
“Selamat siang semuanya….” Suara Aaron yang terdengar merdu, membuat beberapa orang siswi tampak membeliakkan matanya sambil mengumbar senyum mereka.
Beberapa dari antara mereka sungguh berharap kalau Aaron menyempatkan matanya untuk menatap ke arah mereka.
Tapi sayangnya, mata Aaron terlihat jelas menatap sekelilingnya, tanpa membiarkan matanya fokus pada salah satu orang yang ada di ruangan aula itu.
“Selamat siang Pak Aaron….” Para siswa siswi langsung menjawab salam Aaron dengan begitu kompak, termasuk Chiara, Grace, dan juga Jaka yang sedari tadi sibuk mengarahkan pandangan matanya ke arah Chiara begitu kepala sekolah memperkenalkan Aaron di depan para siswa.
Sayangnya, Chiara terlalu sibuk mengamati sosok Aaron, dibandingkan dengan menoleh ke arah Jaka yang sedang menunggu Chiara mengarahkan pandangan matanya ke Jaka meski hanya sebentar.
Aaron Malverich, namanya sama-sama Aaron Melverich. Apa laki-laki itu om Aaron yang diceritakan Chiara tadi?
Jaka bertanya-tanya dalam hati dengan rasa penasaran yang begitu besar.
Sepertinya begitu, kalau tidak, tidak mungkin Chiara memandang terus ke arah laki-laki itu tanpa berkedip. Sepertinya om itu orang baik, sayangnya sikapnya terlalu pendiam dan dingin.
Jaka yang ikut mengamati Aaron, kembali berkata dalam hati, mencoba menebak orang seperti apakah Aaron itu.
“Senang sekali bisa bertemu dengan kalian para siswa siswi yang hebat. Hari ini kebetulan kedatangan saya untuk menyampaikan sesuatu yang berkatitan dengan dukungan kepada sekolah ini. Seperti yang diketahui oleh para pengurus sekolah. Selama ini sekolah menerima donasi dari beberapa perusahaan besar dan juga beasiswa untuk siswa dan siswi berprestasi, yang kadang mengajukan syarat. Untuk penerima beasiswa khususnya beasiswa untuk kuliah, mereka diikat kontrak untuk bekerja di perusahaan yang bersangkutan setelah lulus kuliah.” Aaron menghentikan kata-katanya sejenak, sambil melirik ke arah kepala sekolah, yang merasa sedikit gugup.
Karena sejak awal, Aaron sudah menegaskan bahwa pihak sekolah boleh menerima donasi maupun beasiswa, tapi tidak boleh melakukan intervensi terlalu dalam terhadap kebijakan terhadap siswa siswi yang mendapatkan beasiswa.
(Intervensi adalah campur tangan, bentuk hambatan yang mungkin dialami peserta didik dalam proses pembelajaran. Hal ini sangat berdampak dalam proses pendidikan, karena bisa menghambat perkembangan serta proses belajar. Intervensi dilakukan setelah asesmen (Penilaian pendidikan atau evaluasi pendidikan adalah proses sistematis mendokumentasikan dan menggunakan data empiris tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, dan keyakinan untuk menyempurnakan program dan meningkatkan pembelajaran siswa) dilakukan).
Jika saja para siswa itu memang memiliki passion di sana, bagi Aaron tidak masalah, itu artinya mereka akan menjalaninya dengan senang hati.
Akan tetapi jika mereka harus kuliah dan bekerja sesuai ketetapan perusahaan, sedangkan mereka tidak memiliki ketertarikan maupun bakat dan kemampuan di sana, itu menjadi sesuatu yang justru menjadikan siksaan dan rasa tidak nyaman bagi siswa tersebut.
“Bagi seseorang yang tertarik berkecimpung di dunia pendidikan, hal itu karena saya ingin, setiap dari siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar, dan meraih impian mereka, dengan membantu mereka menemukan apa yang sebenarnya menjadi keistimewaan dan kelebihan mereka. Setiap anak, dilahirkan unik, dan tidak ada kata bodoh bagi seorang siswa. Jika seorang guru mengatakan seorang siswa bodoh, itu artinya dia sedang menunjuk pada dirinya sendiri, karena tidak bisa menemukan kelebihan dari anak tersebut. Karena itu, saya tekankan pada semua guru di tempat ini, jangan pernah menunjukkan jari Anda ke wajah murid Anda dan mengatakan kalau dia bodoh.” Perkataan Aaron langsung disambut tepuk tangan yang meriah dari para murid, yang menunjukkan tatapan mata kagum ke arah Aaron.
Chiara tampak menyungingkan senyum dan melihat Aaron dengan tatapan semakin kagum, melihat bagaimana bijaksananya sosok Aaron, dan terlihat begitu dewasa dan berwibawa baginya, membuatnya semakin menyukai Aaron.
“Karena itu, mohon maaf untuk Bapak Romi, saya mewakili pihak sekolah ini, mengatakan bahwa kami tidak bisa menerima beasiswa yang Anda tawarkan, yang berusaha mengikat para siswa siswi yang mendapatka beasiswa itu untuk memilih jurusan, kampus dan juga pekerjaan di tempat pak Romi. Memang selama ini kami berterimakasih karena perusahaan milik Pak Romi selalu menjadi donatur tetap untuk sekolah ini. Tapi jika Anda melakukan itu untuk membatasi mimpi para siswa siswi berprestasi sekolah ini. Dengan berat hati, saya menolak semua jenis donasi maupun beasiswa yang Anda tawarkan pada murid-murid kami.” Aaron berkata dengan nada suara terlihat tenang, tapi jelas sangat menusuk bagi Romi yang harus rela menahan dirinya untuk tetap tersenyum ramah, meskipun saat ini rasanya dia begitu ingin memaki laki-laki tampan yang ternyata merupakan pemilik dari sekolah ini.
Meskipun Aaron memandang ke arah Romi dengan sikap tenang, dan sedikit menunduk untuk menghormati Romi, tapi Romi bisa melihat bagaimana di balik kata-katanya, Aaron ingin menunjukkan bahwa dia memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar untuk memutuskan nasib sekolah ini beserta dengan murid-murid yang ada di dalamnya, dibandingkan dengan dia yang hanya seorang donatur, bukan pemilik Yayasan yang menaungi sekolah ini.
Perkataan Aaron, cukup membuat wajah kepala sekolah terlihat sedikit pucat dan salah tingkah.
Alasan terbesar bagi kepala sekolah untuk selalu mendukung keinginan dari perusahaan Romi adalah karena dia sendiri memiliki hubungan dekat dengan ayah Romi, dan seringkali mendapatkan sesuatu dari keluarga Romi yang menguntungkan dia secara pribadi.
“Dan untuk kalian para murid-murid, tidak perlu khawatir. Belajarlah dengan baik, dan beasiswa akan tetap diberikan oleh pihak Grup M&S untuk kalian. Beasiswa akan dibedakan menjadi dua kategori. Kategori pertama, untuk siswa yang berprestasi dalam bidang mata pelajaran sekolah. Dan yang kedua, beasiswa dengan kategori bakat dan minat. Kami akan melihat prestasi kalian bukan saja dari nilai mata pelajaran, tapi bakat seni, olahraga, maupun bakat lain diluar mata pelajaran.” Kali ini, bukan sekedar tepuk tangan, tapi beberapa siswa yang selama ini merasa memiliki bakat dalam bidang-bidang yang tidak berkaitan dengan mata pelajaran, langsung bertepuk tangan sambil berdiri, dengan wajah mereka yang terlihat begitu bahagia.
“Kami akan membantu kalian untuk menemukan apa yang terbaik untuk kalian. Beberapa waktu ke depan, akan ada tim khusus dan merupakan tim yang professional di bidang pengenalan minat dan bakat seseorang, untuk membantu kalian mengenali minat dan bakat kalian, yang mungkin itu masih tersembunyi buat kalian, belum kaslian sadari sepenuhnya. Ke depannya, kegiatan itu akan diadakan setiap satu semester sekali, agar minat dan bakat kalian semakin matang dan siap menjadikan itu untuk meraih mimpi kalian di masa depan.” Beberapa siswa langsung terlihat saling berpandangan dengan senyum lebar di wajah mereka, begitu Aaron mengumumkan tentang hal itu.