
Seperti kata pak Diego, orang seperti pak Aaron yang baru pertama kalinya berhubungan dengan gadis yang disukainya, bisa sangat berbahaya kalau dia cemburu. Istt... untung saja nona Chiara segera sadar, kalau tidak matilah aku.
Zachary berkata dalam hati sambil memandang kembali ke arah Chiara dengan berusaha keras menyembunyikan sikap gugupnya karena kaget.
"Saya mendapat pengalaman tentang itu dari anak perempuan saya Nona. Dia sangat suka dengan warna-warna pastel terutama biru muda dan merah muda." Akhirnya dengan cepat, Zachary berusaha untuk mencari alasan yang tepat.
Perkataan Zachary sukses membuat Chiara tersenyum puas, dan Aaron yang melirik ke arah Zachary, ikut terlihat puas dengan jawaban Zachary.
"Pasti putri Pak Zac anak yang baik dan juga lucu. Kapan-kapan, Pak Zac harus mengenalkannya padaku. Sepertinya kami akan bisa cepat akrab." Chiara berkata sambil berjalan memasuki kamar itu.
Dengan langkah santai, Chiara berkeliling ke setiap sudut kamar yang akan ditempatinya itu, sambil menatap setiap perabot, dan juga interior ruangan yang membuatnya tampak kagum.
"Kalau ada yang kurang, kamu bisa memberitahuku atau Zachary, supaya bisa segera kami bereskan." Kata-kata Aaron membuat Chiara yang sedang membelakanginya sambil mengelus-elus sudut meja belajarnya, langsung membalikkan tubuhnya, dan berjalan mendekat ke arah Aaron.
"Tidak ada Om. Semuanya perfect... kamar ini sungguh sempurna. Bahkan aku tidak pernah membayangkan akan memiliki kamar seindah dan sebagus ini." Chiara berkata sambil menatap ke arah Aaron dengan tatapan mata bahagianya.
"Kalau begitu, semoga kamu bisa tidur nyenyak malam ini di kamar barumu. Sekarang sudah waktunya kita makan malam." Aaron berkata sambil menggerakkan tubuhnya ke samping, ke arah pintu kamar Chiara.
"Eh Om Aaron...." Bibir Chiara yang memanggil namanya dengan suara pelan, membuat Aaron menghentikan langkahnya, dan memandang kembali ke arah Chiara.
"Kenapa Chiara?"
"Om.... di apartemen ini... mana yang menjadi kamar Om Aaron? Boleh aku melihatnya?" Dengan nada suara terdengar ragu, Chiara bertanya kepada Aaron yang langsung tersentak kaget.
Chiara memang sedari tadi merasa penasaran dengan letak kamar Aaron, sehingga tanpa sadar mengucapkan pertanyaan yang membuat Aaron harus menelan ludahnya karena kaget dengan pertanyaan Chiara yang membuatnya sekilas sempat berpikir tentang sesuatu yang aneh, sebagai laki-laki normal yang mendapatkan pertanyaan dari gadis yang akan menjadi istrinya sebentar lagi, meskipun Aaron tahu, pertanyaan polos Chiara, tidak bermaksud membuatnya berpikiran yang tidak-tidak.
Tapi sebagai seorang pria dewasa, tiba-tiba mendengar pertanyaan seperti itu, membuat Aaron tidak siap dan merasa sedikit gugup.
"Eh, tentu saja...." Dan pada akhirnya, dengan suara terdengar pelan, Aaron berkata sambil melirik ke arah Zachary yang langsung berpura-pura untuk tidak mendengar pembicaraan mereka berdua, dan membuang mukanya ke samping, agar Aaron tidak bisa melihat kalau saat ini wajah Zachary terlihat begitu memerah karena sedang menahan tawa gelinya.
Nona Chiara ini... benar-benar jago dalam hal membuat pak Aaron salah tingkah sampai kehilangan kata-katanya. Tindakan maupun kata-kata nona Chiara, sungguh sulit diprediksi.
Zachary berkata sambil menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya menoleh ke arah Aaron sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Ah, iya Zachary, tolong kamu pastikan makanan sudah siap dalam waktu 10 menit ke depan. Aku akan mengantar Chiara sebentar melihat-lihat sebentar ruangan lain di apartemen ini." Dengan cepat, Aaron menyetujui penawaran Zachary.
"Baik Pak." Dengan bergegas, Zachary langsung pergi menjauhi dua pasangan yang baginya terlihat sangat serasi itu.
"Ayo Om, aku tidak sabar ingin melihat desain kamar Om." Dengan santainya Chiara berkata kepada Aaron, mengajaknya untuk bisa segera melihat kondisi kamar Aaron, tanpa menyadari kalau Aaron baru saja menahan nafasnya sekilas dan menyentuh dadanya yang berdebar-debar, akibat perkataan dari Chiara tentang keinginan Chiara untuk melihat kamarnya.
"Ini kamar yang biasa aku pakai kalau sedang menginap di apartemen ini." Aaron berkata sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan mempersilahkan Chiara untuk masuk ke dalam sana.
Begitu Chiara memasuki kamar Aaron, tatapan mata terkagum-kagum dengan bibir yang sedikit terbuka karena melongo segera terlihat pada diri Chiara.
Bagi Chiara, kamar yang diberikan Aaron untuknya sudah terhitung luas, tapi kamar Aaron, bahkan lebih luas dua, atau bahkan tiga kali lipat dari kamar milik Chiara tadi.
Belum lagi, begitu Chiara menoleh, di salah satu bagian dinding dari kamar itu full terbuat dari kaca tebal, yang di depannya tampak pemandangan bangunan di sekitarnya.
Kaca tebal itu terlihat memenuhi salah satu sisi kamar Aaron, menggantikan dinding, dengan di bagian kiri kanannya terdapat tirai yang terlipat dengan rapi, membuat seluruh abgian kaca itu terbuka lebar, sehingga cahaya bisa merobos masuk sepuasnya ke dalam kamar bernuansa maskulin tersebut.
Dan kebetulan, hari mulai beranjak gelap, sehingga Chiara bisa melihat warna merah matahari yang hampir tenggelam dari kaca berukuran besar itu.
Dari sana juga terlihat bagaimana satu persatu lampu bangunan-bangunan yang ada di luar sana, mulai menyala dan membuat pemandangan malam dari apartemen Aaron yang terletak di lantai paling atas dari bangunan apartemen itu, terlihat semakin indah.
Pemandangan itu membuat tanpa ragu Chiara bergerak mendekati kaca tebal itu, dan berdiri di dekat sana dengan senyum lebarnya.
"Wahhh... Om Aaron... pemandangan dari kamar Om Aaron ini benar-benar hebat...." Chiara berkata dengan kedua telapak tangannya bergerak, dan kemudian menempel pada kaca tebal yang ada di kamar Aaron.
Melihat itu, Aaron langsung berjalan mendekat ke arah Chiara yang wajahnya terlihat begitu terkagum-kagum.
"Kalau kamu suka, setelah aku pergi ke Amerika, kamu boleh pindah ke kamar ini dan tidur di sini." Kata-kata Aaron membuat Chiara melepaskan kedua telapak tangannya dari kaca di depannya, dan membalikkan tubuhnya agar bisa menatap ke arah Aaron.
"Tidak Om, aku akan tetap di kamar yang sudah disiapkan oleh Om, sampai Om Aaron kembali." Chiara berkata dengan suara sedikit bergetar, karena bagaimanapun membayangkan sosok Aaron yang akan segera pergi meninggalkannya, membuat ada rasa nyeri yang tiba-tiba terasa menusuk-nusuk hatinya.
"Kalau begitu sesekali kamu bisa menikmati pemandangan indah itu di sini. Selama aku pergi, aku akan membiarkan kamar ini terbuka." Aaron berkata sambil tubuhnya miring ke samping, dan tangannya bergerak ke arah meja yang ada di samping tubuh Chiara, membuat jarak mereka jadi begitu dekat, bahkan Aaron hampir saja menyentuh tubuh Chiara yang langsung tersentak kaget, membuat Chiara langsung berniat bergerak menjauh, dengan bergerak mundur agar tidak terjadi gempa bumi di dadanya.