
“Aku tidak bisa melakukan itu Angelina. Jika aku melakukannya, itu sama artinya dengan aku mencelakaimu, aku akan merusak, bahkan membunuh masa depanmu. Aaron pasti tidak akan pernah memaafkan aku jika aku berani melakukan hal itu padamu.” Jack langsung menolak permintaan Angelina yang baginya sangat tidak masuk akal itu.
“Dia tidak akan perduli Jack! Dia tidak akan perduli padaku! Yang dia perdulikan hanya istri kecilnya itu! Jangan menyebutkan nama Aaron di depanku lagi. Aku mau menghapuskan semuanya tentang dia, termasuk ingatanku tentang dia! Tolong aku Jack! Kumohon.... Tolong aku...!” Angelina kembali berkata dengan nada cukup tinggi, dengan kedua tangannya memegang erat lengan Jack dengan tatapan mata memohon, memandang lurus ke arah Jack yang tampak kikuk.
“Angelina….” Akhirnya George berkata sambil mendekatkan kursinya ke kursi Angelina.
“Benar kata Jack. Aaron tidak akan pernah memaafkan kami bertiga jika dia tahu kami membiarkan Jack merusak otakmu dengan kekuatan menghapuskan ingatan yang dia miliki. Aaron memang tidak mencintaimu sebagai seorang wanita, tapi dia begitu menyanyangimu sebagai seorang sahabat.” Kata-kata George membuat tangis Angelina semakin menjadi.
Kata-kata George sekaligus menyadarkan Angelina, bahwa seumur hidupnya, dia mungkin akan selalu membawa rasa patah hati itu bersamanya, karena tidak ada yang bisa dia lakukan untuk dapat melupakan sosok Aaron yang baginya tidak akan pernah bisa tergantikan oleh laki-laki lain.
Andai aku bisa mengulang waktu, sedari awal aku akan memilih untuk tidak pernah dipertemukan dengan Aaron, sehingga aku tidak perlu merasakan bagaimana jatuh cinta padanya. Cinta yang sangat menyakitkan ini.
Angelina berkata dalam hati bersama tangisnya yang semakin menjadi, dengan kedua telapak tangan Angelina menutupi kedua wajahnya yang tertunduk dan tubuh membungkuk, membiarkan semua emosi dalam dirinya keluar dalam bentuk tangisan.
Mark, Jack maupun George akhirnya memilih diam di tempatnya, dengan mata menjauh dari sosok Angelina, karena merekapun merasa tidak tega melihat bagaimana Angelina yang mereka kenal sebagai gadis yang tegar, menangis sedemian keras saat ini, menunjukkan kalau saat ini dia benar-benar terluka.
Untuk itu, ketiga pria itu memilih untuk diam, membiarkan Angelina mengambil waktu untuk memuaskan diri bergelut dalam emosinya, dan berharap setelah itu, Angelina bisa kembali menjadi sosok Angelina yang seperti biasanya.
Bagi mereka yang mengenal Angelina dan Aaron cukup lama, melepaskan rasa cintanya pada Aaron, merupakan hal yang begitu sulit bagi Angelinma, karena sudah sekian lama dia cukup bergantung pada pertolongan Aaron dan menjadikan Aaron sebagai kriteria pria yang diidamkan untuk menjadi pendampingnya selama ini.
Di samping itu, menjadi satu-satunya wanita yang cukup dekat dan selalu berada di sekitar Aaron selama ini, tanpa sadar membuat Angelina menjadi terlalu percaya diri dan terus memupuk rasa cintanya tanpa perduli bahwa Aaron hanya menganggapnya sebagai sahabat, tidak lebih.
# # # # # # #
Begitu membuka matanya, Chiara langsung tersenyum melihat ke arah Aaron yang ternyata sudah duduk berselonjor di samping tubuhnya yang masih terbaring.
Walaupun mereka melakukan kegiatan hanya sekali, tapi sudah cukup menguras tenaga Chiara yang memang tidak sebanding sama sekali dengan tenaga Aaron.
Apalagi karena kemarin adalah untuk pertama kalinya mereka melakukan itu, Aaron sengaja dengan sabar melakukan foreplay cukup lama, untuk membuat Chiara benar-benar terpancing gairahnya agar bisa mengimbanginya dan membuat Chiara ikut menikmati percintaan mereka.
Sebuah gerakan kecil dari Chiara membuat Aaron langsung menoleh ke arah Chiara dengan senyumnya yang langsung tersungging di bibirnya.
"Bagaimana kabarmu pagi ini Chiara?" Aaron langsung bertanya sambil mengulurkan tangannya, melingkarkannya ke atas kepala Chiara yang masih berbaring, lalu mengelus-elus lembut wajah Chiara yang langsung tersenyum lebar.
"Sangat baik Om Aaron...." Chiara berkata lirih sambil menggerakkan tubuhnya, mendekat ke arah Aaron, sedikit menegakkan tubuhnya, agar dia bisa menyandarkan bagian atas tubuhnya ke dada bidang Aaron yang masih terlihat bertelanjang dada dengan selimut masih menutupi tubuhnya sebatas pinggang ke bawah, karena memang di kamar itu hanya tersedia celana boxer saja untuk Aaron.
Sedangkan Chiara, mau tidak mau hanya bisa mengenakan pakaian dalamnya yang tentu saja tidak bisa tertutup sempurna oleh lingerie yang dikenakannya, karena hanya itu pakaian yang bisa dia pakai untuk saat ini.
Untung saja masih ada selimut tebal yang paling tidak bisa digunakan Chiara untuk menutupi tubuhnya.
Bukan lagi untuk menutupinya dari pandangan mata Aaron, tapi dari udara dingin yang terasa menusuk kulitnya.
Begitu Chiara menyandarkan kepalanya di dadanya, Aaron langsung mengecup lembut puncak kepala istrinya itu sambil menarik selimut di tubuh Chiara yang terlihat melorot karena gerakan Chiara tadi.
Aaron langsung menutupkan selimut itu kembali ke tubuh Chiara, yang Aaron yakin pasti merasa kedinginan karena hanya bisa mengenakan lingerie dengan bahan yang begitu tipis dan menerawang untuk saat ini.
Selain itu, Aaron sengaja menutupi tubuh Chiara agar dia bisa mengendalikan dirinya untuk saat ini, yang sejak semalam masih saja terbakar gairah dan keinginan untuk mengulang kembali kegiatan mereka semalam, setiap menatap ke arah Chiara yang sepanjang malam terlihat menikmati tidur lelapnya, tanpa sadar bahwa Aaron begitu kesulitan untuk tidur setelah kegiatan intim mereka tadi.