Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
MULAI MERINDUKANNYA



“Baik, saya akan segera menghubungi nona Chiara sore ini, dan saya akan aturkan agar seorang sopir menjemput nona Chiara besok, mengantarnya ke kantor untuk bisa berangkat bersama dengan Bapak dari tempat ini, atau seperti biasanya, agar menghemat waktu Pak Aaron, biarkan sopir langsung mengantar nona Chiara ke butik, sehingga Anda berdua bisa bertemu di sana langsung….”


“Tidak perlu.” Aaron langsung memutus perkataan dari Zachary yang baru saja memberikan ide, sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh Aaron.


“Kita berdua yang akan pergi menjemputnya. Kita berangkat dari sini untuk menjemputnya, lalu pergi bersama dengannya ke butik.” Mendengar itu, sebenarnya mata Zachary hampir saja melotot, karena Aaron yang biasanya tidak pernah mau bergaul dan berinteraksi dengan orang lain, besok merelakan waktunya untuk menjemput Chiara?


Berada dalam satu mobil dengan orang lain selain Zachary sebagai asisten pribadinya, kedua orangtuanya, Grayson, dan almarhum adik tirinya Jasmine?


Paling-paling jika terpaksa, Zachary tidak bisa mengantarnya, ada seorang sopir lain yang diijinkan oleh Aaron masuk ke mobilnya, dan itupun hanya satu sopir itu saja, yang kadang justru membuat Aaron memutuskan untuk menyetir mobilnya sendiri.


Hal yang benar-benar tidak pernah dilakukan oleh seorang Aaron, membiarkan orang, selain yang disebutkan Zachary dalam hati tadi, untuk berada satu mobil dengannya.


Apalagi, ini bukan sekedar orang lain, tapi orang yang benar-benar tidak memiliki hubungan apapun dengan Aaron, bukan keluarga, bukan teman, bukan sahabat, bukan karyawan atau staffnya, bukan juga rekan bisnisnya.


Tapi nona Chiara adalah calon istri pak Aaron sih. Bukan semua hubungan yang aku pikirkan barusan, tapi calon istri, dan itu hubungan yang sangat istimewa… semoga saja benar seperti itu yang sedang terjadi pada pak Aaron.


Zachary secara spontan menyambung pemikirannya dalam hati, dengan wajah ingin mengajukan pertanyaan tentang perubahan sikap dan standar Aaron yang lagi-lagi terjadi.


Tapi wajah datar dan tatapan mata amber dari Aaron yang terlihat jelas tidak menginginkan adanya pertanyaan apapun, membuat Zachary benar-benar harus menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan komentar apapun.


“Baik Pak, saya akan segera aturkan masalah itu. Dan untuk berkas-berkas ini...."


"Kamu boleh pulang sekarang. Biarkan saja berkas-berkas itu disini. Besok pagi kamu bisa mengambil dan mengaturnya kembali." Aaron memotong perkataan Zachary dengan cepat, sambil melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, yang sudah menunjukkan waktunya untuk pulang tepat waktu bagi Zachary.


"Eh Pak...."


"Aku akan mengurus sisanya, kamu pulang saja. Sebentar lagi aku juga berencana untuk pulang. Hari ini aku akan menyetir sendir mobilku, tidak perlu menyiapkan sopir untukku." Aaron mebali memotong perkataan Zachary yang akhirnya mengangukkan kepalanya dengan hati yang bersorak kegirangan karena hari ini sesuai janjinya, Aaron mengijinkannya pulang tepat waktu, setelah bertahun-tahun dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya bekerja pulang tepat waktu.


"Pergilah sekarang." Aaron berkata sambil mendekatkan tumpukan berkas yang tadi sudah diletakkan Zachary di depannya.


"Baik Pak, terimakasih, semoga sisa hari ini menyenangkan untuk Bapak. Saya pulang dulu Pak Aaron." Zachary buru-buru berpamitan kepada Aaron yang menanggapinya dengan sebuah anggukan kepala.


Setelah keluar dari ruangan Aaron, sambil berkacakl pinggang dan tersenyum lebar, Zachary langsung melemparkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang dia lewati, dimana banyak orang yang terlihat mulai berkemas, bersiap untuk pulang.


Hah! Hari ini! Yes! Hari ini! Aku juga akan segera berkemas seperti kalian! Meski mungkin hanya hari ini aku mendapatkan kesempatan emas seperti ini, aku akan mengingatnya dengan baik, dan berharap kelak, sekali waktu bisa mendapatkan kesempatan seperti ini lagi.


Zachary berkata dalam hati sambil bersiul-siul dengan wajah terlihat begitu senang.


Mengingat tentang itu, Zachary yang melanjutkan perkataannya dalam hati, langsung menghentikan siulannya, lalu menarik nafas dalam-dalam, dengan wajah gundah.


Ah, perduli amat dengan itu, yang pasti hari ini aku bisa pulang tepat waktu setelah ribuan hari selama bekerja sebagai asisten pak Aaaron aku belum pernah mendapatkan hal seperti ini. Lebih abik aku nikmati saja sepuasnya.


Zachary kembali berkata dalam hati, lalu bergegas membuka pintu kantornya, untuk segera berkemas dan pulang.


Satu dua orang yang melihat bagaimana wajah Zachary yagn dalam hitungan detik berubah beberapa kali, hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengulum senyum di bibir mereka.


# # # # # # #


Selamat malam om Aaron, apa om sudah makan?


Malam om, apa om Aaron masih sibuk?


Selamat malam om Aaron, apa om Aaron sudah pulang dari kantor?


Selamat malam om Aaron, aku tadi melihat om Aaron mengunjungi SMA tempat aku sekolah.


Om, aku tidak menyangka kalau ternyata om adalah pemilik SMA tempat aku sekolah.


Om, kata-kata om di aula sekolah tadi sungguh terdengar sangat keren....


Om, aku sungguh termotivasi dengan kata-kata om tadi siang di aula sekolah SMAku.


Lebih dari 5 kali Chiara yang berencana menuliskan pesan pada Aaron, menulis, menghapus, menulis dan kembali menghapus pesan itu, sampai akhirnya Chiara meletakkan handphonenya di atas kasur tempatnya duduk bersila sekarang dengan kondisi terbalik, dan dia sendiri menghela nafas panjang.


"Gila! Aku benar-benar dibuat tidak tahu harus berkata apa untuk sekedar menyapa om Aaron...." Chiara berkata pelan sambil meletakkan kepalanya di atas tumpukan bantal yang dia susun di atas pahanya tadi.


Rasanya, jari-jari tangan Chiara terasa begitu gatal, ingin menuliskan pesan kepada Aaron, meskipun hanya sekedar menyapa Aaron, atau memberitahukan kepada Aaron, bahwa tadi siang, Chiara melihat kehadiran sosok Aaron di aula sekolahnya, dan merasa kagum atas apa yang diucapkan Aaron di depan banyak orang tadi siang.


Akan tetapi, bagaimanapun sudah berusaha, Chiara merasa tidak bisa menemukan kata-kata yang pas untuk bisa dia sampaikan ke Aaron, agar dia bisa memulai pembicaraan dengan Aaron, yang sudah membuat hatinya semakin terpesona.


Setiap sikap, kata-kata, bahkan gerakan tubuh Aaron siang tadi, membuat Chiara merasa semakin jatuh cinta pada sosok pria itu.


“Kenapa aku jadi seperti orang yang tergila-gila dengan sosok om Aaron? Aku bahkan ingin sekali bertemu dengan om Aaron secepat mungkin jika bisa. Tapi alasan apa yang bisa aku buat untuk bisa bertemu dengan om Aaron? Sungguh memalukan jika tiba-tiba saja aku bilang aku sangat ingin bertemu dengannya. Pasti dia akan semakin menganggapku sebagai anak kecil menyebalkan yang sudah begitu mengganggunya. Akh….” Chiara mengomel pada dirinya sendiri sambil menggaruk-garuk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal, dan mendesah panjang.