
Tentu saja Jaka tidak akan terima jika pada akhirnya ternyata acara Chiara sore ini dengan Aaron bukanlah sebuah acara yang benar-benar penting.
"Nanti sore... om Aaron mengajakku untuk memilih gaun pengantin untukku." Chiara berkata dengan wajah yang memerah dan sikap malu-malu.
Mendengar itu, Grace dan Jaka langsung melotot kaget dan saling berpandangan dengan wajah tidak percaya.
Tentu saja itu adalah hal yang mengagetkan bagi mereka yang masih berusia sedemikian muda untuk membahas masalah pernikahan, meskipun Chiara sudah mengatakan bahwa dia akan segera menikah dengan Aaron.
"Wah? Gaun pengantin? Serius?" Mata Grace langsung berbinar cerah mendengar cerita Chiara tentang rencana Aaron yang berniat mengajaknya untuk mencari gaun pernikahan yang cocok untuknya nanti sore.
Sepertinya om Aaron benar-benar serius ingin menikah dengan Chiara. Meskipun Chiara tetap menyangkal kalau dia menyukai om Aaron, tapi dari wajah ceria dan pipinya yang seringkali memerah saat menyebutkan nama om Aaron, jelas-jelas Chiara menyukai om Aaron.
Grace berkata dalam hati sambil mencubit pipi Chiara dengan gemas, apalagi mebayangkan Chiara yang memang cantik, pasti akan sangat cantik mengenakan gaun pengantinnya.
"Aduh Grace, apa-apaan sih? Sakit...." Grace langsung tertawa mendengar pekikan kecil dari Chiara yang langsung mengelus-elus pipinya yang baru saja dicubit oleh Grace.
"Kamu benar-benar menggemaskan saat jatuh cinta. Kisah kalian benar-benar seperti cerita komik yang pernah aku baca." Perkataan Grace membuat Chiara mencebikkan bibirnya.
"Sembarangan saja. Kan sudah aku bilang, kami hanya menikah di atas kertas." Mendengar jawaban Chiara, Grace langsung menepuk-nepuk pelan pipi Chiara.
"Mana ada orang bersemangat seperti kamu sekarang kalau kamu hanya menganggapnya sesuatu yang tidak penting, sesuatu yang cuma sambil lalu?" Grace berkata pelan sambil memandang ke arah Jaka yang langsung menganggukkan kepalanya, tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Grace.
"Benar kata Grace. Aku juga baru kali ini melihatmu terlihat begitu bersemangat saat menceritakan tentang seorang laki-laki. Kamu pasti sudah jatuh cinta padanya." Jakan langsung menambahkan kata-kata Grace.
Ist... bagaimana mereka bisa tahu kalau aku memang begitu mencintai om Aaron? Aku harus tetap merahasiakan hal itu. Bisa bahaya jika didengar orang lain, apalagi kalau sampai om Aaron tahu, padahal aku sudah berjanji padanya untuk menikah dengannya hanya pura-pura saja. Aku bisa benar-benar malu kalau sampai om Aaron tahu aku begitu menyukainya. Aku harus belajar giat, menjadi wanita dewasa yang cantik dan pintar agar om Aaron bisa jatuh cinta padaku kelak.
Chiara berkata dalam hati sambil berusaha keras menata hatinya, dan juga wajahnya agar berubah setenang mungkin.
"Kita masih terlalu muda untuk membicarakan cinta. Tunggu setelah kita siap, baru kita bahas tentang apa itu cinta." Chiara berkata dengan gaya sok bijak, membuat Grace dan Jaka langsung tertawa geli, karena merasa Chiara sangat tidak pantas saat mengucapkan kata-katanya barusan, dengan sikap sok tenang dan dewasanya.
"Haist... sudahlah, pokoknya aku tahu kamu sedang jatuh cinta dengan om Aaronmu. Ayo kita kembali ke kelas, waktu istirahat sudah hampir habis." Grace berkata sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
"Ayo...." Grace kembali mengajak kedua temannya untuk ekmbali ke kelas, sambil merengkuh bahu Chiara dan memeluknya, sembari berjalan berdampingan, dengan Jaka yang berjalan mengikuti di samping mereka, seperti pengawal pribadi bagi yang melihat bagaimana formasi mereka bertiga.
Setelah 5 tahun ini harus hidup di bawah bayang-bayang dan tekanan tante Mona, akhirnya ada om Aaron yang kelak bisa menjaga Chiara. Aku berharap, cinta Chiara tidak bertepuk sebelah tangan. Meskipun aku cukup khawatir, melihat bagaimana jauhnya perbedaan usia, dan juga dari segi apapun, Chiara kalah jauh dibandingkan dengan om Aaron.
Grace berkata dalam hati sambil tangannya yang memeluk bahu Chiara mengelus-elus lengan Chiara, berdoa yang terbaik untuk masa depan dan kebahagiaan sahabatnya itu.
# # # # # # #
Apa penampilanku hari ini sudah cukup cantik dan menarik?
Chiara berkata dalam hati sambil membetulkan ikatan rambutnya yang panjang sepunggung, yang sore ini diikat seperti ekor kuda olehnya.
Sekilas Chiara menghentikan gerakannya, sambil memajukan bibirnya ke depan.
"Sayangnya aku tidak punya cukup alat make up." Chiara berkata pelan sambil melihat ke arah meja riasnya, dimana disana hanya terdapat bedak, sisir, ikat rambut dengan berbagai model dan warna.
Hanya saja untuk bahan maupun alat yang berkaitan dengan make up wajah tidak ada sama sekali terlihat di sana.
Selain memang Chiara sendiri karena merasa masih terlalu muda tidak tertarik untuk mengenakan make up, Mona benar-benar membatasi penampilan Mona, yang dianggapnya sebagai saingan berat bagi Revina.
"Ah, biarkan saja, kalau aku terlalu berlebihan dalam berdandan, bisa-bisa om Aaron ngeri melihatku, seperti melihat monster." Chiara berkata pelan sambil terkikik pelan, membayangkan sosok wanita gila yang biasa lewat di depan sekolahnya.
Orang gila itu seringkali berpakaian dengan warna-warna mencolok, dengan riasan sangat tebal, dan warna yang begitu tajam, termasuk lipstiknya yang selalu berwarna merah menyala.
Menurut info yang pernah didengar oleh Chiara, wanita itu dulunya adalah seorang penyanyi yang biasa diundang di pesta penduduk kampung sekitarnya.
Wanita itu menjadi gila setelah suaminya berselingkuh dengan wanita lain yang merupakan pemilik warung kopi di dekat rumahnya, yang ternyata selalu dikunjungi oleh suaminya hampir setiap malam, terutama jika istrinya sedang manggung menerima job di acara seperti pernikahan.
"Hih...." Chiara berkata sambil menggedikkan bahunya mengingat bagaimana menornya penampilan wanita gila itu.
"Non! Non Chiara...." Suara bi Umi membuat Chiara menghentikan kegiatan memutar-mutar tubuhnya di depan kaca dan langsung berjalan ke arah pintu kamarnya setelah menarik tali tasnya, dan dia selempangnya ke tubuhnya.
"Iya Bi Umi...." Chiara segera menjawab panggilan dari bi Umi sambil membuka pintu kamarnya.
Begitu pintu kamar terbuka, tampak bi Umi berdiri di balik pintu dengan wajahnya yang terlihat cemas.
"Non...."
"Iya Bi, kenapa?"
"Itu... bu Mona baru datang dan marah-marah, begitu mendengar Nona Chiara mau pergi keluar sore ini." Chiara langsung mengernyitkan dahinya mendengar perkataan bi Umi.
Sepanjang hari ini memang Chiara tidak berhasil menghubungi Mona untuk berpamitan kalau sore ini dia akan pergi bersama Aaron.
Tapi seingat Chiara, dengan jelas dia sudah menuliskan pesan dan menjelaskan dengan detail keperluannya pergi sore ini, setelah mencoba puluhan kali menghubungi Mona dan tidak berhasil.