahkan tidak ada bedanya dengan binatang buas dan liar yang sedang dijinakkan.
Tanpa merasa jijik, tapi justru dengan tatapan mata penuh dengan kesedihan, perasaan begitu tidak rela dan seolah bisa merasakan setiap kesakitan yang dialami oleh Aldrich... saat melihat kondisi Aldrich, kekasihnya itu justru menangis sambil menciumi bekas-bekas luka itu, seolah berharap tindakannya itu dapat membuat rasa sakit yang dialami oleh Aldrich berkurang.
Ketika kekasih Aldrich mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri dari selnya, yang pertama dicarinya adalah keberadaan Aldrich yagn berada di ruangan isolasi, dimana dia mengalami begitu banyak penyiksaan fisik akibat percobaan yang dilakukan padanya.
Saat para petugas keamanan menangkap kekasihnya, dan hendak mengembalikan ke selnya, dengan tiba-tiba kekasih Aldrich merogoh pecahan kaca yang disimpannya di balik pakaiannya, dan dengan cepat menggoreskan bagian tajam pecahan kaca itu tepat ke urat nadi di tangannya, dan juga ke lehernya sendiri.
Tindakannya itu membuat tubuh gadis itu langsung roboh, dengan mata yang masih penuh dengan airmata menatap ke arah Aldrich, yang hanya bisa memberontak, tanpa bisa berbuat apa-apa untuk dapat menyelamatkan kekasihnya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, gadis itu tersenyum ke arah Aldrich, sambil membisikkan kata "I love you" sebelum akhirnya tubuhnya melemah, dan mata mulai tertutup, juga tidak ada lagi pergerakan dari tubuh yang disekitarnya menggenang darah yang keluar dari pergelangan tangan dan lehernya.
Setiap tetesan airmatamu yang mengalir, akan dibayar mahal dengan darah yang akan aku tumpahkan dari manusia-manusia tidak tahu diri itu! Mereka harus membayar untuk kesedihan, luka, rasa putus asa, dan menghilangnya kamu dari hidupku! Aku akan menghancurkan kehidupan kalian para manusia lemah seperti kalian menghancurkan kehidupan kekasihku!
Aldrich berteriak dalam hati, merasa muak setiap kali memandang manusia-manusia normal yang ada di sekelilingnya, yang baginya selalu memandangnya dengan tatapan polos dan tanpa rasa bersalah mereka.
Beberapa dari anak buah Aldrich yang, penampilannya justru tampak seperti preman dengan tubuh penuh tato, dengan rambut panjang dikuncir, atau dicat dengan warna-warna mencolok.
Melihat bagaimana cara banyak orang menatap ke arah mereka, hal itu membuat salah seorang dari anak buat Aldrich sengaja menggerakkan tangannya, dan membuat beberapa genangan minyak di depan orang-orang yang sedang memandang ke arah mereka tanpa berkedip, tapi tetap berjalan.
"Aduh!"
"Ekh!"
"Tolong!"
Suara teriakan dari beberapa orang yang terjatuh karena genangan minyak itu langsung menjerit kaget karena terpeleset, bahkan ada yang sampai seperti orang menari-nari, karena berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh setelah menginjak cairang yang licin itu, sehingga kedua kakinya tampak bergerak maju mundur menahan beban tubuhnya.
Tapi sayangnya, pada akhirnya orang itu tetap terjatuh, membuat anak buah Aldrich yang melakukan keisengan itu langsung tertawa dengan wajah terlihat puas melihat wajah kesakitan dari orang-orang yang terjatuh akibat perbuatannya barusan.
"Bagaimana dengan semua persiapan kita? Apa semuanya berjalan dengan lancar?" Aldrich bertanya kepada salah satu anak buahnya yang sedari awal sejak dia turun dari pesawat, selalu berdiri di sampingnya.
"Siap Bos. Semua sudah diatur dengan baik." Dengan sikap hormat laki-laki di samping Aldrich itu langsung menjawab pertanyaan Aldrich.
"Kamu bertanggung jawab atas semua persiapan kita Rey. Jangan sampai ada yang terlewat. Termasuk rencana kita untuk bisa segera menemukan keberadaan Aaron dan istri kecilnya itu." Aldrich berbisik pelan sambil melirik ke sekitarnya, mengamati orang-orang yang lalu lalang, yang tampak sesekali menghentikan langkah mereka ketika gerombolan Aldrich berjalan melewati mereka.
"Baik Bos. Aku harap Bos tidak kecewa dengan kinerjaku kali ini." Aldrich langsung tersenyum miring mendengar kata-kata Rey, salah satu anak buah kepercayaannya, yang selama ini menjadi orang yang mendapat perintah langsung dari Aldrich.
"Aku tidak mau rencana kita gagal dan berantakan seperti yang terakhir kalinya terjadi di Amerika waktu itu. Ingat itu dengan baik! Atau kali ini aku benar-benar akan menghajarmu!" Aldrich berkata dengan suara sinis, karena terakhir kalinya, beberapa bulan lalu, saat Aldrich berniat merampok sebuah bank, sebuah kebiasaan yang dilakukannya saat persediaan uang di kelompoknya sudah mulai menipis, namun Aaron bersama dengan teman-temannya yang lain berhasil menggagalkan usaha perampokannya itu, membuat untuk beberapa waktu anggota kelompoknya harus rela dan hanya bisa mendapatkan uang dengan mencopet atau mencuri di keramaian.
Karena sejak itu setiap kejahatan kelompok Aldrich yang terlalu mencolok, langsung diketahui dan digagalkan oleh kelompok Aaron, sehingga mereka hanya bisa melakukan kejahatan-kejahatan kecil seperti para penjahat kelas teri, yang sulit untuk dideteksi oleh kelompok Aaron.