
Awalnya Chiara merasa canggung, karena jika dia masuk ke dalam mobil melalui pintu yang dibukakan oleh Zachary, berarti dia akan duduk bersebelahan dengan Aaron.
"Silahkan masuk Nona." Melihat keraguan di wajah Chiara, Zachary langsung mempersilahkan Chiara untuk masuk, membuat Chiara mau tidak mau akhirnya masuk ke dalam, karena tidak mungkin juga untuknya duduk di kursi depan, di samping Zachary, membiarkan Aaron duduk sendiri di kursi penumpang.
Meski akhirnya Chiara duduk di samping Aaron dengan jarak yang tidak berdempetan, tapi bagi Chiara yang baru pertama kalinya merasakan ketertarikannya pada seorang laki-laki di usianya yang masih semuda itu, membuat Chiara beberapa kali harus menahan nafasnya, agar bisa mengendalikan getaran hebat di dadanya saat ini karena keberadaan Aaron di sampingnya.
"Om... harusnya Om tinggal mengatakan dimana lokasi tujuan kita, Chiara bisa kesana sendiri, sehingga om tidak perlu menjemput Chiara." Dengan suara cerianya, Chiara berusaha membuka suara, untuk mencairkan suasana canggung diantara mereka berdua.
Lebih tepatnya, kecanggungan Chiara sendiri, karena sosok Aaron tetap terlihat tenang dan datar seperti biasanya, meskipun saat ini ada Chiara yang duduk di sampingnya.
"Tidak masalah. Melihat tindakan tantemu tadi, belum tentu kamu bisa keluar dari rumah, jika kami tidak datang menjemputmu." Aaron berkata tanpa memandang ke arah Chiara.
"Eh, Om!" Chiara terpekik pelan karena kata-kata Aaron mengingatkannya tentang sesuatu, membuat Zachary sedikit melirik ke arah spion mobilnya karena ikut kaget mendengar teriakan kecil dari Chiara.
"Aku sampai lupa! Terimakasih untuk bantuan Om tadi. Tapi Om... harusnya Om Aaron tidak perlu memberikan uang sebanyak itu pada tante Mona." Chiara berkata sambil mencebikkan bibirnya, menunjukkan rasa tidak puasnya karena tindakan Aaron memberikan banyak uang pada Mona.
Kata-kata Chiara membuat Zachary mengulum senyumnya, tidak menyangka bahwa untuk sekedar mengatakan itu, Chiara tadi sempat berteriak, seolah ada kejadian genting yang baru diingatnya, seperti seorang ibu-ibu yang lupa mematikan kompornya saat sudah berada di jalan bersama suaminya.
Aaron sendiri hanya menaikkan sebelah alisnya begitu mendengar perkataan Chiara tentang bagaimana Chiara yang memprotes tindakannya memberikan uang pada Mona tanpa pikir panjang tadi.
"Kalau begitu, mau aku hubungi tantemu sekarang agar mengembalikan uang itu, dan aku memulangkanmu ke rumah untuk tanda tangan berkas penarikan danamu?" Chiara langsung melongo mendengar jawaban dari Aaron yang sungguh tidak disangka-sangka olehnya.
"Ah, Om Aaron pasti bercanda kan? Aku bisa benar-benar dicuci bersih oleh tante kalau Om melakukan itu. Ha ha ha." Chiara berkata sambil tertawa kecil, dan tanpa sadar menepuk lengan atas Aaron dengan spontan, tanpa berpikir panjang, memnperlakukan Aaron seperti bagaimana selama ini dia dan Grace bercanda dengan Jaka yang merupakan sahabat dekat mereka.
Tindakan Chiara, membuat Zachary bahkan hampir saja menginjak rem mobil kuat-kuat melihat bagaimana santainya sikap Chiara pada Aaron, yang bahkan tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari siapapun, termasuk Angelina yang dikenal Zachary sebagai satu-satunya sahabat Aaron.
Aaron sendiri, tanpa sadar langsung menoleh ke arah Chiara sambil menahan nafasnya melihat bagaimana dengan santainya Chiara bersikap sok akrab dengannya, bahkan berani memukul lengannya dengan lumayan kuat, seolah mereka berdua adalah teman akrab yang sudah cukup lama saling mengenal, dan saat ini sedang bercanda.
"Ah maaf Om... sakit ya?" Dan tanpa merasa canggung, Chiara yang baru saja sadar telah menepuk lengan atas Aaron dengan cukup keras, langsung mengucapkan kata maafnya sambil mengelus-elus lengan Aaron yang baru dipukulnya itu.
"Eh, tidak apa-apa." Dengan cepat tangan Aaron bergerak, menggenggam tangan Chiara untuk menghentikan gerakan tangan Chiara yang mengelus-elus lengannya, membuat Chiara tersentak kaget, dengan dadanya yang berdegup keras.
Tangan om Aaron, terasa sangat hangat dan nyaman sekali.
Chiara berkata dalam hati dengan dadanya yang begitu berdebar, seolah akan meloncat keluar dari tubuhnya.
"Bagaimana sekolahmu hari ini?" Melihat Chiara yang tampak diam dengan sikap tidak tenang, Aaron langsung berusaha mengalihkan perhatian dengan membuka pembicaraan yang jauh berbeda dari sebelumnya, sedang Zachary langsung menghela nafas lega melihat bagaimana Aaron yang sepertinya tidak kaget, marah atau tersinggung dengan tindakan berani dan sok akrab Chiara padanya.
"Baik Om. Ah ya Om. Kemarin Om datang ke sekolahku ya?" Dan sesuai perkiraan Aaron, wajah Chiara berubah kembali ceria setelah mendengar pertanyaan Aaron tentang sekolahnya.
"Ya." Aaron menjawab pendek.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau ternyata Om Aaron adalah pemilik SMA tempat Chiara bersekolah. Om Aaron benar-benar keren kemarin." Chiara berkata sambil mengacungkan dua jarinya di depan Aaron yang sedikit tersentak kaget.
Menerima pujian dari orang lain tentang kehebatannya, bagi Aaron adalah hal biasa, entah itu pujian tulus atau hanya sekedar untk menarik perhatian dan simpatnya, bahkan sekedar pujian palisu hanya untuk menjilatnya.
Tapi saat ini, ada seorang gadis kecil yang sedang mamujinya dengan wajah imut dan pipi memerahnya, juga kedua tangannya mengacungkan jempol di hadapannya dengan sikap ceria yang tidak dibuat-buat, benar-benar polos dan tulus, membuat sesuatu yang hangat menjalar di hati Aaron.
"Keren darimananya?" Akhirnya tanpa sadar Aaron justru mengatakan pertanyaan anehnya yang singkat pada Chiara, seperti orang yang haus akan pujian dan penasaran tentang penilaian orang lain padanya, sesuatu yang selama ini tidak diperdulikan sama sekali oleh Aaron.
Apapun penilaian orang tentang dirinya, Aaron tidak pernah ambil perduli, dan tidak pernah ingin tahu tentang pendapat orang tentangnya.
Aaron selama ini hanyalah seseorang yang bergerak dan bertindak sesuai naluri dan akal sehatnya yang selalu berpikir secara logis, bukan karena perasaannya, membuatnya kadang dikenal sebagai orang yang dingin dan tidak terlalu perduli dengan sekitarnya.
Tapi entah kenapa, pendapat dari Chiara tentang dirinya membuat hatinya tergelitik untuk mengetahui lebih dalam lagi.
"Semuanya Om!" Dengan bersemangat Chiara menjawab pertanyaan Aaron tanpa berpikir panjang.
"Kedatangan Om kemarin, kata-kata motivasi Om, pengumuman yang Om lakukan kemarin, semuanya keren, termasuk sosok Om sebagai pemilik sekolah yang ternyata masih muda dan tampan. Padahal bagi kami para siswa, selalu membayangkan pemilik sekolah biasanya bapak-bapak tua dengan kepala botak, kadang perut buncit, dan orang yang tidak bsia dekat dengan para siswa. Begitu sih, penilaian kami selama ini. Maaf ya Om....." Chiara mengakhiri kata-katanya sambil mengatupkan kedua tangannya dengan wajah terlihat memohon ampun dan kedua matanya tertutup rapat, membuat mau tidak mau Aaron menyungingkan senyum di wajahnya.