
Aduh…. Bagaimana ini? Ternyata cara tidurmu benar-benar spektakuler my little girl. Kalau begini terus, sampai kapan aku bisa menahan diriku untuk tidak menyentuhmu? Kamu benar-benar terus menerus memancing jiwa laki-laki normalku.
Aaron berkata dalam hati sambil menggigit bagian bawah bibirnya.
Hanya sekedar kaki Chiara yang menyentuh benda pusakanya, tapi itu sudah cukup bagi Aaron untuk membuat gairah dan hasratnya sebagai laki-laki normal bangkit dan membangunkan salah satu bagian dari tubuhnya di bawah sana.
Dan penderitaaan Aaron tidak hanya sampai disitu, karena tiba-tiba saja tanpa sadar, Chiara menggerak-gerakkan kakinya, membuatnya seperti dengan sengaja menggesek-gesekkan kakinya yang sedang berada di atas tubuh Aaron, lebih tepatnya di atas benda pusaka milik Aaron.
Shh… hit, ini benar-benar menyiksaku. Kalau setiap hari harus menghadapi kejadian seperti ini, bisa-bisa aku mati muda karena tersiksa. Chiara... cara tidurmu benar-benar menguji imanku.
Aaron mengumpat dalam hati dengan wajahnya yang terasa begitu panas dan wajahnya yang berubah merah dengan seketika, padahal selama ini boleh dikata, Aaron bukan orang yang dengan mudah mengeluarkan kata-kata umpatan, meskipun itu hanya sekedar umpatan yang dia ucapkan dalam hati.
Sebuah panggilan telepon tiba-tiba membuat tubuh Chiara sedikit tersentak meski tetap dalam kondisi tertidur, dan tanpa disangka-sangka oleh Aaron, setelah Chiara mengelus-elus dada Aaron yang dianggapnya guling, tiba-tiba Chiara menggerakkan tubuhnya, berbalik arah, membelakangi Aaron.
“Huft….” Aaron langsung menarik nafas lega begitu melihat Chiara sudah menjauhkan tubuhnya dari dirinya.
Tangan Aaron langsung bergerak ke arah nakas, berniat mengambil handphonenya yang masih berbunyi, tapi….
“Krak!” Sebuah suara cukup keras membuat Aaron tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah nakas yang hancur karena tanpa sengaja Aaron menekannya dengan kekuatannya.
“Hah!” Mata Aaron langsung terbeliak memandang bagaimana nakas itu hancur tidak berbentuk di lantai karena tenaganya yang tiba-tiba muncul tanpa bisa dia kendalikan lagi.
Sekilas Aaron melirik ke arah Chiara dan langsung menarik nafas lega begitu menyadari kalau suara ribut yang baru saja terdengar tidak langsung membuat Chiara langsung terbangun, meskipun Aaron bisa melihat gerakan pelan dari tubuh Chiara yang menunjukkan tanda-tanda kalau dia mulai terbangun.
Dengan gerakan super kilat, Aaron langsung bergerak merapikan dan mengambil potongan nakas yang hancur, lalu menyembunyikannya di dalam salah satu sisi lemari pakaian miliknya.
Setelah itu Aaron buru-buru kembali ke tempat tidur dan duduk di pinggiran tempat tidur sambil mengangkat panggilan telepon dari Zachary.
“Oahemm….” Dengan santainya Chiara menguap sambil menggeliatkan tubuhnya.
“Hallo.” Suara Aaron yang menjawab panggilan telepon dari Zachary, membuat Chiara yang awalnya menggeliat dan bangun dari tidurnya, langsung membalikkan tubuhnya ke arah Aaron yang duduk di pinggiran tempat tidur dengan posisi membelakanginya.
Melihat sosok Aaron di pagi hari, saat dia pertama kali membuka matanya, membuat Chiara tersenyum dengan wajah begitu bahagia.
Chiara berkata dalam hati dengan posisi tidurnya yang miring, dan matanya menatap ke arah punggung Aaron dengan tatapan terkagum-kagum.
Om Aaronku benar-benar tampan dan juga begitu gagah, tubuhnya sudah seperti patung dewa Yunani yang biasa aku lihat. Betul-betul sempurna… padahal tubuhnya masih tertutup erat dengan pakaian tidurnya. Aist… kenapa aku jadi membayangkan yang tidak-tidak?
Chiara berkata dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya begitu otaknya teringat dengan gambaran patung dewa Yunani dengan posisi telanjang yang pernah dia lihat ketika dia mendapat tugas mempelajari sejarah Yunani.
“Biarkan saja Angelina menyusulku ke sini. Aku tahu pasti kenapa dia melakukan itu. Kamu tidak perlu khawatir Zachary. Aku akan memberikan penjelasan yang ingin dia dengar. Aturkan saja untuk mengatur kepemimpinan disana selama Angelina tidak ada. Aku juga akan mengawasi langsung kegiatan di sana setiap harinya di sini.” Suara Aaron yang menyebutkan tentang nama Angelina, membuat Chiara dengan sigap bangun dari tidurnya, duduk bersila di atas tempat tidur sambil menatap ke arah Aaron tanpa berkedip.
Angelina akan menyusul om Aaron ke Indonesia? Aku tidak salah dengar kan? Wah… apa maunya wanita itu ya? Apa dia berniat untuk menggoda om Aaron? Dan membuat om Aaron kembali ke Amerika. Sebenarnya, apa hubungan om Aaron dengan wanita sekk…ssi itu? Terus terang, aku tidak suka cara berpakaian wanita itu, apalagi cara dia memandang om Aaronku, seperti singa yang berniat menerkam om Aaronku.
Chiara bertanya-tanya dalam hati dengan sikap tidak tenang karena mendengar rencana kedatangan Angelina, yang bagi Chiara sudah seperti seorang istri yang mendengar tentang kedatangan dari wanita yang menjadi kekasih gelap suaminya.
“Tidak masalah, aku tidak keberatasn dengan rencana Angelina. Aku juga ingin tahu apa maunya dia, kenapa dia sampai meninggalkan kantor begitu saja tanpa adanya serah terima, tanpa meminta ijin dariku, dan justru berencana menyusulku ke Indonesia. Nanti kita lanjutkan pembicaraan kita di kantor saja Zachary.” Aaron kembali berkata kepada Zachary.
Dia pasti marah dengan keputusanku untuk kembali menetap di Indonesia. Apalagi aku akan tinggal bersama Chiara selama aku berada di Indonesia. Jika bertemu, aku harus menjelaskan alasanku, agar dia mengerti bahwa kepergianku dari Amerika bukan berarti aku berniat lepas tangan dengan tanggung jawabku untuk melindungi kelompok kami di sana.
Aaron berkata dalam hati sambil menutup panggilan telepon dari Zachary, karena dia sudah mendengar suara menguap dari Chiara, yang menunjukkan tanda-tanda kalau gadis kecilnya itu pasti sudah terbangun dari tidur nyenyaknya.
Untuk saat ini, aku mau fokus untuk segera menemukan cara agar tetap bisa mengendalikan kekuatanku saat berada di dekat Chiara, agar tidak membuatnya justru dalam bahaya saat di dekatku.
Aaron kembali berkata dalam hati seambil menghela nafasnya.
Bagaimanapun ingatan tentang hancurnya nakas tadi saat tiba-tiba kekuatannya keluar tanpa bisa dia kendalikan seperti biasanya, cukup membuat Aaron khawatir.
Untuk hari ini, untung saja itu hanya sebuah nakas, membayangkan jika itu Chiara, membuat bulu kuduk Aaron berdiri, dia benar-benar merasa takut jika sampai suatu ketika, kekuatannya menyakiti dan melukai Chiara.
Dengan sengaja Aaron membiarkan dirinya tetap dalam posisinya setelah menutup panggilan telepon dari Zachary yang memberinya info adanya laporan tentang Angelina yang tiba-tiba saja meninggalkan kantor pusat di Amerika tanpa pemberitahuan kepada yang lain, dan justru memberitahukan kepada Zachary bahwa dia berniat menyusul Aaron ke Indonesia.
Setelah pikiran Aaron merasa lebih tenang, dengan perlahan Aaron menggerakkan tubuhnya kea rah Chiara yang masih dengan setia duduk bersila dan memandang ke arahnya.
“Kamu sudah bangun? Maaf kalau pembicaraanku di telepon dengan Zachary membangunkanmu.” Aaron berkata sambil memandang ke arah Chiara yang sedang menatap lurus ke arahnya, dengan tatapan mata terlihat begitu serius.