
“Jangan suka bergerak dengan tiba-tiba dan terlalu cepat seperti itu. Ingat bayi dalam kandunganmu.” Aaron berkata pelan sambil mengacak pelan rambut Chiara yang langsung meringis.
Kata-kata peringatan dari Aaron, sudah puluhan, bahkan mungkin ratusan kali didengar oleh Chiara yang memang seringkali bertindak seperti gadis remaja pada umumnya yang terlihat energik, yang pastinya belum menikah di usia mudanya, apalagi hamil.
Sebenarnya bukan karena dia sendiri yang menginginkan bergerak dengan cepat, tapi setelah memasuki masa kehamilan lebih dari 4 minggu, Chiara seringkali merasa tiba-tiba tubuhnya ingin bergerak dengan cepat, bahkan kadang dia ingin segera mengerjakan segala sesuatunya sendiri, termasuk ketika dia ingin mengubah tata letak furniture yang ada di ruang tamu apartemenya.
Rasanya, Chiara hampir tidak bisa menahan diri untuk mengangkat sendiri setiap perabotan yang ada ketika dia ingin memindahkannya.
Hanya saja, saat itu ada Aaron yang tidak pernah membiarkan Chiara bekerja terlalu keras sejak kehamilannya, karena bayi yang ada dalam kandungan Chiara, cukup membuat Aaron khawatir, mengingat beberapa waktu lalu, salah seorang mutan di kelompoknya yang istrinya merupakan manusia biasa, saat hamil hampir saja meninggal kekurangan gizi karena ternyata bayi di dalam perutnya meminta asupan gizi 5 kali lipat lebih banyak dari kebutuhan bayi normal.
Sehingga waktu itu, istri temannya itu harus mengurangi kegiatan normal yang biasa dia lakukan untuk menghemat tenaganya, dan memakan sebanyak mungkin makanan yang dia bisa agar dia dan bayinya tidak kekurangan gizi.
Chiara sebenarnya sudah beberapa lama merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya, yang justru merasa jauh lebih sehat dan fit dibandingkan dengan saat-saat dia belum hamil.
Bahkan tanpa diketahui oleh Aaron, Chiara tahu bahwa keberadaan bayi dalam perutnya bahkan membuat dia secara tiba-tiba memiliki sebagian kekuatan super seperti Aaron, meskipun belum sebanding dengan kekuatan yang dimilikinya.
Sejak beberapa waktu ini, Chiara bisa merasakan bagaimana telinganya yang semakin peka, gerakannya yang semakin cepat, dan juga tenaganya yang semakin kuat, tidak seperti manusia normal pada umumnya.
“Maaf Om Aaron…. He he he he.” Jawaban Chiara yang diakhiri dengan senyum manisnya, membuat Aaron hanya bisa membalasnya dengan senyuman, dan mengurungkan niatnya untuk kembali mengomeli Chiara.
“Aku sudah rindu berat dengan Om Aaron, karena itu inginnya segera bertemu Om Aaron seperti ini. Bisa memeluk dan bersandar pada Om Aaron.” Dengan suara ceria sekaligus manja Chiara berkata sambil mempererat pelukannya pada lengan Aaron, dan menyandarkan kepalanya ke lengan Aaron.
Kamu ini… selalu saja berhasil membuat aku tidak berdaya jika berada di dekatmu.
Aaron berkata dalam hati sambil berusaha menenangkan jantungnya yang mulai berdisko di dalam dadanya.
Jika saja mereka ada di apartemen mereka, Aaron tidak akan menunggu lebih dari sedetik untuk tidak menggendong Chiara dan membawanya ke dalam kamar, apalagi dokter mengatakan kalau bayi dalam kandungan Chiara sangat sehat, sehingga mereka masih bisa melakukan kegiatan percintaan sebanyak yang mereka mau, asal tetap hati-hati.
“Itu suami Chiara, kalau kamu memang ingin tahu siapa suami Chiara.” Dengan nada dingin, Revina berkata kepada Romi yang sejak Chiara pergi ke arah Aaron, matanya tidak berkedip sama sekali melihat apa yang dilakukan oleh pasangan romantis itu.
“Aaron… Aaron Malverich….” Tanpa sadar Romi membisikkan nama Aaron Malverich yang pernah ditemuinya di sekolah Chiara waktu itu dengan suara mendesis dan tidak percaya.
Apakah itu artinya, yang dulu mengirimkan kembali tiket konser musik yang aku berikan pada Chiara dengan menambahkan tiket dengan kelas yang lebih tinggi dari yang aku belikan adalah Aaron malverich? Sial! Sepertinya jika benar dia yang merupakan suami Chiara, aku tidak akan memiliki kesempatan untuk merebut Chiara darinya, jika aku tidak ingin terlibat dalam masalah besar.
Romi hanya bisa menggerutu dengan sikap tidak berdaya dalam hati, begitu melihat siapa yang ternyata menjadi suami Chiara, yang awalnya sempat dia ragukan dan sempat dia anggap remeh, karena Romi yakin kalau dia lebih hebat dari laki-laki yang sedang dekat dengan Chiara.
Karena bagi Romi, tidak mungkin Mona yang dari desas desus yang dia dengar mallnya mengalami kebangkrutan, bisa mendapatkan suami untuk Chiara yang lebih baik darinya.
Akan tetapi, begitu melihat kenyataan siapa pria yang memiliki hubungan dekat dengan Chiara itu, mau tidak mau, Romi harus memaksa dirinya mundur teratur dan tidak lagi mengharapkan bisa benar-benar memiliki Chiara yang ternyata merupakan istri dari Aaron Malverich, seorang pria yang tentu saja bukanlah orang bisa dijadikannya saingan, karena levelnya tidak sebanding dengan pria hebat itu.
"Mmmm... ternyata kamu mengenal kakakku Aaron Malverich. Baguslah kalau begitu.... Aku jadi tidak perlu menjelaskan kepadamu tentang siapa kakakku. Ah ya... tentu saja laki-laki sehebat dan sekeren kakakku, pasti hampir semua orang penting di kota ini mengetahui tentang siapa dia." Grayson langsung menanggapi gumaman yang keluar dari bibir Romi, sambil tersenyum puas melihat kehadiran Aaron yang sedang mengobrol dengan sikap mesra pada Chiara yang tampak begitu manja padanya.
Perkataan Grayson membuat Romi diam seribu bahasa, tanpa berani menanggapi kata-kata dari laki-laki tampan yang ternyata merupakan adik dari Aaron, yang artinya juga berasal dari keluarga Malverich.
"Maaf, saya harus segera kembali ke kantor." Akhirnya dengan buru-buru, tanpa menunggu balasan jawaban dari Grayson, Romi segera pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh sedikitpun, meskipun hatinya merasa sangat dongkol.
Dan yang semakin membuatnya kesal, dia tidak bisa melampiaskan rasa jengkelnya baik pada adik Aaron yang wajahnya terlihat jelas mengejeknya, apalagi pada Aaron yang sama sekali bukan lawannya.