Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
OBROLAN BERSAMA SAHABAT



"Aist, suara perutmu sudah seperti orang yang tidak makan selama seminggu. Apa kamu sebegitunya kelaparan?" Jaka berkata sambil merogoh kantong celananya, lalu menyodorkan sebungkus wafer bersalut coklat pada Chiara yang matanya langsung terlihat berbinar saat melihat wafer di tangan Jaka.


Grace yang melihat itu langsung tersenyum geli, karena dibandingkan dengan dia dan Chiara yang anak perempuan, Jaka selalu saja menyimpan makanan ringan di kantong celananya, kemanapun dia pergi.


Dan lucunya, seringkali yang menghabiskan snack yang dibawa Jaka justru Chiara atau Grace, yang seringkali dengan sengaja merampok snack milik Jaka, dengna berbagai alasan.


Seperti saat ini, mendengar suara merdu dari perut Chiara, Jaka lagi-lagi merasa tidak tega dan harus merelakan snack yang ada di sakunya untuk Chiara.


"Cih... aku kira kalian akan membiarkanku membeli makanan di kantin terlebih dahulu sebelum menculikku kesini." Chiara berkata sambil meraih sebungkus wafer dari tangan Jaka, membukanya, dan langsung menikmatinya.


"Ayolah... cepat selesaikan makan wafermu." Grace berkata dengan sikap tidak sabaran, karena dilihatnya Chiara yang sedang menikmati wafer di tangannya terlihat sengaja memperlambat makannya, membuat Grace dan Jaka merasa semakin penasaran dengan apa yang sudah terjadi kemarin pada Chiara.


Sejak Chiara mematikan sambungan telepon mereka ketika Chiara melarikan diri dari acara pembicaraan dengan keluarga Romi kemarin siang, berkali-kali Grace mengirimkan pesan tapi belum ada satupun pesan yang dibalas oleh Chiara hingga pagi ini, karena Chiara sendiri hampir terlambat ke sekolah karena asyik dengan pikirannya tentang Aaron tadi pagi.


“Mmmm… tunggulah sebentar, aku masih menikmati makan pagiku hingga  kenyang. Supaya aku ada energi untuk bercerita.” Chiara menjawab pelan, dengan mulut mengunyah wafer yang sudah dirampoknya dari Jaka.


“Ist… Cuma satu biji wafer, mana bisa kamu kenyang.” Jaka langsung berkata menanggapi ucapan Chiara yang langsung memandang Jaka dengan senyum liciknya.


“Kalau begitu, beri aku satu lagi.” Chiara berkata sambil mengulurkan telapak tangannya ke arah Jaka dengan posisi menengadah, meminta jajanan lagi pada Jaka yang terlihat mencibirkan bibirnya.


“Sudah habis.” Jaka berkata singkat, sambil menggerakkan tubuhnya ke samping agar Chiara dan Grace tidak melihat di saku celananya masih ada lagi sebungkus wafer di sana.


"Ayolah Jaka... katanya kamu ingin mendengar ceritaku? Berikan aku snackmu agar ada tenaga tambahan." Chiara berkata dengan wajah memohon, sedang Grace dengan gerakan cepat langsung mendekat ke arah Jaka dan memegang saku celana Jaka yang langsung melompat ke belakang karena kaget.


"Aisttt!!! Bahaya Grace! Jangan pegang-pegang sembarangan dong!" Jaka berkata sambil salah satu tangannya memegang dadanya, sedang tangannya yang lain dengan cepat mengeluarkan wafernya kembali, dan melemparkannya ke arah Chiara yang kembali memakannya, tanpa perduli setelah ini pasti ada adu mulut antara Jaka dan Grace.


"Hah! Tidak perlu hiperbola dong Jaka! Aku tidak pegang yang macam-macam kok!" Grace langsung menanggapi perkataan Jaka yang baginya terlalu hiperbola.


(Hiperbola adalah sejenis bahasa kias yang mengandung kata-kata, frasa, maupun kalimat yang berlebih-lebihan dalam jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya. Majas hiperbola bermaksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya).


"Hih! Amit-amit. Jangan berpikiran mesum kamu!" Grace berkata sambil mengepalkan tangannya ke arah Jaka.


"Lho, harusnya aku yang protes. Aku kan masih polos, dan juga perjaka ting-ting." Jaka membalas perkataan Grace dengan bibir manyunnya.


Chiara langsung tertawa kecil melihat tingkah kedua temannya itu.


"Sudah dong! Jadi mau dengar ceritaku tidak?" Chiara bertanya sambil melemparkan bungkus bekas wafer ke arah tempat sampah yang tidak jauh dari tempat duduknya.


Perkataan Chiara berhasil membuat Jaka dan Grace langsung menghentikan pertikaian mereka, dan dengan cepat bergegas mendekat ke arah Chiara.


Grace duduk tepat di sebelah Chiara, sedangkan Jaka di depan kedua teman dekatnya itu.


"Ayo... ceritakan semuanya, jangan sampai ada satu peristiwapun yang tertinggal." Grace langsung berkata sambil menepuk-neluk pelan bahu Chiara yang tersenyum.


Akhirnya Chiara menceritakan bagaimana sepulangnya di rumah setelah sempat melarikan diri dari pertemuan dengan keluarga Romi, dia dimarahi oleh Mona.


Namun, sebentar kemudian dia harus membiarkan Revina mendadandani dirinya untuk bertemu dengan seseorang yang akan melamarnya malam ini.


Mendengar dalm satu hari ada 2 orang laki-laki yang melamar Chiara, sungguh membuat Jaka dan Grace saling berpandangan dengan tatapan wajah terlihat keheranan.


Apalagi setelah mereka mendengar bagaimana Chiara menceritakan bagaimana sosok Aaron yang tampan dan mengagumkan yang berusaha membantunya terlepas dari rencana Mona untuk menikahkannya dengan Romi, salah seorang casanova yang dikenal sebagai laki-laki tampan yang seringkali berganti pasangan dengan kehidupan bebasnya bersama para wanita.


"Tapi aku mohon, jangan sampai seorangpun tahu tentang rencana pernikahanku ya. Kalian berdua, adalah satu-satunya yang aku beritahu. Kalau sampai ada bocornya berita ini, kalian adalah orang pertama yang akan aku curigai. Dan lebih baik, kita tidak lagi berteman kalau sebagai sahabat kita tidak bisa saling menjaga rahasia." Chiara mengucapkan kata-katanya dengan serius, disertai ancaman.


Jaka dan Grace sendiri langsung mengangguk-anggukkan kepalanya begitu mendapatkan peringatan dari Chiara.


"Tenang saja Chiara. Kami pasti mendukungmu! Apalagi tante Monamu itu benar-benar licik. Aku senang akhirnya kamu menemukan cara untuk keluar dari rumah itu." Jaka berkata sambil mengingat bagaimana Mona yang seringkali memarahi Chiara, membentak-bentaknya, menindasnya, apalagi dalam hal keuangan.