
"Tidak tahu. Dari kemarin sebenarnya aku ingin sekali menanyakan tentang hal itu pada om Aaron. Tapi sepertinya aku tidak memiliki cukup keberanian untuk menghadapi kenyataan, jika jawaban om Aaron tidak sesuai dengan yang aku harapkan." Chiara berkata sambil menghela nafasnya.
Apa aku berhak bersikap egois? Andai saja bisa... andai saja diijinkan... aku ingin om Aaron agar selalu berada di dekatku. Om Aaron tidak perlu kembali ke Amerika, dan tetap bersamaku. Padahal om Aaron sudah melakukan banyak hal untukku, tapi aku terus menerus menginginkan lebih.
Chiara berkata dalam hati sambil mempermainkan kuku-kuku jari-jarinya dengan cara menggaruk-garuk kuku jarinya dengan kuku jarinya yang lain.
Aku sudah cukup beruntung dipertemukan dengan om Aaron di waktu yang tepat, atau sekarang hidupku tidak jelas akan seperti apa. Om Aaron sudah menyelamatkanku dari rencana jahat tante Mona. Dan untuk itu aku berhutang budi kepada om Aaron. Bahkan mungkin aku tidak bisa membayar hutang budi itu. Tapi aku masih begitu berharap untuk selamanya bisa terus bersama dengan om Aaron, bukan hanya dalam waktu 4 tahun saja.Â
Akhirnya sebuah hembusan nafas panjang dari hidungnya terdengar dari Chiara.
Hingga saat ini membayangkan Aaron akan pergi kembali darinya, cukup membuat Chiara begitu gelisah dan tidak tenang, apalagi mengingat di Amerika sana, ada seorang Angelina yang bagi Chiara merupakan gadis yang sangat cantik dengan bentuk tubuh sempurnanya sebagai seorang wanita, juga cara berpakaiannya yang membuat mata pria mau tidak mau melirik ke arahnya.
"Hmmmm.... Sebenarnya Chaira...." Grace menghentikan bicaranya sejenak.
"Dari yang aku lihat dari om Aaron, dari ceritamu tentang om Aaron. Sepertinya laki-laki seperti om Aaron, yang bersikap begitu baik dan perduli padamu…. Aku kok merasa curiga sebenarnya om Aaron itu sebenarnya mencintaimu, tapi sekarang dia sedang pura-pura tidak memiliki perasaan apa-apa padamu." Grace mengeluarkan pendapatnya sambil memajukan bibirnya, merasa yakin dengan apa yang baru saja dia ungkapkan barusan.
"Aduh!" Grace langsung berteriak begitu mendapat sebuah jitakan pelan di kepalanya oleh Jaka.
"Jangan mengucapkan kata-kata yang bisa membuat Chiara salah paham dan bertambah berharap. Nanti akan lebih menyakitkan kalau kenyataannya tidak seperti yang kamu katakan itu." Jaka berkata dengan gaya sok bijaknya, membuat Grace melotot karena tidak terima Jaka tidak mendukung pendapatnya.
"Ist... sekarang aku tanya deh sebagai sesama laki-laki. Memang kamu mau melakukan banyak hal untuk gadis lain, seperti yang sudah om Aaron lakukan kepada Chiara kalau tidak ada perasaan apapun pada Chiara?" Mendengar pertanyaan dari Grace, Jaka sedikit terdiam dan mulai merenung.
"Iya juga sih. Meskipun pernikahan kalian berdua itu hanya di atas kertas, tapi kan sah secara hukum dan agam, jadi saat bercerai status om Aaron akan tetap duda kan ya? Kalau dipikir-pikir, tetap saja merugikan om Aaron di masa depan. Belum lagi banyak uang yang dikeluarkan om Aaron untuk Chiara. Mulai dari biaya pernikahan, mobil, uang bulanan Chiara, dan juga pesta ulang tahun kemarin. Untuk Chiara sepertinya om Aaron tidak perduli seberapa banyak uang yang harus dia keluarkan." Grace langsung mengacungkan jempolnya begitu mendengar perkataan Jaka.
"Kalau om Aaron tidak memiliki perasaan apapun pada Chiara, mana mungkin dia mau melakukan hal sebanyak itu untuk Chiara?" Grace menambahkan perkataan Jaka.
"Kecuali...."
"Kecuali, ada sesuatu yang kita tidak tahu tentang hubungan sebenarnya antara om Aaron dan Chiara..."
"Contohnya?" Grace langsung memotong perkataan dari Jaka.
"Mungkin, sebenarnya om Aaron dan Chiara adalah saudara kandung yang terpisah lama? Atau mungkin mereka sebenarnya adalah saudara kembar yang sejak bayi dipisahkan atau.... Aduh...." Kali ini Jaka harus mengakhiri kata-katanya dengan sebuah teriakan karena cubitan yang cukup keras, yang dilakukan oleh Grace ke lengan atas Jaka.
"Kamu sembarangan saja kalau bicara! Mana mungkin orangtua Chiara punya anak lain selain Chiara? Apalagi... apa katamu tadi? Anak kembar? Yang benar saja... selisih usia om Aaron dan Chiara 12 tahun, mana bisa dicurigai sebagai saudara kembar? Belum lagi, jelas-jelas kedua orangtua asli orang Indonesia, bagaimana mungkin bisa memiliki anak seperti om Aaron yang wajahnya jelas-jelas bule? Hist! Khayalanmu terlalu aneh." Grace akhirnya hanya bisa mengomel panjang mendengar pendapat Jaka yang tidak masuk akal sama sekali.
Pada akhirnya, Jaka hanya bisa menggaruk-garuk rambut di kepalanya mendengar semua sanggahan Grace atas perkataannya yang tidak masuk akal.
Chiara mau tidak mau akhirnya hanya bisa tersenyum dengan wajah pasrah, karena pembicaraan mereka yang tidak jelas ujung pangkalnya tentang siapa dan bagaimana sosok Aaron sebenarnya, dan apa yang menjadi latar belakang sikap baik Aaron kepada Chiara.
# # # # # # #
Romi menarik nafas dalam-dalam melihat berkas di tangannya, semua info tentang Diego Malverich yang baru saja diserahkan oleh asisten pribadinya di atas meja kerjanya tadi.
"Pantas saja aku pernah melihat sosoknya dan merasa tidak asing. Ternyata dia dari keluarga Malverich, sepupu Aaron Malverich si raja properti itu." Romi berkata sambil mengamati foto wajah Diego, dan membaca tulisan yang ada di samping dan bawah gambar foto Diego yang terlihat ramah dengan senyum manisnya.
"Benar Pak Romi, beliau salah satu orang terkaya yang sebagian besar bisnisnya ada di Amerika, sama seperti dengan Aaron Malverich. Hanya saja Aaron lebih suka tinggal di Indonesia dibanding dengan Diego. Selama belasan, mungkin lebih dari 20 tahun Aaron Malverich tinggal di Indonesia. Hanya saja beberapa bulan ini, entah kenapa, dia tinggal di Amerika." Romi menggigit bibir bawahnya mendengar penjelasan dari asistennya.
Entah kenapa, meskipun Romi merasa begitu penasaran dengan sosok Diego, dan juga penasaran tentang hubungan antara laki-laki itu dengan Chiara, karena pertemuan mereka hari itu, tapi saat nama Aaron disebutkan, membuat Romi justru merasa ada sesuatu tentang Aaron yang membuatnya tidak tenang, meskipun dia tidak bisa menjelaskan kenapa pikirannya seperti itu.
"Diego ini, memiliki perusahaan pewarna buatan terbesar di dunia. Bagaimana dengan kehidupan pribadinya selama ini?" Romi berkata sambil meletakkan kembali berkas tentang Diego yang baru dibacanya sekilas tadi.
"Tidak banyak info yang bisa saya dapat tentang Diego Malverich, termasuk tentang Aaron Maleverich, terutama tentang kehidupan pribadinya. Seperti yang Pak Romi tahu, keluarga mereka memiliki kekayaan tidak terhingga, dengan pengaruh besar dan mereka memiliki hubungan yang bagus dengan banyak pemimpin negara, membuat tidak banyak orang bisa mengetahui tentang keluarga mereka, apalagi mereka orang-orang yang tidak suka publikasi dan tampil di media, sehingga tidak banyak orang bisa mendapatkan foto-foto mereka. Berita tentang mereka sangat terbatas." Perkataan asisten pribadinya membuat Romi menghela nafasnya.