
"Baik Om, aku kesana duluan ya." Dengan gerakan lincah, dan berjalan dengan sedikit melakukan lompatan-lompatan kecil karena rasa senangnya, Chiara berjalan ke arah dinding kaca kamar Aaron, meraih remote di atas meja yang ada di dekatnya, dan langsung membuka membuka dinding kaca itu.
Begitu kakinya melangkah ke arah balkon, Chiara langsung tersenyum melihat sebuah meja bulat berukuran tidak terlalu besar sudah ada di sana, dan ada dua buah kursi yang terletak saling berhadapan ada di sana.
Meja itu tampak cantik dengan taplaknya yang berwarna putih tulang, dan di atasnya terdapat rangkaian bunga segar yang terlihat indah, dan juga menyebarkan bau harum ketika angin menerpanya, membuat Chiara menarik nafas dalam-dalam sambil tersenyum.
Di samping rangkaian bunga itu terdapat dua set alat makan lengkap yang letaknya saling berseberangan, tepat di depan kedua kursi yang ada di sana.
Sedang di bagian lainnya tampak sebuah roti tart berukuran sedang, berbentuk lingkaran dilumuri dengan coklat dan dihias dengan buah segar di atasnya, dan lilin dengan angka 17 tertancap di bagian tengahnya.
Chiara langsung tersenyum melihat pemandangan di depannya itu.
Aku tidak mengira ternyata om Aaron juga menyiapkan hal seperti ini untuk ulang tahunku, benar-benar manis... ternyata om Aaron tidak mengabaikan hari istimewaku sama sekali.
Chiara berkata dalam hati sambil menghela nafasnya lega, begitu tahu penantiannya tidak sia-sia, bahwa ternyata Aaron tidak melupakannya di hari istimewa ini.
Meskipun Aaron tidak hadir di pestanya yang diadakan di hotel, kedatangan Aaron malam ini sudah cukup bagi Chiara untuk membuatnya tahu bahwa... meski mungkin saat ini Aaron belum mencintainya, tapi Aaron sangat perduli padanya.
Pemikiran itu, membuat hati Chiara merasa begitu damai saat ini, dan membuatnya semakn bersemangat untuk bisa belajar dan berusaha sebaik mungkin, agar bisa memenangkan hati Aaron di masa depan.
Bagi Chiara, kedatangan Aaron, dan memniliki kesempatan untuk bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 17 berdua dengan Aaron, jauh lebih berharga daripada sebuah pesta perayaan yang mewah yang sudah menghabiskan biaya ratusan juta.
Di dalam walk in closetnya, begitu Aaron menutup pintunya, dia langsung berdiri menyandarkan tubuhnya di balik pintu sambil memegang dadanya yang masih berdetak kencang, sambil beberapa kali berusaha untuk menarik dan menghembuskan nafasnya untuk mengusir pikirannya yang mulai memikirkan hal yang tidak seharusnya dia pikirkan tentang Chiara sebagai seorang wanita yang begitu didambakannya.
Aaron terdiam sejenak untuk menenangkan diri, sebelum akhirnya Aaron berjalan ke arah puluhan pakaian miliknya yang tergantung rapi.
Dengan gerakan pelan, Aaron mencoba memilih pakaian untuk dikenakannya malam ini sambil tersenyum.
Meskipun dia tahu ada banyak hal buruk yang bisa saja terjadi jika dia bersama Chiara, tapi untuk hari ini, Aaron ingin sedikit melupakan semua masalah yang ada.
# # # # # # #
Sebuah ketukan pintu dari arah kamar Aaron membuat Chiara langsung menoleh.
Chiara berniat membuka pintu kamar Aaron, namun Aaron yang baru saja keluar dari walk in closet nya dengan gerakan berlari-lari kecil segera bergerak ke arah pintu kamar dan membukanya, membuat Chiara langsung menghentikan langkah kakinya.
Melihat Aaron yang mengenakan celana jeans dengan hem ketat lengan panjang yang lengannya digulung sampai ke siku, membuat Chiara yang memandangnya dari jauh tersenyum dengan wajah tersipu.
Setelah sekian lama tidak bertemu Aaron, apapun yang dilakukan Aaron, apapun yang dikenakan oleh Aaron, sosok Aaron selalu saja membuat Chiara terkagum-kagum.
Bagi Chiara... semua hal tentang Aaron, tampak keren baginya.
"Terimakasih Bu Ida. Nanti aku akan memberitahu Bu Ida jika kami memerlukan bantuan Ibu." Suara Aaron dari arah pintu kamar, terdengar sayup-sayup di telinga Chiara yang sudah kembali berjalan ke arah balkon.
Malam ini langit indah sekali, banyak bintang, bulan bersinar terang. Sepertinya alam pun mendukung kisah cintaku dan om Aaron.
Chiara yang sedang menatap langit, berkata dalam hati sambil melipat kedua tangannya dengan kepala mendongak, membiarkan angin malam menyapu wajahnya.
"Jangan suka melamun...." Suara teguran dari Aaron langsung membuat Chiara menoleh, lalu meringis.
"Apa yang harus dilamunkan sekarang Om? Hari ini semua hal yang aku inginkan sudah terkabul." Perkataan Chiara mau tidak mau membuat Aaron tersenyum dengan sikap canggung.
"Eh, apa itu Om?" Mata Chiara yang melihat ke arah tangan Aaron yang sedang memegang sesuatu langsung terbuka lebar begitu melihat kalau dari bungkusnya dia tahu apa yang sedang dibawa oleh Aaron.
"Ayam goreng... fried chicken... Om Aaron memang yang terbaik." Chiara berkata sambil meraih bungkusan dari tangan Aaron, yang masih terasa hangat.
"Aih... Om Aaron bagaimana bisa tahu kalau aku belum makan karena sibuk di pesta tadi?" Chiara berkata sambil meletakkan bungkusan ayam goreng itu di atas meja, dan mulai sibuk membongkarnya, membiarkan Aaron mengamatinya sambil melipat kedua tangan di depan perutnya, dan senyum juga terus terlihat di wajah Aaron malam ini, merasa ikut bahagia karena Chiara yang terlihat bahagia.